JAMBERITA.COM - Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan yang "diam-diam mematikan", terutama bagi kelompok lanjut usia (lansia) yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan. Menanggapi serius ancaman ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posko 09 Universitas Baiturrahim (UBR) menggelar aksi edukasi kesehatan yang menyasar jamaah pengajian di Desa Arang-Arang, Jumat (23/01/2026).
Melalui program bertajuk “Lansia Ceria”, para mahasiswa berupaya mengubah kekhawatiran masyarakat menjadi optimisme melalui pemahaman medis yang benar dan langkah pencegahan yang tepat.
Banyaknya mitos yang beredar membuat penyakit TBC seringkali dianggap sebagai penyakit keturunan atau bahkan guna-guna, sehingga penanganannya kerap terlambat. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ns. Dwi Yunita Ramadhani, M. Kep, mahasiswa Posko 09 meluruskan fakta-fakta penting mengenai penyakit ini.
Dalam penyuluhan yang berlangsung hangat dan komunikatif, mahasiswa menekankan tiga poin utama.
1. Deteksi Gejala Dini bahwa TBC bukan batuk biasa. Warga diajarkan mengenali gejala khas seperti batuk berdahak terus-menerus, keringat malam tanpa aktivitas, hingga penurunan berat badan secara drastis.
2. Cara Penularan: Edukasi mengenai pentingnya etika batuk dan penggunaan masker untuk melindungi anggota keluarga lain dan
3. Lingkungan yang Sehat: Pentingnya pencahayaan matahari dan ventilasi rumah yang baik, mengingat kuman TBC sangat rentan terhadap sinar ultraviolet. Kemudian kunci Kesembuhan adalah kepatuhan berobat.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TBC adalah proses pengobatan yang memakan waktu lama (minimal 6 bulan). Mahasiswa KKN UBR memberikan penekanan khusus pada kepatuhan konsumsi obat.
"TBC bisa disembuhkan asalkan pasien disiplin dan tidak putus obat. Peran ibu-ibu sebagai pengawas minum obat (PMO) di keluarga sangatlah krusial," ujar salah satu mahasiswa di hadapan para peserta.
Program "Lansia Ceria" ini diharapkan tidak hanya menjadi sekadar penyuluhan, tetapi menjadi gerakan kesadaran bersama. Dengan lingkungan yang bersih dan masyarakat yang paham akan literasi kesehatan, risiko penularan TBC di Desa Arang-Arang dapat ditekan secara signifikan.
"Kami ingin para lansia di sini tidak hanya sehat secara fisik, tapi juga ceria karena mereka tahu bagaimana cara melindungi diri dan keluarganya dari ancaman penyakit," tutur Ns. Dwi Yunita Ramadhani, M. Kep selaku DPL.
Aksi nyata mahasiswa Posko 09 UBR ini menjadi bukti bahwa sinergi antara edukasi akademik dan kearifan lokal (melalui pengajian) adalah kunci dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa.(afm)
Kolaborasi Mahasiswa KKN UBR Jambi di SDN 042 Sakean, Tanamkan Pola Hidup Bersih Sejak Dini
Irwasda Polda Jambi hadiri Perayaan Pesta Perak 25 Tahun HKBP Simpang Rambutan Tanjab Barat
Wabup Katamso Hadiri Haflah At-Tasyakkur Lil Ikhtitam Wisuda Hafiz 30 Juz Ponpes Al-Anwar
Ternyata Hal Ini Jadi Pemicu Hipertensi di Desa Arang-Arang! Mahasiswa UBR Bongkar Rahasianya
Lawan ‘Silent Killer’, Mahasiswa UBR Ajak Emak-emak Desa Arang-Arang Kenali Deteksi Dini IVA Test
Jangan Sampai Menyesal! Strategi KKN UBR Jambi Bekali Siswi SMP IT Al Fadhil Lawan Pernikahan Dini



Irwasda Polda Jambi hadiri Perayaan Pesta Perak 25 Tahun HKBP Simpang Rambutan Tanjab Barat



