JAMBERITA.COM— Puncak peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025 di Provinsi Jambi menjadi momentum historis. Untuk itu, 28 lembaga mulai dari organisasi masyarakat sipil, komunitas adat, organisasi pemuda dan mahasiswa, kelompok perempuan, akademisi, jurnalis, seniman, penyandang disabilitas, hingga kampus UNJA dan UIN STS Jambi bersatu membentuk Koalisi Konsolidasi 16 HAKTP Jambi.
Koalisi ini mengirim pesan tegas bahwa Jambi tidak lagi menerima budaya senyap. Jambi memilih berpihak pada keberanian perempuan.
Sebuah Gerakan yang Lahir dari Luka, disuarakan dalam Solidaritas dalam serangkaian acara seni, diskusi publik, pembacaan testimoni penyintas, serta deklarasi bersama, koalisi menyoroti bagaimana kekerasan terhadap perempuan masih terjadi di ruang-ruang yang seharusnya aman, yaitu kampus, ruang publik, dunia digital, bahkan di komunitas adat.
Penyintas dari berbagai latar belakang tampil dengan suara bergetar namun penuh keberanian. Ada mahasiswa yang bertahun-tahun bungkam karena relasi kuasa. Ada perempuan adat yang tak bisa melapor karena akses layanan terlalu jauh. Ada perempuan disabilitas yang mengalami diskriminasi ganda. Ada jurnalis perempuan yang menghadapi kekerasan digital karena pekerjaannya. Mereka hadir, bukan sebagai korban, tetapi sebagai penggerak perubahan.
Realitas Kekerasan: Masih Dekat, Masih Terjadi, Masih Membungkam. Koalisi memaparkan temuan lapangan : Kasus kekerasan di kampus Jambi meningkat, tetapi sebagian besar tidak dilaporkan karena stigma dan ancaman retaliasi.
Kekerasan digital seperti doxing, penyebaran foto tanpa consent, sextortion menjadi ancaman terbesar bagi perempuan muda. Perempuan Talang Mamak dan Suku Anak Dalam menghadapi isolasi, kurang literasi digital, serta kesulitan mengakses jalur aduan formal.
Perempuan disabilitas sering tidak dianggap sebagai pemilik hak penuh atas tubuh dan ruang aman mereka. Banyak perempuan pekerja kampus dan akademisi yang mengalami kekerasan simbolik dan struktural.
Kondisi ini diperburuk oleh budaya senyap: diam demi menjaga nama baik, diam karena takut tidak dipercaya, diam karena tidak ada sistem perlindungan.
Koalisi ini Percaya: Mengakhiri Kekerasan Tidak Bisa Dilakukan Sendiri
Koalisi Konsolidasi 16 HAKTP Jambi merupakan gabungan dari:
Keberagaman koalisi ini menunjukkan bahwa advokasi anti-kekerasan bukan agenda satu lembaga saja. Ini adalah perjuangan seluruh masyarakat.
Seruan Kebijakan: Jambi Harus Berani Menghapus Budaya Senyap Dalam deklarasi bersama, Koalisi Konsolidasi menegaskan tiga tuntutan utama:
Perlindungan nyata berbasis hak penyintas, termasuk SOP penanganan yang tidak menyalahkan korban, non-retaliasi, dan layanan psikologis jangka panjang.
Penguatan ruang aman di kampus, termasuk hotline 24 jam, Satgas PPKS beranggaran khusus, kampanye anti-KBGO, serta integrasi pendidikan gender dalam orientasi mahasiswa.
Akses keadilan untuk perempuan komunitas adat dan penyandang disabilitas, melalui jalur aduan berbasis komunitas, literasi digital, dan layanan yang inklusif.
Koalisi juga mendesak OPD Dinas PPPA, Diskominfo, Dinas Pendidikan, Dinsos, serta Bappeda untuk membangun sistem kolaboratif berbasis data, layanan terintegrasi, serta pendanaan berkelanjutan bagi pemulihan korban.
Gerakan Kebudayaan untuk Memulihkan Ruang
Puncak perayaan menampilkan seni pertunjukan, pembacaan puisi, bedah buku, hingga pertunjukan musik yang mengangkat suara penyintas. Seniman dan jurnalis terlibat tidak sekadar sebagai dokumentator, tetapi sebagai penyampai pesan: bahwa budaya bisa melukai, tetapi budaya juga bisa menyembuhkan.
16 HAKTP Bukan Upacara. Ini adalah Seruan Perubahan.
Peringatan tahun ini bukan seremoni, bukan agenda seremonial tahunan.
Ini adalah konsolidasi kekuatan sipil di Jambi untuk menolak kekerasan terhadap perempuan. Koalisi menegaskan:
Kita menolak normalisasi pelecehan.
Kita menolak diam.
Kita menolak ruang pendidikan yang tidak aman.
Kita menolak kekerasan yang dibungkus dalih adat, budaya, atau kuasa.
Jambi harus memastikan bahwa tidak ada lagi perempuan yang terpaksa memilih diam demi bertahan.(*)
Tak Henti Berinovasi! Rektor UBR Jambi Gandeng STIE Alam Kerinci Perkuat SDM
Duka di Balik Wafatnya Dokter Magang di Jambi : Menkes Janji Tak Boleh Ada Lagi Nyawa yang Gugur
Penilaian Kompetensi Pejabat Manajerial Kanwil Kemenkum Jambi Selesai
Sosok Dimas Dwi Putra di Momen Wisuda UIN-STS Jambi: Raih Gelar S-2 Cumlaude dalam 1,5 Tahun
Hadir di Wisuda UIN-STS Jambi, Sekjen Kemenag RI Ajak Lulusan Berkontribusi untuk Bangsa
Festival Olahraga KORMI Dipusatkan di Hutan Pinus Jambi, Edi Purwanto Ini Aset dan Potensi


Duka di Balik Wafatnya Dokter Magang di Jambi : Menkes Janji Tak Boleh Ada Lagi Nyawa yang Gugur

