OPINI: Jenuh Yang Ini Bukan Lagu Rio Febrian



Kamis, 25 Maret 2021 - 06:59:20 WIB



Oleh : Dr. Noviardi Ferzi, SE.MM*

Setahun lebih sudah Pandemi Covid-19 berlangsung, tepatnya sejak 11 Maret 2020 ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan secara formal dunia memasuki pandemi.

Sebagai wabah yang menular pandemi memaksa manusia mengadopsi gaya hidup baru, mulai dari cara bekerja, bersekolah, hingga bersosialisasi. 

Karantina,  isolasi,  berhentinya  rutinitas,  serta  berkurangnya  kontak  sosial  dan  fisik  dengan  orang  lain  sering  terbukti  menyebabkan  kejenuhan  yang  dapat  menyusahkan  para  mahasiswa  yang  menjalani  Pembelajaran  Jarak  Jauh  di  rumah.  Perasaan  negatif  ini  diperburuk  dengan  tidak  dapat  mengambil  bagian  dalam  kegiatan  sehari-hari  yang  biasa  dilakukan.

Memang manusia dibekali kemampuan untuk beradaptasi dalam kondisi apa pun. Namun, berapa lama bisa bertahan dalam situasi yang baru tergantung masing-masing individu.

Rasa jenuh dapat mempengaruhi  perilaku.  Kecenderungan  kejenuhan  yang  tinggi  telah  dikaitkan  dengan  berbagai  perilaku negative seperti timbulnya kecemasan dan stress.  

Kejenuhan  dapat  didefinisikan  sebagai  keadaan  ketidakpuasan  yang  dihasilkan  dari  kombinasi  lingkungan  yang  tidak  menarik  dan  kendala  perhatian.

Pada  umumnya,  kejenuhan  terjadi  ketika  stimulasi  rendah. Sebagai contoh adanya perkuliahan yang menggunakan Zoom Meeting oleh seorang dosen banyak direspon oleh mahasiswa tanpa rasa antusias akibat kejenuhan atau kebosanan, yang bisa dilihat dari rasa stres karena tidak jelas kapan situasi ini akan berakhir, atau justru merasa pasrah jika tertular penyakit dari pada tidak bisa melakukan hal yang diinginkannya. Itu sebabnya banyak yang mulai abai dengan protokol kesehatan.

Sebagai sindrom psikologis kejenuhan terdiri dari tiga dimensi yaitu kelelahan emosional (emotional exhaustion), depersonalization (mengalami kelelahan fisik dan mental yang cukup lama serta menunjukkan “keanehan”), dan low personal accomplishment (menurunnya pencapaian atau prestasi diri) yang dapat dialami setiap individu yang belajar, dalam hal ini mahasiswa. 

Gelombang kejenuhan pandemi antara lain bisa dilihat dari grafik penularan Covid-19 yang fluktuatif. Misalnya pada masa liburan atau hari raya, angkanya naik lagi. Sulit memang mempertahankan protokol kesehatan. Masyarakat lebih mengutamakan relasi keluarga, kegembiraan, dan kesenangan yang dirasakan, sehingga abai pada protokol kesehatan.

Kejenuhan pandemi tidak hanya dialami pada saat ada krisis kesehatan publik yang berlarut-larut seperti pandemi Covid-19, tetapi juga saat seseorang menderita penyakit kronis.

Kejenuhan dapat dikatakan berhubungan dengan kecemasan. Kejenuhan menurut LePera (2011) adalah keadaan ketidakpuasan yang dihasilkan dari kombinasi lingkungan yang tidak menarik dan kendala perhatian. Hasil penelitiannya menemukan hubungan antara kecenderungan kejenuhan dan  kecemasan. Selain itu Brooks, et al. (2020) mengidentifikasi beberapa stress/kecemasan selama melakukan isolasi di rumah termasuk lamanya mengisolasi, ketakutan terjangkit infeksi, persediaan yang tidak memadai, informasi yang tidak memadai dan kejenuhan.

Dampaknya bermacam-macam tetapi secara umum yang terlihat adalah adanya semangat yan rendah dan  terdapat ketidakpuasan yang disebabkan oleh situasi yang tidak menstimulasi secara memadai.

Jadi jenuh yang kita alami saat ini memang tidak seindah lagu " jenuh " Rio Febrian yang begitu indah untuk disenandungkan, tapi jenuh yang berupa kecenderungan menurunnya  kesejahteraan psikologis serta berkaitan dengan stress dan kecemasan, juga  masalah emosi. Semoga kita semua bisa bersabar dan tetap hidup kreatif dalam menjalani new normal, agar tak gampang menjadi jenuh. Salam.

 * Dosen STIE Jambi.





Artikel Rekomendasi