Rapat Penanganan Karhutla, Kapolda Jambi: Rubah Pola Pencegahan



Jumat, 20 September 2019 - 17:40:28 WIB



JAMBERITA.COM - Kapolda Jambi Irjen Pol Drs Muchlis As MH menghadiri rapat penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Aula Rumah Dinas Gubernur Jambi, Kamis (19/9/2019).

Dalam rapat tersebut, hadir Gubernur Jambi, Danrem/042 Gapu, para Bupati Walikota, Kapolres, Dinas terkait dan para pihak terkait lainnya.

Menurut Kapolda persoalan karhutla semua Stakeholder harus dapat merubah pola dalam pencegahan sebelum terjadinya kebakaran yang akan berdampak pada kabut asap seperti sekarang ini yang dirasakan.

"Memang kalau kita menunggu proses seperti kemarin (2019) kebakaran sudah mulai dari Februari, tapi kan untuk menentukan siaga darurat harus ada tiga kabupaten yang terbakar dulu?" ungkapnya dalam rapat tersebut.

Konsep awalnya saja itu sudah sedikit lamban dalam pencegahan Artinya kedepan kata Muchlis, pola itu harus dirubah jika DPRD menyebutkan adanya anggaran tak terduga ataupun mungkin dana bagi hasil dari pusat yang dapat digunakan untuk kepentingan ini, harus dimulai dari pola preventif.

"Jadi Januari 2020, sudah mulai (pencegahan) bagaimana menciptakan ketahanan masyarakat bersama-sama, menjadikan pembukaan lahan dengan cara tidak membakar, kemauan ini saja sudah cukup," katanya.

Belum lagi pelaku-pelaku yang sengaja bisa melakukan untuk kepentingan pribadi atau melakukan seperti yang dibeberkan pihak terkait dalam rapat di Menko Polhukam waktu lalu, itu di Riau ada yang sengaja membakar.

"Itu diminta oleh perusahaan, kau bakar perusahaan ini, rambat ke perusahaan saya, saya kasih uang, anak istrimu saya hidupin, jadi tumbalnya 1 orang, tapi sebarannya ke perkebunan," tuturnya dalam menirukan.

Muchlis menegaskan untuk di Jambi pihaknya kini sudah menahan 19 orang dan akan ada beberapa perusahaan yang dilakukan penelusuran, bedanya penahanan terhadap pelaku perorangan itu karena tertangkap tangan pada saat itu, atau setelah kejadian itu ditemukan ada beberapa alat bukti dan saksi.

"Tapi kalau perusahaan, kita harus tahu dulu, biasa kalau kita datang api sudah berhenti, atau sekarang kita masuk ke perusahaan api nya masih menjalar, kita nggak bisa masuk," terangnya.

Mengungkap dugaan terhadap perusahaan itu juga kata Muchlis tidaklah gampang dan harus mendatangkan para saksi ahli sehingga menjadi salah satu faktor kendala dalam penelusuran bagi mereka.

Dari itu pihaknya menyarankan kepada Menko Polhukam waktu itu, kalau bisa saksi ahli ini di bayari oleh negara, nanti ketika dibutuhkan oleh kepolisian maka saksi ahli tinggal datang.

"Kita nggak perlu bayar, karena saksi ahli ketika didatangkan mendatangkan mereka, itu mulai dari pesawat, nginap dan biaya per jamnya ada semua dan bukan murah," tegasnya.

Makanya pada watu rapat di menko Polhukam bersama Sekda, Danrem dan Gubernur Jambi, Muchlis menyampaikan bencana ini dalam keadaan situasi yang tidak biasa, karena penyidik kesulitan untuk menghadirkan saksi ahli.

"Ada 6 saksi ahli, mulai dari ahli cuaca, ahli lingkungan, ahli kesehatan, kordinadinat dan lainnya. Kalau kita ujuk-ujuk nangkap orang perusahaan kita belum tahu sumbernya, kita tidak bisa juga," tuturnya.

Contoh, hari ini (19/9) tim lagi berada dilokasi tidak bisa masuk, karena jangan kah mau masuk badan, helikopter saja tidak boleh mendekat itu diatas (udara) bayangkan di bawah, seperti apa. "Jadi kalau ada yang menyatakan, ayo tangkap-tangkap, tidak mudah seperti itu," jelasnya.

Muchlis mengulas kejadian di Riau 2015 lalu Kapolda dicopot karena 6 tersangka nya bebas semua dan 2015, di Jambi, PT Atga sampai ke Pengadilan P21 setelah disidangkan ternyata bebas juga.

"Jadi memang ini adalah kerja kita semua, ke depan ada pola pencegahan dari awal, kami sampaikan tadi bagaimana memberikan pengetahuan kepada masyarakat, ayo kita buat pertahanan diri bersama-sama mencegah kebakaran, mulai dari masyarakat LSM NGO pemerintahan daerah TNI/Polri," jelasnya.

Kalau sekarang sudah seperti ini (kabut asap) hanya kuasa tuhan yang bisa menghentikannya. Karena Kalau itu merambatnya di lahan gambut tipis, asapnya kecil kecil, tetapi kalau merambat di hutan merbak begitu terkena pohon tinggi api seperti ular menjalar ke atas.

"Bagaimana kita mau mendekat, water bombing tidak efektif itu adalah kita gunakan sebagai sistem sebar, 4 kubik itu kalau disebar, begitu sampai ketanah, air sudah seperti embun padahal itu 4 meter didalam tanah (gambut) itu adalah api," jelasnya.

Sekali lagi Muchlis mengajak semua elemen masyarakat harus bersinergi dalam melakukan pencegahan Karhutla yang dilakukan secara luar biasa, elemen masyarakat, pemerintah daerah, dewan pemangku kepentingan, ikut bersama bersama sama.

"2020 harus dimulai dari pola pencegahan, kalau tidak kita akan jadi pemadam kebakaran, sberapa mampu kita,? tenaga kita, alat kita, tidak mampu menghadapi ini," pungkasnya.(afm)





Artikel Rekomendasi