Empat Kali Dalam Sepekan Diamuk Sijago Merah, Warga Tanjabbar Tak Patah Semangat



Rabu, 26 Oktober 2022 - 20:08:00 WIB



JAMBERITA.COM - Kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan. Ungkapan ini barangkali tepat untuk menggambarkan apa yang kerap dialami oleh warga salah satu daerah penghasil minyak dan gas (migas) Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, yang kini masyarakatnya hampir setiap hari rela antre hingga berjam jam demi mendapatkan elpiji melon bersubsidi agar dapat menyalakan api kecil kompor mereka.

Sementara di sisi lain, juga kerap berlangganan dengan musibah kebakaran. Dengan kobaran api besar yang menyala-nyala siap melahap apa pun yang ada di hadapannya. 

Dalam satu pekan ini saja, empat kejadian kebakaran di lokasi berbeda menimpa warga setempat. Pemandangan rumah warga hangus terbakar, rata dengan tanah pun menjadi hal yang tak asing lagi. 

Bahkan dari Januari hingga penghujung Oktober tahun 2022 ini, terhitung total ada sebanyak 31 kali kejadian kebakaran menimpa pemukiman warga, yang tersebar di 10 Kecamatan dari 13 Kecamatan dalam Kabupaten Tanjung Jabung Barat. 

Kecamatan Tungkal Ilir paling banyak dilanda musibah kebakaran. Terhitung sebanyak 10 kali kejadian kebakaran. Kemudian Kecamatan Betara 4 kejadian kebakaran, Kecamatan Pengabuan 2 kali kebakaran, Kecamatan Tungkal Ulu 2 kali kebakaran, Kecamatan Bram Itam 1 kali kejadian kebakaran. Kecamatan Kuala Betara 1 kali kebakaran, Kecamatan Senyerang 2 kali kebakaran, Kecamatan Tebing Tinggi 3 kali kebakaran, Kecamatan Muara Papalik 3 kali kebakaran, dan Kecamatan Batang Asam 3 kali kebakaran. Hanya tiga kecamatan yang belum tersentuh amukan sijago merah sejak awal tahun 2022, yakni Kecamatan Renah Mendaluh, Kecamatan Seberang Kota dan Kecamatan Merlung.

Tak tanggung-tanggung sebanyak 94 rumah pun harus direlakan warga menjadi santapan si jago merah. Dengan api merahnya yang menyala-nyala berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. 

Bangunan rumah yang berbahan kayu, berbentuk rumah panggung itu pun dengan mudahnya ludes dijilat api. Dalam hitungan jam ludes rata dengan tanah. Ratusan jiwa pun terpaksa kehilangan tempat tinggal, dan hanya menyisakan puing-puing hitam dan bau hangus, yang menyengat hidung. 

Marwan, salah seorang warga Kota Kuala Tungkal, Tanjab Barat, menuturkan pernah terjadi kebakaran hebat pada tahun 1989. Kebakaran saat itu yang meludeskan ratusan rumah warga hingga tak bersisa lagi satupun rumah di Jalan Asia, yang menjadi pusat ekonomi dan pemukiman warga tersebut.

"Saat itu kebakarannya luar biasa besar. Semua rumah ludes terbakar, hanya menyisakan tunggul yang sudah menghitam dijilat api saja," tutur Marwan pria kelahiran 1968, berkulit gelap itu mengenang duka masa silam yang masih tersimpan kuat di ingatannya, sambil menghisap rokok kreteknya, saat ia mendengar ada kejadian kebakaran lagi di Pematang Lumut, pada Rabu pagi (26/10/22).

Tapi meskipun berulangkali dilanda kebakaran. Masyarakat setempat tak berpatah arang dan berputus asa. Tetap menyimpan semangat secara bertahap dan penuh keyakinan serta kesabaran warga berusaha membangun kembali bangunan rumah baru, hingga bisa ditempati kembali oleh keluarga mereka.

"Ya, setelah kebakaran itu, tidak berapa lama setelah itu dibangun lagi bangunan baru di sekitar lokasi kebakaran," ungkap Marwan.

Sekretaris Damkar Tanjab Barat, Zulkifli, mengaku ikut prihatin dengan banyaknya kejadian kebakaran yang menimpa warga.

"Betul, hari ini ada lagi kejadian kebakaran. Di Pematang Lumut. Kerap kali sudah masyarakat kita ingatkan, kita himbau agar meninggalkan rumah dalam kondisi listrik, kompor, obat nyamuk, lilin dan sumber api lainnya sudah dimatikan," ucap Zulkifli.

Menurut Zulkifli, faktor kondisi bangunan rumah yang rata-rata terbuat dari kayu dan bersusun rapat menyerupai bedeng itu menjadi penyebab mudahnya api menjalar berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. 

"Untung saja saat ini sudah ada selang-seling bangunan beton di antara bangunan kayu yang tegak, jadi api bisa putus api yang merembet karena terhadang bangunan beton," ucap Zulkifli.

Kemudian faktor jalan dan gang yang sempit kadang mempersulit akses mobilitas mobil Damkar. Hal ini, kata Zulkifli menjadi salah satu faktor penghambat proses pemadaman api. 

Sementara Pemerintah Daerah tidak bisa berbuat banyak, selain memberikan bantuan sembako dan kebutuhan lainnya. 

Bupati Tanjab Barat, Anwar Sadat mengatakan sudah saatnya musibah kebakaran ini mendapat perhatian lebih serius lagi. Tidak hanya sebatas memberikan bantuan sembako kepada para korban musibah kebakaran. Tetapi alangkah lebih baiknya juga berusaha mendirikan rumah sederhana buat para korban musibah kebakaran. 

"Mudahan rencana dan niat baik kita ini didukung semua pihak," ucap bupati, sembari menyerahkan bantuan ke warga yang sedang tertimpa musibah kebakaran. (fir)




Tagar:

# TANJABBARAT

Artikel Rekomendasi