Oleh : Dr. Noviardi Ferzi *
Dulu, dalam pemikiran saya yang awam, Intelijen itu seperti film James Bond 007. Sebuah dokumen dengan label : Top Secret, Intelijen.
Suatu kerahasiaan yang diungkap oleh orang-orang berkemampuan khusus, untuk menyelamatkan dunia. Shaken, not stirred atau jangan diaduk tapi dikocok, adalah kalimat khas agen rahasia James Bond soal bagaimana ia minta minuman martini-nya disiapkan. Kalimat yang seolah menjadi satire bahwa informasi bisa dikocok dengan keras, membuat ia saling tercampur satu sama lain, sulit dibedakan hanya bisa dirasakan.
Hari ini meski tak terlalu dalam, saya sedikit tahu bahwa informasi Intelijen merupakan pedoman pengambilan keputusan yang sangat penting, bernuansa strategis, resiko terendah, bahkan untuk menutupi terjadinya resiko atas kesalahan pengambilan keputusan.
Dalam skala negara (nations) dunia intelejen hari ini mengalami adaptasi fundamental terhadap dinamika perkembangan digital. Intelijen harus beradaptasi secara cepat mengingat kondisi perang era digital berlangsung sangat cepat, sunyi dan senyap.
Mau tak mau kapasitas intelijen menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Intelijen dituntut mampu memahami sepenuhnya bentuk ancaman kejahatan baik yang berskala lokal maupun global. Jika dulu gerakan penyusupan intelijen terhadap suatu negara melalui jalur darat, laut dan udara kini penyusupan dilakukan melalui dunia cyber.
Digitalisasi adalah keniscayaan. Dalam abad 21, jumlah orang yang terhubung ke internet melesat jauh, dari 350 juta pengguna menjadi 2 miliar pengguna. Pada saat yang sama, jumlah pengguna seluler melambung dari 750 juta pengguna hingga 5 miliar orang. Bahkan diperkirakan sudah mencapai 6 miliar lebih.
Akibat lainnya, digitalisasi menjadi ancaman dalam bentuk dunia baru. Seperti cyber war, proxy war, perang asimetris, cyber terorism, perang spionase. Di era digital sekarang juga muncul istilah low intensity wars (perang intensitas rendah), small wars (perang-perang kecil), network centric warfare (perang berpusat pada jejaring), fourth generation wars (perang generasi keempat), non-conventional/hybrid wars (perang nonkonvensional), dan asymmetric wars (perang asimetris). Artinya, pada tahun-tahun mendatang, dunia sudah dalam genggaman digital.
Siapa yang menguasai digital berarti menguasai dunia. Kegiatan iIntelijen berlangsung sepanjang sejarah kebangsaan umat manusia membentuk Negara, hingga masa sekarang, menempatkan Intelijen sebagai entitas yang sangat penting bagi Negara.
Namun jika dulu intelijen formal hanya bisa dilakukan negara, dengan perkembangan teknologi informasi hari ini, semua individu bisa melakukan pekerjaan intel. Contoh, para Hacker melakukan kegiatan yang mengancam bahkan merusak sistem informasi keamanan negara, hanya karena benci atau iseng atau sekedar uji coba kemampuan cyber war nya menembus cyber security.
Pada dasarnya, intelijen mempunyai sifat natural sebagai pengumpul informasi. Pedrason (2012) menyebut bahwa intelijen dalam lingkungan strategis mengarah pada pusat segala macam informasi yang datang dari berbagai sumber, baik terbuka maupun tertutup.
Lebih lanjut Saronto (2020) juga mengajukan definisi yang hampir sama, yakni intelijen adalah proses mendapatkan segala yang harus diketahui sebelum melakukan pekerjaan, sebagai data awal dalam mengatur rencana pekerjaan.
Berdasarkan hal tersebut, informasi merupakan bisnis utama yang menempati porsi penting dalam siklus intelijen (intelligence cycle). Perbedaan utama informasi intelijen dengan informasi profesi lainnya adalah adanya pemenuhan unsur siapa (who), apa (what), mengapa (why), dimana (where), kapan (when) serta bagaimana (how).
Keenam unsur yang biasa disebut 5W+1H tersebut menjadi kunci utama penilaian validitas suatu informasi intelijen Adalah Julian Paul Assange, jurnalis investigatif bekas wartawan Australia yang menyebarkan informasi rahasia para pemimpin dan tokoh-tokoh terkemuka dunia, yang dia dapatkan dengan penelusuran IT yang terkenal dengan scandal WikiLeaks, yang merupakan media massa internasional yang mengungkapkan dokumen-dokumen rahasia kepada publik melalui situs webnya.
Pada tahun 2010 situs wikileaks mengungkap dokument prang Afganistan dan 400 ribu dokumen perang Iraq, serta merilis pembocoran kawat diplomatik pemerintah AS.
Apa yang Assange lakukan, menurutnya sebagai sebuah ekspresi kebebasan pers untuk memberitahukan kebenaran-keterbukaan kepada publik. Lalu apa yang dilakukan Edward Snowden, bekas pegawai di NSA, Lembaga Keamanan Nasional Amerika, yang dituntut pemerintah AS dengan tuduhan membocorkan rahasia negara dan melanggar Espionage Act.
Edward Snowden, dituduhkan melakukan ancaman serius terhadap keamanan nasional atas tindakannya membocorkan kepada publik berbagai dokumen rahasia operasi-operasi intelijen Amerika Serikat, dilandasi oleh motif moralitasnya yang menganggap kebijakan tersebut salah, tidak sesuai dengan perinsip-perinsip kebenaran hidupnya.
Kini sebenarnya, masih begitu banyak lagi individu-individu yang tidak se-populer keduanya yang melakukan “Telik Sandi” terhadap lingkungan di berbagai platform media sosial, dengan motif yang sangat pribadi. Grup percakapan sejuta umat Whatsapp (WA) misalnya, kita dengan mudah bisa memetakan sikap seseorang akan sebuah kejadian atau peristiwa.
Melalui FB dan IG bisa memantau aktivitas seseorang, bahkan dengan aplikasi google map kita bisa tahu posisi lokasi keberadaan seseorang. Itu hanya sedikit contoh bagaimana mudahnya mencari informasi di era digital.
Jika mau sedikit mencari di mesin pengunduh aplikasi semacam Play Store, kita bisa mudah mendownload aplikasi semacam Fage GPS yang bisa digunakan untuk memalsukan keberadaan lokasi yang bersangkutan.
Detik ini bayangkan saja, Facebook menjadi aplikasi pertama non-Google yang berhasil menembus angka 1 miliar pengunduhan. Hari ini, WhatsApp dipastikan akan mengikuti jejak Facebook.
Sementara Gmail menjadi aplikasi pertama besutan Google yang mencapai prestasi tersebut, diikuti YouTube, Google Maps dan Google Search. Kondisi ini menurut Sundar Pichai, Senior VP of Product Google, makin banyaknya aplikasi yang tersedia di Google PlayStore yang bisa membuat orang biasa menjadi intel, dengan berbagai motif yang mengikutinya. Menjadi intel - intel swasta dunia maya.
* Peneliti LKPR analis Big Data dan Statistik
Silahkan Daftar! Kemenaker Kembali Buka Pelatihan Vokasi Batch 2 untuk 24 Kejuaruan, Berikut Caranya
Pangkas Birokrasi, RSUD Raden Mattaher Siapkan Layanan Uronefro Terpadu Pasien Gagal Ginjal
Pedagang Ketiban Berkah Iduladha : Harap APPSI Jambi Selalu Hadir Bawa 'Keajaiban' ke Pasar!
Pemuda Kreatif, Inovatif, Berjiwa Wirausaha di Komunitas Rumah Kreatif Pemuda Siginjai Kota Jambi
Pangkas Birokrasi, RSUD Raden Mattaher Siapkan Layanan Uronefro Terpadu Pasien Gagal Ginjal



