JAMBERITA.COM - ARTIKEL _ Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan dalam berbagai macam sektor. Salah satunya adalah dalam sektor Sumber Daya Alam (SDA) seperti batu bara. Kawasan batu bara di Provinsi Jambi tidaklah kecil yaitu mencapai 10.332 hektar. Luasnya kawasan tambang di Provinsi Jambi, berbagai masalah telah timbul akibat aktivitas tambang batu bara ini.
Tidak sedikit keluhan dari masyarakat jambi karena dampak dari angkutan batu bara ini. Bahkan banyak aduan-aduan dan keluh kesah masyarakat serta demo-demo dari para mahasiswa kepada pemerintah di jambi. Dampak yang terjadi dan Sumber kemacetan kegiatan pertambangan batu bara merupakan kegiatan ekspoloitasi SDM yang tidak dapat diperbaharui, dimana didalam kegiatan penambangan dapat berdampak pada rusaknya ekosistem.
Ekosistem yang rusak diartikan sebagai ekosistem yang tidak dapat lagi menjalankan fungsinya secara optimal,seperti perlindungan tanah, tata air, pengatur cuaca dan fungsi lainnya dalam mengatur perlindungan alam lingkungan. Mekanisasi peralatan dan teknologi pertambangan telah menyebabkan skala pertambangan semakin besar sehingga semakin luas dan dalam lapisan bumi yang harus digali.
Ini menyebabkan kegiatan tambang batu bara menimbulkan dampak terhadap lingkungan. (Raden dkk, 2010: Purwanto, 2015).
Dampak pertambangan batu bara tidak hanya muncul ketika kegiatan penambangan tetapi juga pasca operasi tambang. Industri penambangan pada pasca operasi akan meninggalkan lubang tambang dan air asam tambang(acid ine drainage).Lubang-lubang bekas penambangan batu bara berpotensi menimbulkan dampak lingkungan berkaitan kualitas dan kuantitas air.
Air lubang tambang mengandung berbagai logam berat yang dapat merembes ke system air tanah dan dapat mencemari air tanah. Lahan bekas tambang batu bara mampu mencemari air sungai. ( Marganingrum dan Noviardi, 2010).
Keberadaan industri pertambangan batu bara memiliki dampak positif yaitu keuntungan – keuntungan yang didapatkan oleh warga sekitar dan pemerintah di sekitar lokasi pertambangan batu bara, seperti terbukanya lapangan pekerjaan untuk masyarakat serta sumber pendapatan daerah.
Batu bara ini memiliki harga fantastis bukan tanpa alasan, batu bara memang merupakan salah satu SDA yang begitu banyak manfaatnya bagi kehidupan manusia di seluruh dunia. Seperti Pembangkit Tenaga Listrik, Produk Gas, membantu produksi pupuk dan semen, menghasilkan mineral dan lainnya.
Namun dari sisi negatif pertambangan lebih sering dipahami sebagai aktifitas lebih banyak menimbulkan permasalahan dari pada manfaat. Seperti yang dialami masyarakat, warga sangat merasa terganggu dengan keberadaan truk-truk yang selalu memadati kawasan tersebut. Apalagi, Semakin siang hari arus lalu lintas di jalur itu akan terus semakin padat. Sehingga dapat mengganggu lalu lintas kendaraan dari kota menuju muaro jambi.
Bukan hanya warga banyak mahasiswa mahasiswi kampus Universitas Jambi (UNJA) dan UIN STS JAMBI yang mengeluh kesahkan kepada pemerintah hingga menimbulkan beberapa kali demo karena ulah truk batu bara tersebut.
Jalan ke arah mendalo merupakan jalan satu satunya para mahasiswa dan mahasiswi untuk munuju ke kampus nya namun dengan ada nya truk batu bara yang begitu padat sehingga menyulitkan para mahasiswa dan mahasiswi untuk menuju ke kampus.
Satu hal penting yang harus dipahami bahwa kondisi di sepanjang jalan simpang Mendalo hingga Muara Bulian saat ini yang saya lihat bahwa angkutan batu bara merupakan kendaraan yang paling meresahkan sekaligus menakutkan. Alasannya sederhana saja karena jumlah truk batu bara yang banyak dan jam oprasionalnya yang tak kenal waktu.
Sampai hari ini, angkutan batu bara masih menggunakan jalan nasional yang ada di provinsi Jambi. Jumlah kendaraan yang padat di arus jalan salah satunya disumbang drastis oleh angkutan batu bara.
Pada 5 Mei 2023 lalu, aktivitas batu bara baru saja dibuka, dan dihentikan lagi pada 9 Mei 2023 sampai waktu yang belum di tentukan. Operasional batu bara ditutup karena melebihi kuota 4000 unit perhari, akibatnya, menimbulkan penumpukkan di wilayah Kota Jambi.
Sudah banyak video-video kiriman warga beredar di media sosial yang menunjukan kondisi kemacetan arus jalan di wilayah jambi akibat aktivitas angkutan truk batu bara. Kemacetan sampai di wilayah Jalan Lintas wilayah Kota Jambi hingga arah ke daerah mendalo. Selain kemacetan, di siang hari banyak truk angkutan batu bara yang terparkir di bahu jalan, sehingga mempersempit ruang jalan kendaraan.
Menurut Sonia Salsabila, mahasiswa UIN STS Jambi Jurusan Ilmu Pemerintahan, kemacetan bukan menjadi permasalahan yang asing lagi, karena tidak ada jalur khusus untuk unit batu bara sehingga para supir menggunakan jalan nasional maupun umum untuk mengangkut hasilnya.
Sehingga masyarakat di Jambi merasa sangat terbebani karena padatnya arus lalu lintas. Belum lagi ada yang mengalami pecah ban mobil, kerusakan pada mesin mobil, dan tergulingnya mobil di jalan karena kelebihan muatan yang diangkut, tidak hanya itu ada juga sejumlah truk batu bara yang banyak dan jam oprasionalnya yang tak kenal waktu hal tersebut bisa menyebabkan resiko kecelakaan lalu lintas menjadi lebih tinggi, hal ini sudah banyak memakan korban.
Semakin hari bukannya semakin berkurang justru malah bertambah korban-korban di jalanan. Membludaknya jumlah angkutan batu bara tak diiringi peningkatan kapasitas jalan.
Akibatnya, masyarakat menjadi korban dari aktivitas distribusi dari hasil tambang itu. Oleh karena itu, permasalahan ini harus segera di tindak lanjuti oleh pemerintah Provinsi Jambi.
Keluhan masyarakat sampai ke telinga Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), dalam kunjungannya ke Jambi, Selasa 16 Mei 2023, Jokowi angkat bicara soal persoalan yang sudah sangat meresahkan masyarakat itu.
Jokowi mengatakan, untuk angkutan batu bara seharusnya melewati jalan khusus. Tapi, di Jambi hingga saat ini belum ada jalan khusus itu. Sehingga, angkutan batu bara harus beroperasi melewati jalan nasional bersama dengan masyarakat umum.
Ketika jalan khusus sudah selesai, maka angkutan batu bara dan kendaraan masyarakat umum bisa menggunakan jalan masing-masing. Diketahui sebelumnya, hingga saat ini pembangunan fisik jalan khusus angkutan batu bara ini, belum juga dimulai. Pembangunan terkendala persoalan klasik, yaitu pembebasan lahan.
Menanggapi hal tersebut, Sonia Salsabila memberikan pesan khusus kepada pemerintah agar jalan khusus angkutan batu bara untuk segera di selesaikan.
Baik jalur darat maupun air agar tidak lagi menggunakan jalur umum sebagai jalur yang dilewati transportasi besar dan bermuatan banyak khususnya mobil – mobil pengangkut batu bara sehingga tidak ada lagi aduan masyarakat soal kemacetan sampai halnya kecelakaan lalu lintas.
Bukan hanya sekedar mempercepat membangun jalur baru, tapi seharusnya pemerintah harus tetap memperhatikan truk-truk sejenis truk batu bara yang melintas daerah mendalo apalagi dengan supir yang mengendarai secara ugal-ugalan.
Karena selain merugikan diri sang pengemudi, juga tentu saja sangat merugikan orang-orang di sekitarnya yang menimbulkan rasa was was serta potensial terhadap kecelakaan lalu lintas. Semoga pemerintah tetap memperhatikan dan sigap menerima laporan atas keluhan masyarakat yang dirugikan.
Penulis : Sonia Salsabila, Mahasiswa UIN STS Jambi, Jurusan Ilmu Pemerintahan
Gubernur Al Haris Fasilitasi Kepulangan 3 Warga Jambi Korban Scam Kamboja, 1 Orang Malah Menghilang
Tegas! Kanwil Kemenkum Jambi Ke Majelis Pengawas : Periksa Jika Ada Dugaan Pelanggaran Notaris
SAH Serukan Gerakan Sadaqah Tani Jadi Solusi Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan di Jambi


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


