Oleh: Musri Nauli*
MENURUT kamus besar Bahasa Indonesia, arti ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis Menurut metode-metode tertentu yang dapat dipergunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu.
Arti kata “logika” adalah pengetahuan tentang kaidah berfikir. Dapat juga diartikan sebagai jalan pikiran yang masuk akal.
Sedangkan arti kata “rasional” adalah menurut pikiran dan pertimbangan dengan alasan yang logis. Atau Menurut pikiran yang Sehat. Cocok dengan akal.
Secara umum logika bersifat rasional. Sedangkan ilmu yang disusun harus bersifat logis dan sistematis. Demikianlah esensi ilmu yang berkembang di dunia ilmu pengetahuan.
Namun akhir-akhir ini, menekankan logika dan rasional semata justru meminggirkan sifat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Padahal hakekat ilmu pengetahuan untuk memenuhi dahaga “rasa ingin tahu”. Keingintahuan dari manusia terus berkembang. Sehingga berbagai pertanyaan demi pertanyaan silih berganti.
Satu pengetahuan yang sudah pakem ternyata didalam perkembangan justru runtuh dengan sendirinya dengan perkembangan itu sendiri.
Sehingga ilmu kemudian ditempatkan sebagai kebenaran sementara (kebenaran tentatif).
Selain itu menempatkan semata-mata “logis-sistematis” sebagai pondasi ilmu justru berhadapan dengan logika itu sendiri.
Bukankah ketika “akal Sederhana” manusia pasti menolak bentuk bumi bulat sebagaimana sering dan akhir-akhir ini menjadi polemik.
Pertanyaan Sederhana apabila Bumi itu bulat lalu bagaimana manusia tidak jatuh dari Bumi ?
Nah, logika Sederhana itulah kemudian berkembang. Dan ilmu pengetahuan mampu menjelaskan bagaimana bumi “menangkap didalam bumi” yang kemudian dikenal sebagai “grativasi”.
Jadi ketika “logika” belum mampu menjangkau dan masih dianggap misteri, maka selain “logis-sistematis” harus diperlukan upaya lain.
Nah. Ditengah masyarakat Melayu Jambi, cara-cara menangkap gejala-gejala alam itu berlandaskan kepada seloko “Alam takambang Jadi Guru”. Mengutip ujaran dari Minangkabau.
“Alam”lah yang menjadi guru. Mengajarkan berbagai hal tentang alam dan gejala-gejalanya.
Namun yang belum banyak diberi ruang adalah “cara pandang” antara masyarakat yang semata-mata mengagungkan ilmu pengetahuan dengan cara pandang masyarakat Melayu Jambi. Kalaulah tidak disebut sebagai masyarakat timur.
Terhadap gejala-gejala alam ataupun pengetahuan yang didapatkan dari alam sekitarnya yang menjadi cara pandang masyarakat Melayu Jambi masih ditempatkan sebagai “alam magis”. Bahkan terhadap peran-peran tokoh-tokoh informal yang mengatur kehidupan sosial sehari-hari lagi-lagi ditempatkan sebagai “tokoh magis”.
Padahal apabila ditelisik lebih jauh, justru “logika” Mereka (kaum barat) yang susah menangkap gejala-gejala alam ataupun cara pandang masyarakat Melayu Jambi.
Cara Pandang kaum barat mengenai gejala-gejala alam, cara pandang dan kepemimpinan masyarakat Melayu Jambi dan menempatkan sebagai “alam magis” atau “tokoh magis” justru meminggirkan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Masih ingat ketika Candi Borobudur sebagai mahakarya arsitektur Indonesia kemudian ditempatkan sebagai “matematika tingkat tinggi”.
Kesulitan ilmu pengetahuan modern untuk mengungkapkan “rahasia” yang tersembunyi di Pembangunan Candi Borobudur yang dibangun abad XIV justru baru terungkap beberapa tahun terakhir.
Lalu mengapa ilmu modern belum mampu menjangkau sehingga baru terungkap 7 abad kemudian. Apakah ketika baru terungkap disebabkan materi “etnomatetika” baru diketahui ?
Yap.
Tidak dapat dipungkiri, ketika dunia modern Menempatkan “empiris-rasional” kemudian menghasilkan “materiil”. Sehingga ilmu hanya mengakui “empiris-rasional” sebagai ilmu (rasional).
Ilmu yang berangkat dari “rasio” lebih menitikberatkan kepada akal. Sebuah ciptaan dari Sang pencipta untuk memahami alam Semesta.
Namun ketika “akal” ditempatkan semata-mata “satu-satunya” memahami alam Semesta, disinilah titik berangkat yang kemudian “meminggirkan” manusia.
Sehingga diluar dari daya tangkap akal maka tidak dapat disebutkan sebagai ilmu pengetahuan. Sehingga materi diluar akal justru ditempatkan sebagai “tidak masuk akal”.
Padahal akal cuma “alat bantu”. Selain akal, Tuhan justru menciptakan intuisi, nurani, Intelektual dan naluri. Belum lagi adanya “campur tangan” tuhan didalam memberikan pengetahuan.
Entah itu Wahyu (yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul), karomah (keramat yang diberikan kepada manusia pilihan) ataupun ilham (wangsit).
Padahal Issac Newton atau Archimedes justru menggunakan ilmu pengetahuan untuk menjelaskan peristiwa yang menimpanya.
Bukankah ketika Issac Newton menemukan hukum gravitasi Bumi justru atau ketika adanya pohol apel yang jatuh dari pohon.
Atau Archimedes yang menemukan hukum “gaya achimedes” ketika hendak berendam di bak air, kemudian air tumpah. Kemudian berlari keluar dari bak air yang kemudian meneriakkan “Aurek. aureka”.
Ketika Issac Newton atau Achimedes kemudian menemukan pengetahuan, maka sering disebutkan sebagai “ilham”, “wangsit”. Walaupun sebenarnya “itulah karomah” dalam konteks yang berbeda.
Dengan demikian maka untuk memahami Candi Borobudur selain menggunakan “akal”, juga belajar Simbol, makna tersirat, cara pandang (Kosmopolitan). Termasuk menggunakan intuisi, intelegensia, nurani dan nalurai.
Sehingga Penelitian 2008 hingga 2011 kemudian dapat membaca kerumitan didalam melihat Candi Borobudur.
Menurut detik.com Jumlah stupa Borobudur memakai rumus 2:3:4. Tinggi dan diameter stupa memakai rumus 1,7:1,8:1,9. Sedangkan kaki candi, badan candi dan kepala/puncak candi memakai rasio 4:6:9.
9 Sebagai angka penting dalam spiritualisme Buddha diaplikasikan dalam pola arca dan anak tangga. Misalnya, total ada 504 arca dimana 5+0+4=9. Lalu total anak tangga ada 360 dimana 3+6+0=9.
Konsep matematika terakhir adalah teselasi atau penyusunan berlapis oleh suatu bentuk poligon. Setiap stupa Candi Borobudur disusun dari 36 kubus berukuran 15x15 cm. Total luas permukaan kubus adalah 36 x (15x15) = 8.100 cm2 yang jika semua angkanya dijumlahkan 8+1+0+0=9.
Ilmuwan pun yakin Candi Borobudur adalah produk etnomatematika. Angka-angka yang muncul dalam ajaran dan filosofi Buddha hadir dalam elemen-elemen bangunan Candi Borobudur mengikuti pola geometri frakta.
Tidak salah kemudian manusia modern justru belajar dari warisan adiluhung leluhur moyang Indonesia.
Meminggirkan intuisi, nurani, Intelektual dan naluri dan mengabaikan makna dan simbol dari “Benda” yang dilihat justru akan “menjauhkan” manusia didalam melihat alam.
Dan ciptaan yang Diberikan Tuhan kepada manusia justru hanya menempatkan manusia sebagai “makhluk semata”. Bukan manusia yang mempunyai makhluk yang Mulia.
Tentu saja masih banyak pengetahuan ditengah masyarakat yang harus diungkap.
Sekali lagi pengetahuan masyarakat adalah pengetahuan empirik. Kebenarannya dapat diukur.
Dan ilmu pengetahuan harus mampu mengungkapnya. Bukan hanya menempatkan sebagai “alam magis”.
*Advokat. Tinggal di Jambi.
Gubernur Al Haris Fasilitasi Kepulangan 3 Warga Jambi Korban Scam Kamboja, 1 Orang Malah Menghilang
Tegas! Kanwil Kemenkum Jambi Ke Majelis Pengawas : Periksa Jika Ada Dugaan Pelanggaran Notaris
SAH Serukan Gerakan Sadaqah Tani Jadi Solusi Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan di Jambi
Menyikapi Maraknya Narkoba di Era Pandemi Covid – 19 Saat Ini dan Berbagai Dampaknya
Dampak Lingkungan Yang Dapat Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba Jenis Ganja
Kenali Narkoba Sejak Dini, Dan Bentuk Masa Depan Generasi Muda Yang Lebih Baik


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


