Oleh : Dr. Noviardi Ferzi, SE.MM*
Setahun lebih sudah Pandemi Covid-19 berlangsung, tepatnya sejak 11 Maret 2020 ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan secara formal dunia memasuki pandemi.
Sebagai wabah yang menular pandemi memaksa manusia mengadopsi gaya hidup baru, mulai dari cara bekerja, bersekolah, hingga bersosialisasi.
Karantina, isolasi, berhentinya rutinitas, serta berkurangnya kontak sosial dan fisik dengan orang lain sering terbukti menyebabkan kejenuhan yang dapat menyusahkan para mahasiswa yang menjalani Pembelajaran Jarak Jauh di rumah. Perasaan negatif ini diperburuk dengan tidak dapat mengambil bagian dalam kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan.
Memang manusia dibekali kemampuan untuk beradaptasi dalam kondisi apa pun. Namun, berapa lama bisa bertahan dalam situasi yang baru tergantung masing-masing individu.
Rasa jenuh dapat mempengaruhi perilaku. Kecenderungan kejenuhan yang tinggi telah dikaitkan dengan berbagai perilaku negative seperti timbulnya kecemasan dan stress.
Kejenuhan dapat didefinisikan sebagai keadaan ketidakpuasan yang dihasilkan dari kombinasi lingkungan yang tidak menarik dan kendala perhatian.
Pada umumnya, kejenuhan terjadi ketika stimulasi rendah. Sebagai contoh adanya perkuliahan yang menggunakan Zoom Meeting oleh seorang dosen banyak direspon oleh mahasiswa tanpa rasa antusias akibat kejenuhan atau kebosanan, yang bisa dilihat dari rasa stres karena tidak jelas kapan situasi ini akan berakhir, atau justru merasa pasrah jika tertular penyakit dari pada tidak bisa melakukan hal yang diinginkannya. Itu sebabnya banyak yang mulai abai dengan protokol kesehatan.
Sebagai sindrom psikologis kejenuhan terdiri dari tiga dimensi yaitu kelelahan emosional (emotional exhaustion), depersonalization (mengalami kelelahan fisik dan mental yang cukup lama serta menunjukkan “keanehan”), dan low personal accomplishment (menurunnya pencapaian atau prestasi diri) yang dapat dialami setiap individu yang belajar, dalam hal ini mahasiswa.
Gelombang kejenuhan pandemi antara lain bisa dilihat dari grafik penularan Covid-19 yang fluktuatif. Misalnya pada masa liburan atau hari raya, angkanya naik lagi. Sulit memang mempertahankan protokol kesehatan. Masyarakat lebih mengutamakan relasi keluarga, kegembiraan, dan kesenangan yang dirasakan, sehingga abai pada protokol kesehatan.
Kejenuhan pandemi tidak hanya dialami pada saat ada krisis kesehatan publik yang berlarut-larut seperti pandemi Covid-19, tetapi juga saat seseorang menderita penyakit kronis.
Kejenuhan dapat dikatakan berhubungan dengan kecemasan. Kejenuhan menurut LePera (2011) adalah keadaan ketidakpuasan yang dihasilkan dari kombinasi lingkungan yang tidak menarik dan kendala perhatian. Hasil penelitiannya menemukan hubungan antara kecenderungan kejenuhan dan kecemasan. Selain itu Brooks, et al. (2020) mengidentifikasi beberapa stress/kecemasan selama melakukan isolasi di rumah termasuk lamanya mengisolasi, ketakutan terjangkit infeksi, persediaan yang tidak memadai, informasi yang tidak memadai dan kejenuhan.
Dampaknya bermacam-macam tetapi secara umum yang terlihat adalah adanya semangat yan rendah dan terdapat ketidakpuasan yang disebabkan oleh situasi yang tidak menstimulasi secara memadai.
Jadi jenuh yang kita alami saat ini memang tidak seindah lagu " jenuh " Rio Febrian yang begitu indah untuk disenandungkan, tapi jenuh yang berupa kecenderungan menurunnya kesejahteraan psikologis serta berkaitan dengan stress dan kecemasan, juga masalah emosi. Semoga kita semua bisa bersabar dan tetap hidup kreatif dalam menjalani new normal, agar tak gampang menjadi jenuh. Salam.
* Dosen STIE Jambi.
Ekonomi Tumbuh 7, 07 persen, Hebat seperti 707 James Bond Tapi hanya Semu
OPINI: Kepastian Pemilu 2024 dan DPT yang Akurasi dan Mutakhir
OPINI: Dukungan Infrastruktur Pelabuhan dan Keseimbangan Industri Bagi Tol Laut Indonesia
Perancang Kanwil Kemenkum Jambi Kawal Penuntasan Ranperda Insentif & Kemudahan Penanaman Modal

