Kader Murni VS Naturalisasi di Pilgub Jambi, Siapa yang Tersingkir?



Selasa, 30 Juni 2020 - 10:20:39 WIB



JAMBERITA.COM - Peta politik pada Pilgub Jambi saat ini kian tidak tertebak kemana arahnya. Hal ini dikarenakan beberapa partai politik masih belum menentukan arah dukungan. Karena hal ini para kandidat mulai gerilya untuk merebut dukungan partai.

Hanya saja, saat ini terlihat perebutan antara kader internal serta calon luar yang berkemungkinan akan dijadikan kader. Sejauh ini, terlihat ada Safrial dan Abdullah Sani sebagai kader PDI Perjuangan yang maju. Ratu Munawarah merupakan kader PAN, Fachrori Umar yang merupakan kader NasDem.

3 kader Golkar Sy Fasha, Cek Endra, Al Haris juga ingin merebut dukungan partai. Para kandidat ini juga berkemungkinan akan pindah haluan demi mendapatkan dukungan partai dengan menjadi kader partai baru. Sebut saja Cek Endra yang kini menjabat Ketua Golkar Jambi. Meski lebih berpeluang diusung, namun dua kader lainnya yakni Fasha dan Al Haris masih berkemungkinan untuk menyalip. 

Kabar beredar, Al Haris siap menjadi kader PAN asal diusung. Begitu juga Fasha, Walikota Jambi dikabarkan juga memberikan sinyal menyebrang dari Golkar jika tidak diusung. Ada beberapa partai yang memberikan peluang menjadi kader yakni PAN, Gerindra. Bahkan bisa saja PDIP.

Begitu juga Safrial dan Abdullah Sani. Dua kader banteng ini harus berebut PDIP. Keduanya bisa saja tersingkir jika mendadak ada Cagub yang bergabung menjadi kader PDIP. Karena baik Sani dan Safrial hanya mengambil posisi cawagub.

Begitu juga di PAN. Nama Ratu Munawarah. Meski sudah lebih 20 tahun di partai berlambang matahari terbit ini, Tapi bukan jaminan diusung. Karena posisinya yang juga sebagai wakil bisa kalah dengan Cagub yang mendadak naturalisasi menjadi kader PAN. Saat ini Ratu dikabarkan merapat ke PDIP pasca manuver PAN baru-baru ini.

Posisi Fachrori sebagai kader Nasdem juga belum aman. Apalagi setelah Fasha kepergok bertemu dengan petinggi Nasdem di Jakarta.

Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jambi Edi Purwanto mengatakan, tugas DPD PDI Perjuangan sudah selesai semuanya. Kewenangan itu tinggal berada di DPP lebih khusus kepada Ibu Ketua Umum. Karena itu, pihaknya tidak bisa mereka-reka keputusan yang diambil.

"Semuanya hak priogatif dari DPP. Yang jelas tetap kader jadi prioritas, kalau tidak kader ya dikaderkan. Pasti juga akan ada alasan lain seperti survei calon tersebut tinggi, peluang semua calon yang mendaftar sama. Siapapun yang ditunjuk nanti kami akan terima dan siap memenangkan," katanya kepada Jamberita.com.

Sementara itu, Bakri selaku Ketua DPW PAN Provinsi Jambi mengatakan, untuk dukungan itu semuanya semoga cepat selesai karena semua daerah yang melaksanakan pilkada sedang digarap, semoga Jambi jadi prioritas dahulu. Mengenai siapa yang didukung, itu semua ranah DPP.

"Yang jelas siapapun yang mendaftar di PAN itu punya peluang yang sama. Kami selaku DPW tinggal menunggu keputusan tersebut selesai. Apakah kader murni atau naturalisasi, kami tidak bisa menjawab itu semua," ujarnya.

Terpisah, Ketua DPW NasDem Provinsi Jambi Agus Roni tidak bisa dikonfirmasi Jamberita.com. Hanya saja beberapa hari lalu, Agus Roni memberikan pernyataan bahwa belum ada arah dukungan kepada kandidat dari NasDem sejauh ini.

Pengamat Politik Dori Efendi melihat kondisi ini menyebutkan, ada kemungkinan naturalisasi karena krisis kader didalam tubuh partai. Namun hingga saat ini masih belum ada kandidat yang akhirnya dinaturalisasi oleh partai. Contoh nyatanya adalah Al Haris yang sudah dapatkan 3 rekomendasi partai, apakah ada disodorkan KTA.

"Partai mana yang mau naturalisasi, kalau hanya untuk keuntungan sesaat hanya akan menimbulkan ketersinggungan kader internal. Tidak bisa untuk seperti itu, makanya sekarang susah untuk ada naturalisasi," katanya.

Ia mengatakan, hal itu sah saja terjadi, namun harus ada kandidat yang benar-benar bisa memenangkan kontestasi. Namun sekarang ini tidak ada calon yang benar-benar mendominasi untuk bisa menang. Kalau ada kandidat yang betul-betul mendominasi, mungkin saja partai akan rebutan untuk menjadikan kandidat tersebut sebagai kader.

"Beda dengan 2015 dulu, 2 kandidat yang maju kemarin memang benar-benar super power. Tinggal lagi sekarang bagaimana kandidat mampu untuk melobi partai untuk berpindah dukungan tersebut," tandasnya. (am)









loading...