Ternyata Hal Ini Jadi Pemicu Hipertensi di Desa Arang-Arang! Mahasiswa UBR Bongkar Rahasianya



Minggu, 25 Januari 2026 - 12:27:54 WIB



Foto : Mahasiswa KKN Posko 9 UBR Jambi.
Foto : Mahasiswa KKN Posko 9 UBR Jambi.

JAMBERITA.COM - Jangan tunggu pusing melanda baru waspada! Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tak lagi hanya menyerang lansia, tapi mulai mengintai warga usia produktif di Desa Arang-Arang. Minimnya gejala awal membuat penyakit ini dijuluki "pembunuh senyap".

Melihat fenomena ini, mahasiswa KKN Tematik Posko 09 Universitas Baiturrahim (UBR) Jambi tidak tinggal diam. Pada Jumat (22/01/2026), mereka menggelar aksi heroik bertajuk “Lansia Ceria” untuk membongkar tuntas mitos dan fakta seputar tekanan darah tinggi di hadapan ibu-ibu pengajian Desa Arang-Arang.

Banyak warga mengira hipertensi hanya karena kebanyakan makan garam. Namun, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ns. Dwi Yunita Ramadhani, M. Kep, mahasiswa Posko 09 mengungkap fakta mengejutkan lainnya.

Dalam edukasi yang berlangsung interaktif tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa ada 4 faktor "tak kasat mata" yang sering diabaikan warga Desa Arang-Arang :

1. Kurang Gerak: Aktivitas fisik yang rendah memicu kekakuan pembuluh darah.

2. Stres Berkepanjangan: Pikiran yang tidak tenang menjadi pemicu tensi melonjak drastis.

3. Waktu Istirahat: Kurang tidur bukan sekadar lemas, tapi ancaman bagi jantung.

4. Pola Makan Tak Terkontrol: Selain garam, lemak jahat juga menjadi dalang utama.

"Kami ingin masyarakat paham bahwa hipertensi bisa dikendalikan. Kuncinya bukan hanya obat, tapi perubahan gaya hidup secara total," ujar salah satu mahasiswa KKN UBR di lokasi.

Para peserta tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga diajak memahami pentingnya pemeriksaan tensi rutin dan kepatuhan minum obat. Mahasiswa menekankan bahwa berhenti minum obat tanpa saran dokter bagi penderita hipertensi sangatlah berbahaya dan bisa memicu stroke mendadak.

"Edukasi ini adalah bentuk pengabdian nyata. Kami ingin Ibu-ibu di Desa Arang-Arang tidak hanya panjang umur, tapi juga berkualitas hidupnya melalui program Lansia Ceria ini," tutur Ns. Dwi Yunita Ramadhani, M. Kep selaku DPL.

Melalui kegiatan ini, suasana desa yang tadinya penuh ketidaktahuan kini berubah menjadi optimisme. Warga kini lebih berdaya dan sadar bahwa kesehatan adalah investasi paling berharga di masa tua.(afm)





Artikel Rekomendasi