Dengan Harta, Hidup Akan Menjadi Bahagia atau Akan Menjadi Sengsara



Jumat, 22 November 2019 - 10:44:32 WIB



Oleh: Ikram Syah, Dhini, Caca, Merry dan Rizal

 

“Setiap orang sering mengatakan ingin bahagia”. Tetapi apa sebenarnya arti kebahagiaan itu sendiri dan dimana bisa  menemukannya?  Keinginan untuk bahagia sering tidak terwujud karena seseorang hanya mengharapkan kebahagiaan tanpa pernah mengetahui arti dan cara untuk mendapatkannya. Ada yang mengatakan kalau ingin bahagia harus kuliah tinggi-tinggi, memiliki uang atau harta yang  banyak, menikah dengan istri yang cantik, mempunyai anak yang lucu-lucu, dan lain sebagainya.

Benarkah demikian? Kebahagiaan memang menjadi sesuatu yang paling dicari sekaligus yang paling sulit dipahami.

Lalu dimanakah bisa menemukan kebahagiaan?

Apakah kebahagiaan hanya bisa diduga-duga?

Orang miskin mengira kalau kenikmatan terletak pada kekayaan. Orang sakit beranggapan kebahagiaan bisa diperoleh bila sudah sehat. Orang yang tidak sekolah menilai kebahagiaan sama dengan pendidikan yang tinggi. Orang biasa menyangka kebahagiaan sama dengan ketenaran. Para yang tidak punya kekasih alias (jones) berasumsi kebahagiaan datang bila memiliki kekasih.

Ada yang juga menduga bahagia bisa dicari dengan Traveliing,shopping, karokean, atau makan-makan dan lain sebaganya. Saat belanja-belanja mungkin bisa bahagia sesaat, namun setelah selesai shopping mengapa kebahagiaannya tiba-tiba lenyap? Uang udah habis, padahal masih di awal bulan.tentunya Masih banyak beranggapan tentang kebahagiaan yang terlihat begitu nikmat sehingga semua orang berusaha mengejarnya demi mencari sebuah kebahagiaan.

Kebahagiaan tidak perlu dicari jauh-jauh karena sebenarnya bisa ditemukan di dalam hati kita. Kebahagian tidak ditentukan oleh orang lain atau materi yang kita miliki tetapi kebahagiaan ditentukan diri manusia itu sendiri. Tingkat kebahagiaan berbanding lurus dengan hati yang penuh syukur karena bersyukur menimbulkan sensasi kenikmatan yang mengagumkan. Sebaliknya lalai bersyukur dan suka mengeluh hanya menimbulkan kesusahan karena beban pikiran negatif yang menghimpit.

Maka sebaiknya kita harus  bersukur terhadap apa yang telah kita peroleh  dengan bersyukur. Kita sadar bahwa nikmat tersebut adalah pemberian dari yang Maha Kuasa, dalam menjalankn  ketaatan kapada Allah Swt  dan tidak menyebabkan mereka sombong dan lupa kepada yang memberikan nikmat tersebut. Dan barang siapa yang mensyukuri nikmat-Nya, maka Allah pun akan membalasnya. Sebagaimana firman Allah Swt:

?????? ????????? ????????? ?????? ?????????? ???????????????? ? ???????? ?????????? ????? ???????? ?????????

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q S Ibrahim 7)

 

Kedudukan harta dalam islam

Menurut Drs.K.H. Yakhsyallah Mansur,M.A  Harta dalam bahasa Arab disebut al-maal yang berasal dari kata ????? – ???????? – ??????? yang berarti condong, cenderung, dan miring.Harta menurut syariat: segala sesuatu yang bernilai, bisa dimiliki, dikuasai, dimanfaatkan yang menurut syariat yang berupa (benda dan manfaatnya).

Drs.K.H. Yakhsyallah Mansur,M.A  berpendapat tentang  keberadaan harta, manusia diharapkan memiliki sikap derma yang memperkokoh sifat kemanusiannya. Jika sikap derma ini berkembang, maka akan mengantarkan manusia kepada derajat yang mulia, baik di sisi Tuhan maupun terhadap sesama manusia.

Status harta yang dimiliki manusia

  1. Harta Sebagai Titipan Dari Allah Kedua Manusia Tidak Dapat Mengadakan.
  2. Harta Sebagai Perhiasan Hidup yang Memungkinkan Manusia Menggunakannya. dengan Baik dan Tidak Berlebih-lebihan.
  3. Harta Sebagai Ujian Keimanan.
  4. Harta Sebagai Bekal Ibadah.
  5. Harta Sebagai Penyelamat Azab Allah.

Selanjutnya harus kita ingat dalam Hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kita bahwasanya, kelak di hari kiamat setiap Bani Adam (manusia) akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai 5 (lima) perkara, diataranya adalah tentang:

  1. Umurnya
  2. Masa mudanya
  3. Hartanya (dari mana ia dapatkan)
  4. Hartanya (dalam hal apa ia belanjakan)
  5. Ilmu yang dimilikinya

 (HR. at-Tirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 Hadits no. 9772 dan Hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-AHadits ash-Ashahihah no. 946)

 

Penulis adalah: Hahasiswa Universitas Jambi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.



Artikel Rekomendasi