Oleh: Fransisko Chaniago, S.Sos., M.Pd
Mendefinisikan Pemimpin yang baik bukanlah suatu perkara yang mudah. Akan tetapi, pemimpin yang baik dapat dimaknakan sebagai seorang pemimpin yang membawa dan menerapkan nilai-nilai serta norma-norma yang baik dalam kepemimpinannya. Seorang pemimpin sejatinya yang bertanggung jawab terhadap kemaslahatan umat. Demikian pula ketika ia mengucapkan janji, baik sebagai individu atau sebagai seorang pemimpin, maka sudah seharusnya janji itu adalah amanah yang harus ditepati.
Selain membicarakan tentang pemimpin yang baik tentunya memiliki kaitan yang cukup erat dengan pemimpin yang ideal. Dalam ajaran Islam telah disebutkan tentang pemimpin yang ideal, dapat kita lihat sosok figur Rasulullah saw yang merupakan tauladan bagi manusia, termasuk para pemimpin yang menjadikan Rasulullah saw sebagai figur yang relefan untuk di teladani. Michael Hart pengarang buku The 100 yang menerangkan tokoh-tokoh berpengaruh sepanjang sejarah. Dalam bukunya tersebut ia menempatkan Rasulullah saw sebagai manusia berpengaruh sepanjang sejarah melebihi tokoh lainnya.
Oleh sebab itu Rasulullah saw dinobatkan sebagai figur yang sangat tepat untuk di teladani. Hal yang demikan telah tertuang dalam Al-qur’an surat Al-Ahzab : 21 yang artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.
Melihat fenomena pemimpin akhir-akhir ini acapkali ditemukan seorang pemimpin yang apatis tidak perduli terhadap rakyatnya dan hanya memikirkan kepentinganya sendiri. Definisi apatisme itu sendiri iyalah hilangnya simpati, ketertarikan, dan antusiasme terhadap suatu objek. Apatisme adalah ketidakpedulian individu, dimana seseorang tidak memiliki minat atau tidak adanya perhatian terhadap aspek-aspek tertentu seperti kehidupan sosial maupun aspek fisik dan emosional. (Solmitz). Hal demikian menjadi persoalan besar ketika diberi kepercayan sebagai seorang pemimpin, kerap sekali melakukan penyimpangan-penyimpangan yang tidak menggambarkan bahwa dirinya sebagai seorang pemimpin.
Jika kita melihat kepemimpinan pada zaman Rasulullah saw terdapat empat sifat yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu: Sidiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.
Sangat disayangkan seorang pemimpin hanya sekedar mengetahui bahwa Rasulullah saw adalah tauladan yang baik, pemimpin yang ideal, tetapi pemimpin saat ini merasa enggan dan kesulitan untuk mengaplikasikan dirinya sebagai pemimpin sebagaimana Rasulullah saw menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin.
Ironisnya lagi terdapat seorang pemimpin yang selalu ingkar janji kepada rakyatnya sehingga membuat rakyatnya merasa dilema akibat prilaku seorang pemimpin yang terkesan mengancam kehidupan mareka. Maka tidak heran lagi jika melihat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh seorang pemimpin sudah tidak lagi dianggap berbahaya.
Kondisi saat ini memiliki keselarasan dengan apa yang telah Rasullullah katakan yang artinya: “Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (berjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak suka dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji mereka) dengan keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi kepada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani).
Pada hakikatnya hubungan antara pimpinan dan rakyatnya iyalah merupakan hubungan yang bersifat vertikal, yaitu hubungan antara pimpinan dengan rakyatnya yang tidak terlepas dari adanya komunikasi yang baik. Lahirnya sikap apatis dari seorang pemimpin tentunya disebabkan oleh kurangnya komunikasi yang baik sehingga berdampak terhadap perkembangan dalam kepemimpinanya.
Pemimipin yang baik adalah pemimpin yang mendengar, melihat dan merasakan. Kesejahteraan adalah hal utama bagi rakyatnya, sebagai seorang pemimpin sepatutnya mengarahi dan mau memberikan apresiasi kepada rakyatnya, bukan malah sebaliknya memanfaatkan rakyatnya hanya untuk kepentingan pribadi.
Dalam prespektif Islam menyatakan pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang bermusyawarah, adil, serta mau mendengarkan pendapat rakyatnya. Bukan malah apatis hanya mengutamakan diri sendiri demi mendapatkan kekuasaan.
Penulis Adalah: Dosen Fakultas Syariah UIN STS Jambi
Napak Tilas Sejarah Provinsi Jambi, Warisan Usman Meng di Usia Senja
Catatan Buruk 2020, Karhutla dan Omnibus Law Jadi Ancaman di Jambi

