FKPT Dialog dengan Presiden Dema Se-Jambi, Asad Isma: Jangan Mudah Termakan Hoax



Jumat, 18 Maret 2022 - 21:52:51 WIB



JAMBERITA.COM- Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jambi bersama Dema UIN Sutha Jambi dan Dema Perguruan Tinggi se Provinsi Jambi menggelar dialog publik Jumat (18/3/2022).

Hadir menjadi narasumber Ketua FKPT Provinsi Jambi Asad Isma.

Dalam diskusi ini, Asad mengajak Presiden Dema Se Provinsi Jambi untuk meningkatkan literasi dengan rajin membaca buku. Agar memiliki wawasan luas. Apalagi mahasiswa yang hadir disini sudah menjadi leader sebagai presiden.

"Minimal 10 halaman sehari semalam. Sebulan 300 halaman. Akan beda orang yang rajin baca dan tidak," katanya.

Ia mengatakan jika kita banyak membaca maka pisau analisis menjadi tajam. Selain itu kemampuan komunikasi juga akan makin baik.

Dalam kesempatan ini, Bendahara Ricky Legawan memperkenalkan pengurus FKPT Provinsi Jambi. Termasuk program kerja FKPT.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk mengenali sikap intoleransi yang membahayakan kesatuan bangsa.

"Misalnya merasa dirinya paling benar, mudah mengkafirkan orang, menganggap bidah maulid nabi, qunut dan sebagainya," katanya.

Ia mengatakan kita boleh tidak setuju, tapi menghormati perbedaan. Jangan sampai termakan hoax. " Harus tabayyun. Jangan mudah mengesahre informasi yang belum jelas kebenarannya," katanya.

Sementara Kabid Media FKPT Provinsi Jambi, Siti Masnidar menjelaskan kewaspadaan terhadap paham terorisme. Karena saat ini menyasar ke anak muda. Ini terbukti beberapa pelaku bunuh diri ada yang berusia 18 tahun.

"Bibitnya adalah intoleransi. Yakni orientasi negatif atau penolakan seseorsng terhadap hak politik dan sosial dari kelompok yang tidak ia setujui. "Jika sudah intoleransi maka bisa muncul radikalisme yakni melakukan perubahan dengan cara ekstrim. Ini bisa menjadi bibit terorisme," katanya.

Sementara itu, Fiet haryadi yang merupakan Satgas FKPT yang juga Kasubag Konflik di Kesabangpol Provinsi Jambi mengatakan banyak yang terpapar paham terorisme ini dari informasi di internet.

"Misalnya dari media sosial. Belajar agama dari Mbah Google. Disini yang kerap terpapar paham radikalisme hingga masuk ke kelompok teroris," katanya.

Ia mengajak mahasiswa untuk waspada informasi hoax di media sosial. Sehingga jika ada informasi bisa melakukan klarifikasi atau bertanya ke dosen.(sm)





Artikel Rekomendasi