Oleh: Sugilar
Ada hal yang menggembirakan ketika Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mengumumkan Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Januari 2021 naik sebesar 1,19% dibandingkan bulan Desember 2020. Kenaikan NTP mengindikasikan adanya perbaikan kesejahteraan petani karena meningkatnya harga jual komoditas pertanian lebih tinggi dari kenaikan harga yang harus dibayar petani.
Di masa pandemi, sektor pertanian berhasil bertahan di tengah perekonomian yang terus terkoreksi. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi Triwulan II tahun 2020 terkoreksi menjadi -1,75 persen dan di triwulan III masih terkoreksi menjadi -0,79%. Namun demikian sektor pertanian menjadi salah satu sektor ekonomi yang tahan banting, bahkan di triwulan II tumbuh positif sebesar 0,53 persen, walaupun di triwulan III tumbuh stagnan diangka 0 persen.
Ketahanan sektor pertanian di tengah pandemi dan resesi ekonomi tentu menjadi berkah bagi Provinsi Jambi yang sebagian besar penduduknya bertani. Pertanian menjadi bumper zone bagi tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan akibat PHK atau terhentinya usaha disektor jasa dan perdagangan yang terdampak secara langsung. Anak-anak muda yang kehilangan pekerjaan pulang kampung, bekerja sebagai buruh tani, mengurus kebun atau membantu usaha pertanian keluarga.
Indikasi migrasi perkerjaan dapat dilihat dari laporan hasil Survei Tenaga Kerja (Sakernas) BPS bulan Agustus 2019 dan Agustus 2020. Pada Agustus 2020 penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebesar 46,44 persen meningkat sebesar 0,52 persen poin dari periode yang sama tahun 2019.
Walaupun di wilayah perkotaan dan pedesaan sama-sama terjadi peningkatan pengangguran, tetapi kenaikan tingkat pengangguran di pedesaan jauh lebih kecil dibandingkan peningkatan penggangguran di perkotaan. Tahun 2020 angka pengangguran di perkotaan meningkat 2,5 persen poin dari 4,76 persen di tahun 2019 menjadi 7,26 persen di tahun 2020. Sedangkan di pedesaan kenaikannya hanya sebesar 0,39 persen poin, dari 3,71 persen di tahun 2019 menjadi 4,1 persen di tahun 2020.
Pertanian, tumbuh positif tetapi rentan
Meningkatnya NTP petani tidak lepas dari pengaruh perkembangan harga komoditas dunia. Seperti kita ketahui perkebunan merupakan subsektor pertanian yang paling banyak menopang perekonomian di Provinsi Jambi. Jambi memiliki perkebunan kelapa sawit, karet, pinang dan kelapa sebagai komoditas ekspor yang tergantung dengan perkembangan harga dunia. Sampai Januari (tahun berapa?)harga Crude Palm Oil (CPO) dunia pada CIF Rotterdam basis tercatat menguat 20,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Kenaikan harga CPO berpengaruh pada harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani. Selain sawit, dalam beberapa bulan terakhir harga karet di tingkat petani merangkak naik.
Namun demikian meningkatnya harga komoditas tidak semata-mata meningkatnya permintaan, tetapi karena kekuarangan pasokan akibat memburuknya kinerja perkebunan di Indonesia dan Malaysia. Analis komoditas LMC International Ltd Inggris seperti dilansir Warta Ekonomi (18/1) memperkirakan harga akan tetap tinggi di tengah produksi yang menurun akibat La Nina dan kurang optimalnya perawatan kebun selama Covid-19.
Harapan Petani
Mengingat pertanian menjadi tempat bergantung sebagian besar perekonomian rakyat maka selayaknya pemerintah meningkatkan perhatian dan mengerahkan anggaran untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui pelatihan, replanting maupun bantuan lainnya yang tercermin dari besaran anggaran yang dialokasikan. Membantu petani berarti membantu sebagaian besar penduduk dan sebagai bentuk terima kasih atas kontribusi petani selama masa pandemi yang belum juga berakhir.
Penulis adalah: Pegawai di Badan Pusat Statistik Kota Jambi
Bencana Alam, Investasi dan Malapetaka Lainnya yang Menghantui
Promosikan Produk Unggulan Daerah, Kanwil Kemenkum Jambi Ikuti Rakor Video Indikasi Geografis

