DPD REI Jambi Bangkitkan Optimisme Sektor Property Kembali Bergairah



Rabu, 05 Februari 2020 - 11:11:21 WIB



JAMBERITA.COM- Gathering Dewan Pimpinan Dewan (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Jambi membangkitkan optimisme di sektor property untuk kembali bergairah pasca krisis di 2014 yang menerpah.

Untuk diketahui, jumlah anggota yang terdaftar di DPD REI Jambi yaitu ada sekitar 153 orang dan 4 Sekretariat tersebar di wilayah provinsi Jambi, yaitu berada di Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Sarolangun dan Merangin.

Ketua DPD REI Provinsi Jambi Ramond Fauzan mengatakan sesuai dengan judul yang mereka usung Jambi Property Outlook 2020 yang artinya bagaimana antara pelaku usaha dengan pihak terkait dapat menyamakan persepsi serta melihat peluang kedepan.

"Tentu saya selaku pengurus harus memberikan informasi kepada kawan kawan harus seperti apa, apakah harus lari kencang, apakah harus hati-hati," ujarnya setelah menggelar talk show bersama Kepala BI dan OJK di salah satu hotel di Kota Jambi,Selasa (4/2/2020).

Ramond mengakui memang pada tahun 2014 sektor properti mengalami krisis, untuk itu mereka mengandeng Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Jambi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencari solusi sehingga sektor tersebut kembali bergairah lagi.

"Karena krisis jadi yang tumbuh itu hanya properti di sektor dasar rumah subisidi, rumah komersial nya mati, sekarang dengan indikator ekonomi nya mulai agak baik," tuturnya.

Mudah-mudahan kata Ramond, di 2020 dapat memberi sinyal menjadi lebih baik sehingga properti dirumah komersial itu diharapkan dapat tumbuh disatu dua tahun kedepan."Makanya kami disini berdiskusi, peluang properti di 2020 kedepan seperti apa," ujarnya.

Romond menambahkan bahwa memang setiap kali menggelar Gathering, REI selalu melibatkan pihak perbankan dan mewacanakan apa yang akan perlu disampaikan, seperti misalanya bagaimana perbankan itu dapat membuat produk produk pengganti Subsidi.

"Kebetulan pada saat ini kita juga lagi mendorong nih, bagaimana pihak perbankan itu bisa memberi atau membuat produk produk pengganti subsidi ini," sebutnya.

Itu karena sumber atau dana pemerintah untuk memberi subsidi itu berkurang sementara masyarakat butuh rumah sedangankan untuk kuota tidak ada, artinya kata Ramond mereka harus bisa mencari celah bagaimana caranya bisa membuat produk yang hampir mirip sehingga masyarakat mampu untuk menyicilnya.

"Sebenarnya itu yang mau kami akan sampaikan tadi, kepada pihak-pihak perbankan yang ada," ungkapnya.

Lebih lanjut Ramond mengatakan, khususnya kuota Provinsi Jambi setelah mereka telusuri mulai dari BTN yang biasanya tahun lalu mendapatkan 3.300 kuata dan saat ini hanya 500 kuata, Bank Jambi 1300 kuata, BRI Syariah dan Mandiri sekitar 300-400 kuata.

"Sebenarnya kalau dari 2018 itu kita sampai 6 ribuan totalnya 2019 langsung turun, jadi ini PR kami di sektor properti tentu kami butuh support semangat dari sektor ini agar bisa lebih bergairah lagi," terangnya.

Satu sisi menurut Ramond karena memang bahwa industri properti ini adalah investor yang mendatangkan uang dari Jakarta ke Jambi yang digunakan pelaku usaha dalam memenuhi material mulai dari tanah, pasir, batu sampai dengan gaji para pekerja (orang).

"Artinyakan banyak yang dihidupi, nah ketika duitnya mengalir di Jambi tentu perekonomian nya jadi jalan, daya beli masyarakat tumbuh sehingga juga sektor lain pun juga akan bergerak, jadi saya rasa malam ini kita berdiskusi bagaimana cara kita bersama-sama meningkatkan perekonomian," jelasnya.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi Bayu Martanto menyatakan diskusi dalam pertemuan kali ini mereka ingin membangun persepsi positif untuk melihat pertumbuhan ekonomi ke depan di Jambi, khususnya terkait sektor property dan kaitannya dengan pembiayaannya.

"Kita lihat ada beberapa indikator semuanya cukup bagus dan ada peluang untuk bisa lebih maju lagi, khususnya dalam pembiayaan properti untuk bisa memberikan kontribusi terhadap Groot atau pertumbuhan kredit secara total, karena harapannya bisa menjadi pendorong ekonomi di Jambi," katanya.

Dari itu dalam agenda diskusi dan pertemuan antara perbankan sebagai pembiayaan dan pelaku industri properti tersebut, mereka secara bersama sama pemerintah daerah (Pemda) agar dapat menyamakan pandangan serta melihat peluang optimistis kedepan.(afm)







loading...