Membaca Gelagat Romi



Sabtu, 22 Februari 2020 - 19:33:49 WIB



Oleh: Amer Muamar(*)

Belakangan nama Romi cukup mendapat perhatian publik. Bukan hanya soal penampilannya yang nyentrik, tapi juga terkait gelagat politiknya menyonsong pilkada Tanjab Timur yang akan datang.

Nama Romi mulai dikenal luas pasca terpilih menjadi Bupati Tanjab Timur lalu. Karir politiknya mulai terlihat ketika terpilih menjadi Ketua DPRD di Bumi Sepucuk Nipah Serumpun Nibung.

Cukup mengejutkan banyak pihak ketika Romi memutuskan untuk maju melalui jalur perseorangan. Sementara dia sendiri merupakan kader murni partai yang memiliki jumlah kursi lebih dari cukup sebagai syarat untuk maju sebagai kepala daerah.

Berbagai spekulasi akhirnya bermunculan terkait langkah Romi. Ada yang menganggap langkah ini sebagai ajang untuk mencuri perhatian publik atau tidak lebih dari pencitraan. Di lain pihak ada yang mengira bahwa Romi melakukan eksperimen. Dengan kalkulasi yang cukup matang, dia ingin membuktikan tanpa dukungan partai bisa berdiri sendiri. Dengan kata lain, Romi yakin jika pencalonannya melalui jalur perseorangan bersamaan dengan dukungan masyarakat banyak. Meski tidak melalui jalur partai politik atau mengacuhkan dukungan partainya.

Spekulasi ini juga dinilai berani dilakukan setelah membaca peta atau lawan politiknya. Dan kebetulan sampai detik ini memang belum ada nama sepadan yang muncul diprediksi bisa bersaing dengan Romi.

Sesuatu yang patut diacungi jempol jika langkah Romi ini lahir dari kemandirian berfikir dan bersikapnya. Di sa'at para calon lain melakukan pendekatan yang begitu intens dengan parpol, di sa'at yang sama justru Romi "menjauh" dari parpol. Terkhusus PAN yang selama ini telah melambungkan namanya.

Maklum, selama ini memang kesan yang muncul, dukungan parpol tidak berbanding lurus dengan dukungan masyarakat. Artinya, kandidat yang didukung parpol belum menjamin mendapat mandat mayoritas masyarakat. Hal tersebut dapat dibuktikan di beberapa daerah calon perseorangan justru berhasil keluar sebagai pemenang. Dalam catatan Tempo, ada sejumlah calon perseorangan berhasil memenangkan pilkada diantaranya pilkada Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, disusul calon perseorangan di Rote Ndou, Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, dan Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Di samping itu juga, dukungan parpol tidak begitu diyakini signifikansinya untuk meraup suara. Dukungan parpol dianggap tidak lebih dari hanya sekedar syarat untuk maju untuk perahu dukungan. Sementara sisanya lebih ditentukan oleh kematangan strategi serta kerja-kerja politik di lapangan.

Ada kesan negatif lain juga terhadap parpol selama ini berkembang. Bahwa untuk mendapat dukungan parpol seorang calon harus mengeluarkan mahar yang cukup besar. Meski telah terbit aturan terkait sanksi pemberian mahar politik namun dalam prakteknya apakah sudah betul-betul hilang atau tidak, tidak ada yang bisa menjamin. Tergantung ketatnya pengawasan dari pihak yang berwenang.

Menarik untuk disimak terkait sikap Romi ini. Berbagai spekulasi pada akhirnya akan terjawab dengan sendirinya. Apakah Romi akan konsisten dengan sikapnya sampai pada titik penghabisan? Atau sifatnya hanya temporer. Publik tinggal nantikan saja episode berikutnya. Terlalu dini jika langsung menilai langkah ini merobohkan sekat, mendobrak domain parpol, atau upaya menciptakan peradaban politik baru di Jambi.(*)



Artikel Rekomendasi