Tren Hijrah Generasi Milineal, Mencari Identitas atau Pelariankah ?



Selasa, 22 Oktober 2019 - 11:25:25 WIB



Oleh: Nanda Pratama*

Indonesia adalah negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di seluruh dunia. Pada saat ini diperkirakan bahwa jumlah umat Muslim mencapai 207 juta orang, sebagian besar menganut Islam. Kendati mayoritas penduduk beragama Islam, tetapi negara ini bukanlah negara Islam yang berdasarkan pada hukum-hukum Islam.

Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ) Jakarta, Dr Nur Rofiah. menjelaskan hijrah adalah berpindah dari keadaan yang semula buruk menjadi keadaan yang baik, dari kondisi yang sudah baik menjadi kondisi yang lebih baik. 

Menurut seorang Psikolog Sosial dari Universitas Indonesia, Mirra Noor Mila, hijrah adalah bentuk transformasi identitas yang menjadi tren di kalangan millennial, karena disebarkan oleh banyak pengaruh melalui media sosial.

Jadi hijrah merupakan suatu proses terus-menerus untuk memperbaiki diri secara berkelanjutan, memperbaiki cara pandang, dan memperbaiki etika berkomunikasi serta bersikap.

Maraknya trend hijrah di kalangan anak muda Indonesia, hal ini mayoritas banyak di temukan di kalangan mahasiswa sampai ke artis-artis.

Menjamurnya kaum muda berusia 18-20-an atau yang baru memasuki perguruan tinggi sedang di landa transformasi mental hal ini cenderung mencari identitas yang 'benar' untuk diikuti.

karena trend kata hijrah sedang disebarkan secara luas baik buku-buku bacaan, vidio pendek di YouTube, sampai media massa seperti IG, FB, Twitter, sampai ke story WA di banjiri dengan informasi seputaran Hijrah dan hal ini dilihat sebagai sesuatu jalan yang benar . Anak-anak muda kemudian akan mengikuti apa pun yang menjadi kesamaan, hanya karena hal itu memberi perasaan aman, kepastian, dan perasaan 'saya mengubah diri saya menjadi sesuatu yang benar'.

Saat ini hijrah sedang diidentifikasi melalui perubahan gaya hidup seseorang, karena mereka sekarang hidup berdasarkan norma dan aturan Islam sebagai bagian dari transformasi identitas.

Mulai dari gaya hidup mencakup lingkungan bermain, buku bacaan, sampai dalam mengaktualisasikan prilaku sehari-hari dalam membagikan berita mayoritas seputar hal-hal yang mempengaruhi pikiran mereka dalam proses berhijrah.

Dalam transformasi identitas seperempat masa kehidupan, mayoritas generasi z merasa bahwa fase kehidupan ini menyebalkan dan penuh kebingungan.

Selama fase mencari identitas, itu bisa membuat stres di tambah kegagalan mereka dalam menjalin hubungan sehingga mereka berpikir tidak adanya kepastian serta orang yang bisa di jadikan panutan bagi dirinya.

Itu sebabnya, agama dan gerakan 'hijrah' di jadikan sebagai pelarian yang sangat membantu untuk memberikan rasa aman bagi para pencari identitas, karena itu menjadi sesuatu yang bisa diandalkan bagi mereka.

Jadi, ya, itulah sebabnya hijrah berkaitan erat dengan keadaan emosi seseorang karena membawakan pencerahan umpama melihat segenang air di tengah Padang pasir bagi mereka yang kehausan. banyak orang menganggap bahwa hijrah adalah kenyamanan spiritual.

Sementara berhijrah dapat diterima di Indonesia di karenakan mayoritas agama di Indonesia adalah umat islam. tetapi sebaliknya muncul tantangan yang mungkin dihadapi oleh generasi milenelial Indonesia dengan gerakan hijrah ini. Meskipun hijrah dipandang oleh banyak kelompok sebagai sesuatu yang positif, itu juga dapat berpotensi membahayakan masyarakat kita.

jika orang yang melakukannya akan memaksa orang lain untuk melakukan hal yang sama, adapun berbagai fenomena yang terjadi di tengah masyarakat yang sering melabeli gerakan hijrah sebagai gerakan separatis, hijrah juga dilihat sebagai gerakan yang mengarah ke radikalisme dan hijrah bisa menjadi salah satu alasan untuk mengurangi tingkat toleransi dalam masyarakat.

Tidak apa-apa untuk memiliki pendapat yang berbeda. Agama, Jalan hidup, Rutinitas pagi, Hobi, Film, Daftar putar lagu, Warna favorit. Cara anda makan siang atau sarapan. Tidak masalah untuk memiliki perbedaan karena kita dilahirkan untuk berbeda. yang berbeda jangan di sama-samakan, yang sudah sama jangan di cari perbedaan nya. Apalagi sampai menentukan surga atau neraka bagi orang lain.

Fastabiqul Khoirot.(*)


Penulis adalah: Sekretaris Umum DPD IMM prov Jambi*



Artikel Rekomendasi