Narasi Anti Islam Tak akan Mampu Halangi Kebangkitan Islam



Senin, 14 September 2020 - 23:04:58 WIB



Maretika Handrayani, S.P
Maretika Handrayani, S.P

Oleh: Maretika Handrayani, S.P*

 

 

Sesat berfikir Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi yang menyebutkan bahwa paham radikal masuk ke lingkungan ASN dan masyarakat melalui orang berpenampilan menarik atau good looking, menguasai bahasa Arab, maupun Hafidz, dalam sebuah webinar bertema 'Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara' di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9). Menag juga meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan untuk tak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai aparatur sipil negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Umat Islam juga dicekoki dengan Islam versi rezim melalui program Dai bersertifikat yang diinisiasi Kemenag. Dimana para Da’i yang telah memperoleh sertifikat yang dapat diundang untuk memberikan kajian keIslaman.

Sebagai leading sector penanganan radikalisme agama, Kemenag makin nampak menyerang Islam dan memojokkan pemeluk Islam yang taat syariat dengan melemparkan narasi anti Islam yang telah melukai para Ulama dan seluruh kaum Muslimin. Bukan hanya sekali ini saja umat Islam dituduh dan disudutkan. Tak aneh bila publik menduga kuat bahwa sejak awal pelantikan, Menag telah membawa agenda deradikalisasi yang berkedok menghalangi kebangkitan Islam (Khilafah) yang mulai dirindui oleh banyak kalangan umat Islam.

Penolakan terhadap ajaran Islam (Khilafah) sebab kegagalan menangkap realita bahwa sistem politik demokrasi-kapitalisme sudah diambang kebangkrutan besar dan membutuhkan jalan baru. Sistem demokrasi yang diagung-agungkan bak ajaran sakral gagal menciptakan kesejahteraan rakyat, gagal menghentikan pandemi, gagal memberikan jaminan keamanan dan sederet kegagalan sistemik lainnya.

Penolakan terhadap ajaran Islam (Khilafah) juga terjadi karena gambaran penerapan syariat Islam dalam institusi Khilafah belum difahami secara utuh. Bukan hanya sebab jauhnya rentang waktu Kekhilafahan Islam dengan masa hari ini. Tapi lebih dari itu, berbagai upaya mengedukasi umat melalui Film Jejak Khilafah di Nusantara nampak sengaja digagalkan secara terstruktur. Seperti kacang lupa pada kulit, mata rantai jejak sejarah Khilafah Islam mendakwahkan Islam di Nusantara dan membantu para Sulthan melawan penjajahan Eropa di Nusantara juga dikaburkan dari benak generasi Muslim.

Namun kemenangan dakwah itu adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah SAW. Terbukti bahwa dukungan terhadapa perjuangan penegakan syariah dan Khilafah Islam semakin menggelora. Berbagai survey yang dilakukan sejumlah riset menunjukkan semakin besarnya animo dan dukungan umat terhadap perjuangan menegakkan Khilafah. Penolakan Khilafah oleh Menag tidak pernah bisa membatalkan sebuah kewajiban dari Allah dan RasulNya. Bagi intelektual Muslim yang kesehariannya bergelut dengan kitab-kitab klasik mu’tabar semestinya memahami bahwa Khilafah bukanlah perkara baru. Ia bukanlah

Khilafah adalah kebutuhan umat hari ini. Saat Demokrasi tak mampu memberikan jaminan kesejahteraan dan perlindungan atas nyawa dan kehormatan. Sekarang semua berpulang pada umat: apakah akan membiarkan begitu saja kewajiban agung, Taj al Furud, Khilafah sebagai mahkota berbagai kewajiban ini terbengkalai dan menyebabkan penderitaan dunia dan akhirat, ataukah kita bersegera menuntaskan kewajiban ini?

Lalu sekuat apapun usaha untuk menghalau dan menghentikan tugas agung ini tak akan bisa mencegah munculnya mentari pagi. Fajar Khilafah akan menyingsing menggantikan peradaban Demokrasi kapitalisme yang semakin rapuh. Musuh-musuh Allah berkehendak memadamkan agamaNya, tapi Allah telah menyempurnakan Nur-Nya.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.  (TQS An Nur : 55).(*)

 

 

Penulis adalah: Aktivis Dakwah Islam, Jambi*



Artikel Rekomendasi