Kolaborasi Jambi Akhiri Kekerasan Terhadap Perempuan



Sabtu, 29 November 2025 - 17:58:06 WIB



JAMBERITA.COM— Puncak peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025 di Provinsi Jambi menjadi momentum historis. Untuk itu, 28 lembaga mulai dari organisasi masyarakat sipil, komunitas adat, organisasi pemuda dan mahasiswa, kelompok perempuan, akademisi, jurnalis, seniman, penyandang disabilitas, hingga kampus UNJA dan UIN STS Jambi bersatu membentuk Koalisi Konsolidasi 16 HAKTP Jambi.

Koalisi ini mengirim pesan tegas bahwa Jambi tidak lagi menerima budaya senyap. Jambi memilih berpihak pada keberanian perempuan.

Sebuah Gerakan yang Lahir dari Luka, disuarakan dalam Solidaritas dalam serangkaian acara seni, diskusi publik, pembacaan testimoni penyintas, serta deklarasi bersama, koalisi menyoroti bagaimana kekerasan terhadap perempuan masih terjadi di ruang-ruang yang seharusnya aman, yaitu kampus, ruang publik, dunia digital, bahkan di komunitas adat.

Penyintas dari berbagai latar belakang tampil dengan suara bergetar namun penuh keberanian. Ada mahasiswa yang bertahun-tahun bungkam karena relasi kuasa. Ada perempuan adat yang tak bisa melapor karena akses layanan terlalu jauh. Ada perempuan disabilitas yang mengalami diskriminasi ganda. Ada jurnalis perempuan yang menghadapi kekerasan digital karena pekerjaannya. Mereka hadir, bukan sebagai korban, tetapi sebagai penggerak perubahan.

Realitas Kekerasan: Masih Dekat, Masih Terjadi, Masih Membungkam. Koalisi memaparkan temuan lapangan :  Kasus kekerasan di kampus Jambi meningkat, tetapi sebagian besar tidak dilaporkan karena stigma dan ancaman retaliasi.

Kekerasan digital seperti doxing, penyebaran foto tanpa consent, sextortion menjadi ancaman terbesar bagi perempuan muda. Perempuan Talang Mamak dan Suku Anak Dalam menghadapi isolasi, kurang literasi digital, serta kesulitan mengakses jalur aduan formal.

Perempuan disabilitas sering tidak dianggap sebagai pemilik hak penuh atas tubuh dan ruang aman mereka. Banyak perempuan pekerja kampus dan akademisi yang mengalami kekerasan simbolik dan struktural.

Kondisi ini diperburuk oleh budaya senyap: diam demi menjaga nama baik, diam karena takut tidak dipercaya, diam karena tidak ada sistem perlindungan.

Koalisi ini Percaya: Mengakhiri Kekerasan Tidak Bisa Dilakukan Sendiri

Koalisi Konsolidasi 16 HAKTP Jambi merupakan gabungan dari:

  1. Kemitraan Partnership
  2. SSS Pundi Sumatera
  3. KKI Warsi
  4. Beranda Perempuan
  5. PEKKA Bungo
  6. Aliansi Perempuan Merangin
  7. PKBI
  8. Remaja Aktif JYC
  9. Girl Up Siginjai
  10. Extraordinary Women
  11. HWDI
  12. La Linea Circle
  13. AJI Jambi
  14. SEAD
  15. FIM Jambi
  16. UTMC
  17. Mahasiswa Koalisi Peduli Inklusi GEINSA
  18. Komunitas Sambil Jalan
  19. KOHATI Jambi
  20. JISIP UNJA
  21. GEMPITA KAT
  22. Salim Media Indonesia
  23. Komunitas Adat Orang Rimba/SAD
  24. Komunitas Adat Talang Mamak
  25. PSGAD UIN STS Jambi
  26. PFI Jambi
  27. Positive Mindful Indonesia
  28. Laboratorium Ilmu Politik UNJA

Keberagaman koalisi ini menunjukkan bahwa advokasi anti-kekerasan bukan agenda satu lembaga saja. Ini adalah perjuangan seluruh masyarakat.

Seruan Kebijakan: Jambi Harus Berani Menghapus Budaya Senyap Dalam deklarasi bersama, Koalisi Konsolidasi menegaskan tiga tuntutan utama:

Perlindungan nyata berbasis hak penyintas, termasuk SOP penanganan yang tidak menyalahkan korban, non-retaliasi, dan layanan psikologis jangka panjang.

Penguatan ruang aman di kampus, termasuk hotline 24 jam, Satgas PPKS beranggaran khusus, kampanye anti-KBGO, serta integrasi pendidikan gender dalam orientasi mahasiswa.

Akses keadilan untuk perempuan komunitas adat dan penyandang disabilitas, melalui jalur aduan berbasis komunitas, literasi digital, dan layanan yang inklusif.

 Koalisi juga mendesak OPD Dinas PPPA, Diskominfo, Dinas Pendidikan, Dinsos, serta Bappeda untuk membangun sistem kolaboratif berbasis data, layanan terintegrasi, serta pendanaan berkelanjutan bagi pemulihan korban.

Gerakan Kebudayaan untuk Memulihkan Ruang

Puncak perayaan menampilkan seni pertunjukan, pembacaan puisi, bedah buku, hingga pertunjukan musik yang mengangkat suara penyintas. Seniman dan jurnalis terlibat tidak sekadar sebagai dokumentator, tetapi sebagai penyampai pesan: bahwa budaya bisa melukai, tetapi budaya juga bisa menyembuhkan.

16 HAKTP Bukan Upacara. Ini adalah Seruan Perubahan.

Peringatan tahun ini bukan seremoni, bukan agenda seremonial tahunan.

Ini adalah konsolidasi kekuatan sipil di Jambi untuk menolak kekerasan terhadap perempuan. Koalisi menegaskan:

Kita menolak normalisasi pelecehan.

Kita menolak diam.

Kita menolak ruang pendidikan yang tidak aman.

Kita menolak kekerasan yang dibungkus dalih adat, budaya, atau kuasa.

Jambi harus memastikan bahwa tidak ada lagi perempuan yang terpaksa memilih diam demi bertahan.(*)





Artikel Rekomendasi