Keterpurukan Lada Indonesia



Selasa, 22 Oktober 2019 - 12:24:06 WIB



Oleh: Adinda Hermambang*

 

Rempah-rempah pernah menjadi salah satu barang berharga di dunia yang harganya setara dengan emas. Lewat rempah-rempah, tercipta berbagai cerita sejarah, jalur perdagangan, monopoli pasar, sampai awal mula terjajahnya Nusantara. Salah satu rempah yang menjadi saksi bisu cerita-cerita tersebbbut terjadi adalah lada. Lada –yang mempunyai sebutan King of Spice– adalah sebuah rempah yang biasanya menjadi bagian resep masakan yang akan menambahkan cita rasa makanan.

Tanaman lada - Antara/Marini Sipayung

Rempah yang mempunyai nama latin Piper ningrum ini merupakan salah satu komoditi yang mempunyai peranan penting dalam perdagangan internasional. Dari dulu hingga sekarang, aktivitas perdagangan lada di pasar dunia masih terus berputar. Hal ini dapat dilihat dari berlangsungnya kegiatan ekspor dan impor yang terjadi di antara negara-negara eksportir dan importir lada pada saat ini. Situs tridge.com mencatat bahwa total nilai ekspor dan impor lada saat ini mencapai US$ 1,32 miliar.

Amerika Serikat menjadi negara importir lada terbesar. Pada tahun 2018, Amerika Serikat tercatat mengimpor lada sebanyak 60,24 ribu ton atau setara dengan US$ 237,33 juta. Sedangkan negara eksportir lada terbesar saat ini adalah Vietnam yang tercatat mengekspor lada sebanyak 120,38 ribu ton atau setara dengan US$ 457,7 juta. Vietnam menguasai ekspor lada dunia sebesar 34,7 persen.

Sepak terjang lada di Indonesia sendiri tidak hanya berlangsung pada masa lalu. Hingga kini, Indonesia masih menjadi produsen lada dunia.  Jika melihat sedikit ke belakang, bahkan pasokan lada Indonesia di pasar dunia mencapai 60-80 persen. Menurut data dari International Pepper Community (IPC), Indonesia berada di tingkat pertama eksportir lada dunia sampai tahun 2005. Kemerosotan lada Indonesia dimulai pada tahun 2006. Posisi Indonesia sebagai eksportir utama secara perlahan disalip oleh Vietnam.

Lada di Indonesia

Bangka Belitung. Provinsi satu ini berada di Barat Indonesia. Wilayahnya terdiri dari dua pulau utama serta ratusan pulau-pulau kecil. Terkenal akan keindahan pantainya dan juga sebagai daerah penghasil timah. Di samping itu, ternyata Belitung merupakan daerah penghasil lada terbesar di Indonesia.

Bangka Belitung memproduksi lada putih yang dikenal dengan nama lada putih Muntok. Menurut data yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi lada di Bangka Belitung pada 4 tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada tahun 2015, produksi lada hanya mencapai angka 31.408 ton hingga pada tahun 2018, Bangka Belitung menghasilkan lada sebanyak 34.812 ton atau menyumbang kontribusi sebesar 39,24 persen dari seluruh produksi lada nasional.

Selain lada putih, tentunya Indonesia juga menghasilkan lada hitam. Lampung menjadi wilayah penghasil lada hitam terbesar di Indonesia. Jika lada dari Bangka Belitung dikenal dengan nama lada putih Muntok, maka lada dari Lampung dikenal dengan nama Lada Hitam Lampung. Namun berbeda dengan lada putih Muntok, BPS mencatat produksi lada hitam Lampung mengalami penurunan produksi dalam 4 tahun terakhir. Jika pada tahun 2015 Lampung mampu menghasilkan lada sebanyak 14.860 ton, lain halnya pada tahun 2018 yang hanya menghasilkan lada sebanyak 13.754 ton atau sekitar 15,5 persen dari seluruh produksi lada nasional.

Sumber: BPS (diolah)

Kenapa Terpuruk?

Jika dilihat secara keseluruhan, total produksi lada di Indonesia memiliki tren yang meningkat dalam 10 tahun terakhir. Namun peningkatan produksi ini tidak dibarengi dengan peningkatan harga lada.

Penurunan harga komoditi lada tejadi dalam dua tahun terakhir. Kementerian Perdagangan mencatat bahwa tahun 2017 harga lada menembus angka Rp120 ribu per kilogram.  Sedangkan harga lada per September 2019 tercatat hanya Rp48 ribu per kilogram. Harga lada Indonesia ini berada di bawah harga lada dunia. Di waktu yang sama harganya mencapai US$ 4,3 atau setara dengan Rp60.776 (kurs US$ 1 = Rp 14.134).

Anjloknya harga lada ini dicurigai terjadi karena ketersediaan lada yang melimpah di tingkat global. Di lain pihak, pertumbuhan konsumsi masyarakat tidak setinggi pertumbuhan produksinya. Seperti yang dikatakan Staf Ahli bidang Hubungan Internasional Kementerian Perdagangan Arlinda yang dikutip dari laman mediaindonesia.com, “Persoalan yang terjadi sekarng memang supply lada di dunia jauh lebih besar. Produksi memang terus meningkat, rata-rata 7 persen per tahun. Angka konsumsi sebetulnya juga naik, namun hanya 2 persen per tahun.” Ilmu ekonomi menyatakan harga komoditas dipengaruhi oleh interaksi antara supply (penawaran) dan demand (permintaan) yang berlaku di pasar. Apabila supply naik namun demand konstan, maka harga komoditas akan turun, dan berlaku pula sebaliknya.

Para petani mengeluhkan harga jual lada saat ini tidak mampu menutupi biaya produksi, yang mencapai Rp80 ribu per kilogram. Ditambah banyak petani yang menggantungkan hidupnya dengan berkebun lada. Kondisi harga lada saat ini memaksa mereka beralih ke tanaman lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pemerintah tidak hanya diam dan berupaya untuk menghadapi permasalahan ini. Kementerian Perdagangan berupaya membantu para petani lada membuka pasar-pasar baru. Jika dahulu Indonesia hanya mengekspor ke India, Vietnam, Sri Lanka, Belanda, dan Amerika Serikat. Namun sekarang, Negara lain seperti Maroko, Tunisia, dan beberapa negara di Timur Tengah juga mulai mengimpor lada dari Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya volume ekspor lada pada tahun 2018 sebesar 47,6 ribu ton setelah sebelumnya hanya sebesar 42,6 ribu ton.

Di tingkat global, lima negara yang tergabung dalam IPC juga akan mengadakan pertemuan pada bulan November mendatang untuk membahas harga lada dunia., “Pertemuan tahun ini nanti di bulan November, dan Vietnam sebagai produsen utama tuan rumahnya. Topik yang menjadi focus utama dari pertemuan negara anggota IPC adalah untuk stabilisasi harga,” tutur Flora Susan, Kepala Subdirektorat Organisasi Komoditas, Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, yang dikutip dari laman antaranews.com. “Negara-negara produsen anggota IPC meliputi 73 persen dari produksi lada di dunia. kalau negara tersebut bisa meningkatka konsumsinya, harapannya bisa menstabilisasi harga lada dunia,” tambah Flora.(*)

Penulis adalah: Mahasiswa Politeknik Statistika STIS*



Artikel Rekomendasi