JAMBERITA.COM- Demokrasi seyogyanya tidak memberi ruang untuk intimidasi atau kekerasan, namun realita politik Batanghari hari ini berkata lain. Adalah Yunninta Asmara salah satu calon kuat Bupati Batanghari yang mengalami intimidasi (bullying) secara verbal di media sosial.
Salah satu bentuk intimidasi itu adalah upaya penggiringan opini melalui akun FB tentang berbagai situasi yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan tupoksi Yunninta Asmara sebagai anggota DPRD Batanghari.
"Ya saya kasihan lihat ibu Yunninta sering di-bully oleh beberapa orang yang kita tahu latar belakangnya memang berseberangan secara politik dengan ibu, seperti caci maki dengan narasi penipu atau tukang tipu dan lain sebagainya,” ungkap Eva salah seorang warga Bulian (7/4) kemarin.
Bahkan baru - baru ini salah satu akun FB warga secara terang-terangan membandingkan foto dua istri calon Bupati dan wakil Bupati lain dengan ibu Yunninta, lalu mereka tulis sebuah narasi merendahkan .. " Tidak seperti ibu itu YA sereem, " jelas inikan praktek buly dari akun pribadi penguna FB terhadap YA, jelasnya.
"Sekarang ini apapun kerja ibu Yunninta, dibuat salah oleh lawan politiknya. Senyum salah, masuk koran salah, sosialisasi salah, ada jalan rusak salah, warga tak dapat PKH salah, ada orang ngak dapat jabatan salah, honor berhenti salah, jadi kami kasihan dengan ibu,” imbuhnya.
Menurut wanita yang enerjik ini praktek bullying yang dialami Yunninta dilakukan secara sistematis, untuk membunuh karakter ibu YA yang sedang bagus - bagusnya di masyarakat, sehingga mereka melakukan cara picik dan tak terhormat ini.
Menanggapi praktek bullying ini salah seorang praktisi media Ibrahim Tarigan di Jambi (7/4) mengatakan Fenomena bullying dalam media sosial merupakan salah satu sisi negatif digitalisasi yang pesat dewasa ini.
Menurut pria yang berasal dari Bungku Bajubang ini, saat ini media sosial melahirkan jenis pekerjaan baru bagi penggunanya, yaitu buzzer dan Influencer, mereka mempromosikan atau menviralkan sesuatu baik ide atau produk, dan ini dilakukan secara sadar. Hanya saja dalam kasus bullying yang dialami ibu YA masyarakat secara tak sadar menjadi buzzer secara alamiah.
"Orang dalam pilkada tak sadar jika dirinya menjadi buzzer, mungkin karena beda kepentingan, atau beda pilihan, mereka melakukan intimidasi, yang jelas psikologi nya mereka ketakutan, yang ditunjukkan dengan membully, beda dengan buzzer profesional motif nya bisa ekonomi atau niat mempropagandakan calon mereka,” jelasnya.
Sehingga menurut pria yang akrab disapa si Lay ini perilaku Bullying yang di alami Yunninta lebih pada gejala psikologis pesaing takut kalah semata, bukan karena motif lain.(*/sm)
Warga Pemayung ini Sebut Nomor Urut Satu Bagi Paslon Yuninta-Mahdan Simbol Kemenangan
Dukungan Tak Terbendung, Warga Desa Rawa Mekar Teriakkan Yunninta-Mahdan Harga Mati
PTUN Tolak Gugatan Raja Indra, Prof Bahder: Yang Bermasalah Penetapan Calegnya Bukan Hasil Pemilu
Gugatan ke KPU Sarolangun Lanjut, Raja Indra Ajukan Banding ke PT TUN Medan


Sekda Sudirman Buka Rakerda Pramuka 2026: Fokus Evaluasi Strategi, Kaderisasi Pemimpin Muda



