JAMBERITA.COM- Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Sutan Adil Hendra (SAH) mengatakan untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona, Indonesia butuh laboratorium medis yang memiliki peralatan yang bisa mendeteksi infeksi Corona dalam hitungan jam.
Pernyataan ini disampaikan Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi ini ketika menghadiri rapat kerja dengan Menteri Kesehatan Terawan Putranto di Jakarta (3/2) kemarin.
"Semestinya kita sudah memiliki laboratorium medis yang punya peralatan yang bisa mendeteksi infeksi Corona dalam hitungan jam," ungkapnya.
Masalah ini mengemuka ketika surat kabar Australia yakni Sydney Morning Herald (SMH) dan The Age mengungkapkan bahwa laboratorium-laboratorium medis di Indonesia belum memiliki alat atau testing kit untuk mendeteksi infeksi virus Corona atau 2019-nCov dalam hitungan jam.
Menurutnya saat ini untuk mendeteksi adanya infeksi virus Corona, laboratorium-laboratorium di Indonesia harus memeriksa langsung orang yang diduga terinfeksi dan kemudian melakukan proses pengurutan gen. Langkah-langkah ini bisa memakan waktu hingga 6 hari.
"Masalah ini penting karena kalaupun kita sudah memiliki alat untuk medeteksi infeksi virus corona, apakah alat tersebut telah terdistribusi ke seluruh rumah sakit di Indonesia? Karena jika belum semua wilayah memiliki alat yang baik, dikhawatirkan jika ada pasien yang terinfeksi menjadi salah penanganan," tegasnya dihadapan jajaran Kementerian Kesehatan yang hadir dalam rapat tersebut.
Selain itu, anggota dewan yang sukses dengan program beasiswanya itu meminta pemerintah memperketat pengawalan dan pengawasan turis masuk di setiap wilayah di Indonesia, terutama di daerah-daerah wisata yang paling banyak mendatangkan turis China harus lebih diperketat dan diperbanyak tim atau personel pengawalan di airportnya atau di pintu-pintu masuknya WNA.
Pada rapat tersebut SAH juga mengingatkan satwa endemik kelelawar-kelelawar di Indonesia bisa mengandung virus-virus berbahaya, antara lain coronavirus, bufavirus, polyomavirus, alphaherpesvirus, paramyxovirus, dan gammaherpesvirus.
"Di daerah-daerah terutama di desa-desa, buah-buahan yang sebagian sudah dimakan kelelawar atau kalong sering sekali masih dikonsumsi dan diperjual belikan dengan harga yang murah. Buah-buah tersebut juga banyak dicari karena biasanya tingkat kematangannya yang baik dan manis. Padahal, ada kemungkinan dalam buah bekas dimakan kelelawar tertinggal ludah yang menjadi wahana penyebaran virus."
Dalam hal ini SAH menilai butuh sosialisasi ke desa-desa terutama yang terpencil untuk tidak mengkonsumsi buah dan sayur yang ada bekas gigitan binatang terutama kelelawar atau kalong. Karena, masyarakat di pedesaan masih minim informasi, padahal kita tidak boleh kalah cepat melakukan tindakan penyebaran virus Corona tersebut.(*/sm)
MBG Gerakkan Ekonomi Daerah, SAH Ingatkan Dampak Besar Jika Dihentikan
SAH Tinjau Kebun Tembakau Helvetia, Perkuat Komitmen PTPN I dalam Pengembangan Komoditas Bersejarah
Jumat Pertama Muharram 1448 H,SAH Tekankan Nilai Kejujuran,Kerja Keras & Kepedulian Tahun Baru Islam
Gandeng PT Jasa Raharja dan JHACO, Insan Madani Jambi Gelar Berbagi itu Membahagiakan
Menang di Mahkamah Agung RI, Maskur Anang Juga Ancam Pidanakan PT WKS
Kabid PAUD Kota Jambi: Pendidikan PKBM Pilihan Pendidikan Nonformal
Danrem 042/Gapu Hadiri Pemusnahan Barang Milik Negara Hasil Penindakan Kepabeanan dan Cukai

