Oleh. Nisaul Fadillah *
Hari ini, Kamis 18 Juli 2024 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi kembali menggelar wisuda yang ke-67 untuk program Sarjana (S1), yang ke-40 untuk program Magister (S2), dan yang ke-16 untuk program Doktor (S3). Ini adalah milestone bagi institusi ini yang sudah menelorkan jutaan lulusannya, dan pencapaian bagi individu-individu yang meraih gelar sarjana hari ini.
Namun wisuda kali ini menjadi lebih istimewa dengan adanya tiga wisudawan difabel pada program S1. Satu orang dari Jurusan Sejarah Peradaban Islam dan dua lainnya dari Jurusan Ekonomi Syariah. Prosesi ini menandakan kesuksesan UIN Jambi mengantarkan lulusan pertama yang masuk melalui jalur difabel. Tak sampai di situ, salah satu di antaranya lulusan difabel ini telah terdaftar di jenjang S2 dengan dukungan beasiswa dari kampus UIN Jambi, sementara satu lainnya telah diterima bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Pulau Jawa.
Ini bukan persoalan jumlah, tapi persoalan komitmen dan pemberian kesempatan yang sama bagi semua orang untuk mengenyam pendidikan, terutama ke pendidikan tinggi. Keberhasilan ini tidak hanya luar biasa, tetapi juga memberikan kebanggaan bagi UIN Jambi yang telah mampu mengantarkan mahasiswanya mencapai kesuksesan akademik dan professional. Ini adalah bentuk komitmen kampus UIN Jambi dalam mendukung inklusi dan kesetaraan dalam pendidikan.
Menurut data dari UNESCO, ada sekitar 1 milyar penyandang disabilitas di seluruh dunia dengan tingkat literasi sekitar 3% saja, perempuan secara spesifik memiliki tingkat literasi 1%. Di Indonesia, data dari Komisi Nasional Disabilitas tahun 2023, hanya 2,8 persen, penyandang disabilitas yang mampu melanjutkan ke pendidikan tinggi. Banyak dari mereka yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stigma sosial yang negative tentang disabilitas, perlakuan diskriminatif, serta akses fisik ke kampus hingga kurangnya dukungan yang memadai selama proses belajar. Butuh ekstra pendekatan bagi kami di Pusat Gender, Anak dan Disabilitas UIN Jambi untuk meyakinkan para penyandang disabilitas yang terbiasa dengan pendidikan ekslusif (Umumnya penyandang disabilitas bersekolah di Sekolah Luar Biasa) untuk meyakinkan bahwa kampus UIN Jambi siap menerima kehadiran mereka, inklusif, menyatu dengan mahasiswa lainnya yang non-difabel.
Langkah tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2020 dimana UIN Jambi dengan hadirnya Pusat Kajian Disabilitas (Saat ini menjadi Pusat Gender, Anak dan Disabilitas). Selama ini, meskipun ada mahasiswa difabel yang masuk, mereka harus melalui jalur umum, yang mungkin tidak sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan khusus mereka. Dengan adanya jalur khusus difabel, UIN Jambi menunjukkan komitmennya untuk memberikan kesempatan yang setara bagi semua mahasiswa, tanpa memandang keterbatasan fisik.
Saat ini, ada 17 mahasiswa difabel yang sedang menempuh pendidikan di UIN Jambi, dan ada sekitar lima calon mahasiswa difabel yang sudah terdaftar untuk tahun 2024. Hal ini menunjukkan bahwa UIN Jambi terus berupaya memberikan kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa difabel dan mendapat tempat di komunitas difabel untuk meraih pendidikan tinggi.
Kampus inklusi adalah konsep yang menekankan pada lingkungan pendidikan yang ramah dan mendukung bagi semua mahasiswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. UIN Jambi telah berupaya keras untuk menciptakan lingkungan seperti ini, mulai dari fasilitas fisik yang aksesibel hingga program beasiswa dan dukungan akademik yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa difabel.
Saat ini, UIN Jambi telah menyediakan berbagai fasilitas kampus untuk mendukung mahasiswa difabel, termasuk lift, toilet yang aksesibel, area parkir khusus, dan alat bantu lainnya. Meskipun fasilitas ini belum sempurna dan lengkap, UIN Jambi terus berbenah untuk memenuhi kebutuhan semua mahasiswa, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus.
Praktik kampus inklusi di UIN Jambi bukanlah sekadar isapan jempol. Ini adalah bagian dari komitmen nyata universitas untuk mendukung development for all atau pembangunan untuk semua. UIN Jambi berusaha memastikan bahwa setiap mahasiswa, tanpa memandang latar belakang atau keterbatasan fisik, memiliki akses yang sama terhadap pendidikan dan peluang pengembangan diri.
Keberhasilan mahasiswa difabel dalam menyelesaikan pendidikan tinggi di UIN Jambi juga merupakan inspirasi bagi banyak pihak. Ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, setiap individu memiliki potensi untuk meraih prestasi tinggi. Pendidikan adalah hak setiap individu, dan UIN Jambi telah membuktikan bahwa inklusi dalam pendidikan tidak hanya mungkin, tetapi juga memberikan pencapaian yang luar biasa. Ini adalah langkah penting menuju masyarakat yang lebih inklusif dan adil, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih impian mereka.
Pada akhirnya, pencapaian ini tidak hanya membawa kebanggaan bagi UIN STS Jambi tetapi juga harapan baru bagi para mahasiswa difabel yang ingin mengejar pendidikan tinggi, dan bagi masyarakat secara umum. Selamat wisuda para penuntut ilmu.
*) Penulis adalah Dosen dan Koordinator Pusat Gender, Anak dan Disabilitas UIN STS Jambi


Kemenkum Jambi Matangkan Persiapan PKS Serentak & Penyerahan Sertifikat KI Se-Indonesia


