Resmi Jadi Rektor UIN Jambi, Berikut Profil Prof Suaidi Asy'ari



Senin, 21 Oktober 2019 - 19:37:50 WIB



Prof Suaidi Asy'ari dan keluarga
Prof Suaidi Asy'ari dan keluarga

JAMBERITA.COM - Prof. Dr. H. Suaidi Asy'ari, MA., Ph.D adalah seorang guru besar di Universitas Islam Negeri STS Jambi. Saat ini, dia juga menjabat sebagai Rektor UIN Jambi. Dari seluruh karirnya, Su'aidi tidak bisa lepas dari kampus yang berada di Mendalo, Muarojambi tersebut.

Dimulai dari Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi, hingga saat ini menjadi orang nomor satu di Kampus yang sekarang sudah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) STS Jambi. Kisah panjang si anak desa, yang jatuh bangun kerja serabutan untuk bisa menyelesaikan S1 nya, hingga menjajaki kaki di Eropa tersebut tidak mudah. Usaha tak akan pernah mengkhianati hasil, kini Su'aidi siap mengabdi di Alamamaternya sendiri.

Jika mengingat masa kecilnya dulu, siapa yang sangka Suadi Asy’ari bocah kecil dari kampung tersebut akan mampu menjadi rektor. Bahkan mampu menyelesaikan pendidikanya di Universitas ternama di luar negeri. Jatuh bangun perjuanganya, hingga pada posisinya saat ini tentu bukan hal yang mudah.

Sebelum menjadi orang yang terpandang dan sukses, Suaidi hidup secara pas-pasan. Sedari kecil Suaidi sudah mandiri, cebolan SDN 1 Sei Manau ini meneruskan sekolahnya di MTSN Bangko, yang notebenenya jauh dari dusunya Sungai Manau.

Tamat MTSN, Suaidi kecil kembali merantau lebih jauh. Suaidi melanjutkan pendidikan di SMA N 5 Kota Jambi. Jauh dari orang tua, membuat Suaidi menjadi sosok yang tegar dan kuat. Antusias pendidikanya sangat tinggi, Suaidi bercita-cita ingin menjadi pendakwah Internasional.
Awal masuk kuliah, Suaidi mengambil Fakultas Tarbiah Jurusan Bahasa Inggris. “Saat ditanya kenapa saya ambil bahasa inggris, saya bilang karena saya ingin bisa bicara bahasa luar. Saya ingin menjadi pendakwah dan penceramah,” cerita Suaidi.

Namun, pada tahun 1984 dirinya disarankan oleh dosennya untuk pindah ke Fakultas Ushuluddin jika ingin menggapai sebuah keinginannya. Karena baginya ilmu duniawi harus diimbangi dengan ilmu agama. “Ilmu tanpa agama itu buta, dan agama tanpa ilmu itu lumpuh. Maka saya saat itu, tahun 1984 kalau tidak salah, masuk Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi,” tambahnya.

Semasa kuliah, Suaidi Asy’ari sangat aktif dan lincah. Tidak hanya berfokus pada pendidikan formal dibangku perkuliahan saja. Suaidi juga akif di organisasi untuk menempa jati diri dan karakternya. Selain itu, Suaidi selalu melakukan diskusi dengan teman-temanya. Suaidi juga aktif ikut kursus memperlancar bahasa inggrisnya.

Disela semua agenda pendidikanya tersebut, Suaidi juga masih sempat bekerja untuk menambah uang kuliah. “Saya juga kerja, bahkan pernah jadi kernet mobil angkot. Itu untuk menambah kebutuhan biaya kampus dan makan. Meski keluarga saya termasuk cukup, saya tidak ingin menyusahkan kedua orang tua saja,” ujar Suaidi.

Semua usahanya tidak sia-sia, menempuh pendidikan S1 di Ushuluddin, Suaidi berhasil meraih prestasi dengan predikat terbaik. Yaitu orang yang kedua kalinya menulis skripsi dalam bahasa inggris di Fakultas Ushuluddin. Usai mendapatkan gelar S1, pada tahun 1990 Suaidi melamar sebagai dosen di UIN yang kala itu masih menjadi IAIN STS Jambi namun gagal. Kemudian di tahun 1991 kembali mengikuti uji coba menjadi seorang dosen, lagi-lagi gagal.

“Dua kali saya melamar menjadi dosen selalu gagal dan tak pernah lolos,” ucapnya. Bukan Su'aidi jika menyerah begitu saja, titik balik dalam kehidupannya terjadi pada tahun 1992. Tahun itu, Suaidi kembali mengikuti pembibitan dosen di Jakarta. Dan ia adalah orang yang lolos dari 30 orang yang ikut pembibitan dosen tersebut. Kemudian, Suaidi langsung berangkat ke Jakarta untuk mengkuti ujian. Dan berhasil, Suaidi langsung diangkat menjadi salah satu dosen di IAIN STS Jambi.

Dari sanalah takdir Allah, dan juga perjuanganya mulai membuahkan hasil. Saat menjadi dosen, Suaidi ingin terus melanjutkan pendidikanya. Yang mana Suaidi kemudian ikut tes beasiswa S2, namun sayang saat itu dirinya tidak lulus. “Sudah pernah tes namun gagal, padahal nilai saya sama dengan teman yang lainnya. Pertama memang saya gagal namun usaha keras menjadi hasil yang memuaskan,” jelasnya.

Pada tahun 1997, Suaidi lulus untuk S2 di Kanada. Disana, dirinya tinggal disalah satu apartemen. Meski di luar negeri, Suaidi tetap aktif dalam mengikuti sebuah organisasi. Selain itu, dirinya juga bertemu dengan orang penting yang ada disana seperti peneliti islam di dunia. “Dua bulan sebelum masa beasiswa saya selesai. Perkuliahan saya sudah selesai dan dalam waktu dua bulan tersebut saya bisa menikmati keindahan di luar negeri,” cerita dia.

Su'aidi lulus dari McGiil Kanad jurusan Islamic Studies tahun 1999. Dalam pengabdiannya di UIN STS Jambi, mulai dari sebagai dosen, lalu Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pembantu Rektor. Suaidi masih sempat meneruskan pendidikan S3 di The Univ Of Melbourne Australia. Tahun 2007, Su'aidi sukses menyelesaikan S3 nya dan mendapat gelar Ph.D. Tak berselang lama, dirinya langsung mengambil gelar profesornya di UIN Syarif Hidayatullah di Jakarta. Sebelum akhirnya dilantik menjadi Rektor UIN STS Jambi Oktober 2019 ini.

"Great man talks about ideas. Small man talks about people. Very small man talks about themselves. Orang besar bicara tentang gagasan. Orang kecil berbicara tentang orang lain. Orang sangat kecil (ke mana-mana) berbicara tentang dirinya sendiri," ungkap Suaidi.

Gagasan demi gagasan terus dimunculkan Su'aidi selama mengbdi di UIN STS Jambi. Baik sebagai dosen, Dekan, maupun Pembantu Rektor. Usaha dan kontribusinya jugalah yang menjadikan status IAIN menjadi UIN STS Jambi.

Dari semua Perjuangan dan kerja kerasnya. Suaidi selalu percaya usaha tak akan Pernah menghianati hasil. Tak lupa doa, dan ketentuan dari Allah SWT lah yang menjadikanya seperti saat ini. "Yang terpenting juga adalah, jangan pernah mendahului nasib, karena sesungguhnya takdir Allah itu terjadi dipenghujung segala usaha maksimal seorang hamba," tutup Su'aidi. (am)









loading...