Bahaya Broken  Home Dan Masa Depan Anak



Senin, 23 September 2019 - 13:53:05 WIB



Oleh: Fatma Wati*

Keluarga merupakan orang terdekat kita, di mana setiap harinya kita bertemu untuk bercerita menambah kedekatan emosional antara satu dengan yang lain. Keluarga bisa menjadi pelindung bagi anggota nya terutama orang tua, ayah sebagai tulang punggung keluarga mencari nafkah bertugas untuk membahagiakan keluarganya, di dampingi seorang ibu yang bertugas mendidik, merawat anaknya mengatur keuangan keluarga.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang sangat aman, kadang berubah menjadi sosok yang menakutkan karena kekerasan yang berdampak pada anak-anak tidak berdosa yang menjadi korban keegoisan orang tuanya sendiri, akibatnya masa depan mereka terancam suram, psikis mereka terganggu, jiwanya terguncang dan meninggalkan bekas yang berdampak bagi kehidupan si anak.

Broken home tersebut menuai banyak kasus kekerasan terhadap anak. Baik kekerasan jasmani maupun rohani. Terkadang dikarenakan orang tua tidak dapat mengontrol emosinya dan malah melampiaskan kepada anaknya sendiri, kasus kekerasan terhadap anak di kota Jambi masih terus terjadi, hal tersebut terlihat dari Data Pemberdayaan Masyarakat perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Jambi.

Berdasarkan data anak yang menjadi kekerasan periode Januari hingga Mei 2019 ada sebanyak 10 orang, sementara pada tahun 2018 ada sebanyak 50 orang anak menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual pada tahun 2017 ada sebanyak 46 orang anak yang menjadi korban.

Permasalahan yang sering terjadi di lingkup keluarga kini semakin banyak seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), eksploitasi anak, penelantaran anak, pembuangan hingga pembunuhan yang kerap terjadi. Fenomena ini terjadi ketika orang tua sudah tidak lagi berpikir dengan jernih, bahkan ketika semua ini sudah terjadi baru  mereka mengatakan “saya khilaf dan tidak bisa mengendalikan amarah” orang-orang selalu bilang “namanya penyesalan selalu datang belakangan”.

Dari analisa penulis berikut faktor pemicu terjadinya broken home. Pertama masalah ekonomi di tengah sulitnya ekonomi global dan nasional. Kedua, adanya orang ke tiga atau perselingkuhan, Ketiga, Selalu mementingkan egoisme semata. Keempat, Pendapatan istri jauh lebih besar dari suami dan si istri menjadi semena-mena terhadap suami, dan mungkin masih banyak lagi faktor-faktor pemicu tersebut.

Seharusnya orang tua lebih memikirkan apa dampak broken home tersebut. Mereka juga harus lebih mengutamakan kebahagiaan anak-anaknya, keutuhan rumah tangga, tidak mementingkan egonya masing-masing, selalu mengkomunikasikan apapun dengan anggota keluarganya atau saling terbuka, menjaga keharmonisan satu dengan yang lain dan saling kompak. Berangkat dari hal tersebut besar harapan agar terwujudnya keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah.

Karena meski bagaimana pun pilar keluarga yang solid di harapkan menghasilkan anak yang cerdas dan berguna bagi negeri ini. Karena ditangan anak-anak cerdas dan jujur itulah generasi masa depan Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang santun, Indonesia yang di segani negara lain.

Semua itu tidak akan bisa tercapai, jika masalah keluarga seperti KDRT, pelecehan seksual, penelantaran dan pembuangan anak terus masif. Negeri ini butuh generasi yang cerdas dan jujur, bila itu semua ingin di capai mari sama-sama segenap masyarakat, pemimpin bangsa dan seluruh yang berkepentingan di dalamnya, kita bangun rumah tangga yang baik demi mendidik generasi-generasi yang cerdas dan jujur, karena tidak bisa dipungkiri dari sinilah generasi awal itu di mulai.

Fatma Wati* Mahasiswi STIES Al-Mujaddid, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, anggota komunitas menulis Al-Mujaddid.







loading...