JAMBERITA.COM- Kasus tewasnya seorang santri di Pondok Pesantren
Raudhatul Mujawwidin, unit 6 Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo masih meninggalkan banyak tanda tanya. Pasalnya hasil visum dengan autopsi korban sangat jauh berbeda.
Hal ini membuat Tim Kuasa Hotman 911 meminta pihak kepolisian untuk melakukan rekonstruksi ulang.
Tim Kuasa Hotman 911, Rifki Septino yang juga selaku kuasa hukum keluarga korban mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengungkap dalang dibalik kematian AH (13) santri Ponpes Raudhatul Mujawwidin.
Tidak hanya itu, Rifki Septino juga mempersoalkan hasil visum dokter klinik Medical Centre Rimbo Bujang yang menyatakan korban tewas akibat tersengat aliran listrik. Hal ini justru berbeda jauh dengan hasil autopsi yang dilakukan oleh dokter ahli forensik RS Bhayangkara, Polda Jambi, Dokter Erni Situmorang.
Dari hasil autopsi itu, korban mengalami luka akibat kekerasan benda tumpul.
“Yang jelas-jelas hasil autopsi itu menyatakan bahwa ditemukan memar dibagian atas mata kiri, batang tengkorak kepala belakang patah, rahang bawah kanan patah, patah tulang bahu kanan, dan tulang rusuk kiri kanan patah. Pertanyaannya mungkin tidak itu tersengat aliran listrik? Kan itu yang menjadi pertanyaan kita," kata Rifki Septino, selaku kuasa Hotman 911 mendampingi keluarga korban.
Selain itu, Rifki Septino mengatakan sudah 3 bulan lebih hasil autopsi keluar, sampai dengan detik ini belum ada keterangan dari pihak kepolisian siapa pelaku dari perbuatan tersebut.
Sementara itu polisi sudah memeriksa 47 saksi hingga Ditreskrimum Polda Jambi menurunkan tim asistensi guna membantu penyidikan Polres Tebo.
“Dan mudah-mudahan dengan turunnya tim asistensi dari Polda jambi, peristiwa ini bisa terungkap siapa dalang dari ini semua, ini yang kami minta. Keluarga menanti, siapa pelaku dari perbuatan keji ini,” jelasnya.
Selain itu, dikatakan dia sejak perkara ini naik penyidikan, polisi sudah melakukan pra rekonstruksi dan juga memeriksa bukti Cctv serta keterangan dokter yang mengeluarkan hasil visum tersebut. Namun, pihaknya masih mempertanyakan mengapa Polres Tebo sulit untuk mengungkap peristiwa itu.
“Kalau itu tersengat listrik sementara polisi sudah melaksanakan pra rekonstruksi, kenapa sampai saat ini belum terungkap. Sekarang kita menuntut polisi untuk melakukan rekonstruksi ulang supaya ini terungkap jangan lagi berlama-lama,” pintanya.
Lanjutnya, Rifki Septino mendesak agar kepolisian mau membuka hasil autopsi AH (13) santri Ponpes Raudhatul Mujawwidin itu di depan publik. Selama ini hanya hasil visum saja yang dimunculkan, sedangkan hasil autopsi tidak pernah dibuka. Sehingga menimbulkan spekulasi di masyarakat.
“Mangkanya kami juga meminta Polda Jambi untuk membuka hasil autopsi itu di depan awak media. Biar masyarakat tahu hasil autopsi dari ananda Airul Harahap. Bukan hanya visum dari Rimbo Medical saja. Itu yang menjadi simpang siur. Dokter forensiknya sendiri sudah membuka kepada bang Hotman, ini kekerasan benda tumpul yang semua fisiknya ini patah,” pungkasnya. (Tna)
Gubernur Al Haris Hadiri Pengajian Umum Ponpes Salafiyah Al Hafizh Tabir Selatan
Bijak Namun Tegas! Rektor UNJA: Benahi Sampah Kota Jambi demi Publik, Bukan Pilgub
Atasi Polemik Sampah, Pemkot Jambi Setop Sementara Pembongkaran TPS dan Siapkan Subsidi Silang
Bongkar Peredaran Gelap Narkoba, Polda Jambi Amankan 10 Kg Sabu dari 2 Tersangka
Silaturahmi Bersama Pemkab Bungo, Kepala BKKBN Provinsi Jambi Sampaikan Ini
Jumpa Masyarakat, SAH Lakukan Kunjungan Aspirasi ke 4 tahun 2024
KONI Jambi Dorong IPSI Matangkan Program Jelang BK PON 2027 & PON 2028


