Oleh: Wandi, S.Hum. M.A
Pertanian di Indonesia merupakan salah satu sektor kunci perekonomian Indonesia. Meskipun kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto nasional telah menurun secara signifikan dalam setengah abad terakhir, saat ini sektor pertanian masih memberikan pendapatan bagi sebagian besar rumah tangga Indonesia (Wikipedia 2019). Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pekerja di sektor pertanian tercatat sebanyak 35,7 Juta Orang atau 28,79 % dari jumlah penduduk yang bekerja 124,01 Jiwa pada tahun 2018. Sementara untuk tahun 2017 jumlah pekerja di sektor pertanian diangka 35, 9 juta orang atau 29,68 % dari jumlah penduduk yang bekerja 121,02 juta orang.
Sedangkan dikutip dari angka sementara BPS Provinsi Jambi tahun 2005, ada sebanyak 46,88% dari jumlah tenaga kerja Provinsi Jambi bekerja pada sektor pertanian, perkebunan dan perikanan 21, 58 % pada sektor perdangan dan 12,58% pada sektor jasa. Dengan kondisi ketenagakerjaan yang sebagian besar masyarakat di Provinsi ini sangat tergantung pada hasil pertanian, perkebunan sehingga menjadikan upaya pemerintah daerah maupun pusat untuk mensejahterahkan masyarakat adalah melalui pemgebangan sektor pertanian.
Sementara dilansir di BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdangan Berjangka Komuditi), Daftar harga komoditi ditingkat petani per 29 Juni 2019 pukul 09:54 WIB.Harga Karet dikisaran 7000-8000, harga Sawit dikisaran 650-750, sementara harga kelapa dibagian Tanjung Jabung Timur berasa dikisaran 200.000/100Kg atau Rp 2000/kg.
Semua kejadian diatas adalah sedikit potret gambaran dinamika ekononi yang ada di Provinsi Jambi saat ini khususnya masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Rendahnya harga komoditi andalan masyarakat seperti kelapa yang yang terjun bebas sejak dua tahun terakhir berada dikisaran 2000/kg membuat masyarakat kian mengeluh ditambah dengan tidak seimbangnya harga sembako yang terus naik, melihat hal seperti ini tentu masyarakat menaruh harapan besar kepada pemerintah sebagai elemen yang memegang kebijakan-kebijakan penting didalamnya.
Sementara menurut Jacob Louis Mey Jr, Ekonomi mempunyai peran penting mengenai usaha manusia untuk mencapai kearah yang disebut kemakmuran didalam kehidupannya. Disamping usaha mencapai kemakmuran tadi tentu kita sebagai Negara demokrasi yang memegang azaz Pancasila dan UUD 1945,sangat memerlukan yang namanya pemerintah untuk mengatur segenap masalah yang ada termasuk merosotnya nilai komoditi petani saat ini.
Kekalahan Jokowi di Provinsi Jambi Sebagai Pelajaran
Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui pasangan Jokowi-Ma’ruf kalah di Provinsi Jambi. Keunggulan Prabowo-Sandi mencapai 58 % sedangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf harus puas menerima kekalahan dengan 42 % atau selisih 343, 192 suara. Prabowo sendiri berhasil mengambil kemenangan dari Jokowi di Provinsi Jambi pada gelaran Pilpres 2019 ini. diketahui pada Pilpres tahun 2014 silam, Jokowi yang kala itu berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih kemenangan tipis dari Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa di Jambi.
Berbagai spekulasi dan tafsir kemudian bermunculan, namun yang paling berasalan adalah turun bahkan anjloknya komoditas andalan petani di Provinsi Jambi seperti harga sawit, karet, kelapa, dan melonjaknya harga sembako tanpa diiringi naiknya harga komuditas andalan petani, “alih-alih naik bahkan trennya cendrung turun”. Meskipun pemerintah sendiri sudah berasalan bahwa itu adalah mekanisme harga yang diatur oleh pasar global.
Tentu dengan situasi seperti saat sekarang ini, dengan turunnya harga komoditas andalan pertanian petani Jambi, Masyarakat jadi enggan memilih Jokowi lagi, dan lebih menaruh harapan ke Prabowo-Sandi yang kemudian ini dipolitisasi oleh Rizal Ramli pakar Ekonomi Nasional dengan menyebut bahwa dengan tren turunnya berbagai harga dikalangan petani pemerintah harusnya ada trobosan baru. Terlepas dari konflik kepentingan atas dasar mencuri simpati warga, tentu segenap masyarakat menunggu bahkan berharap kepada pemerintah agar sistem ekonomi ini segera stabil.
Demi menyonsong pilkada serentak Provinsi Jambi tahun 2020 yang lebih baik agar melahirkan pemimpin yang berkualitas tentu semua kejadian diatas bisa menjadi cerminan agar masyarakat Jambi memiliki pemimpin yang bisa mencari seganap solusi permasalahan diatas.
Pilkada Serentak Jambi 2020 Harus Lahirkan Pemimpin Berkualitas
Untuk diketahui pada bulan September 2020 nanti, Provinsi Jambi melakukan Pilkada serentak di 5 Daerah di Jambi. Seperti dilansir di Jambi Berita. Adapun daerah yang akan melaksanakan Pilkada di Provinsi Jambi antara lain, Kabupaten Batanghari, Sungai Penuh, Bungo, Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur serta Pilkada Gubernur Jambi.
Tentu bukan kewenangan penulis untuk mendikte, mengajari bahkan menggurui bahwa siapa saja yang berhak jadi pemimpin, bagaimana track record pemimpin tersebut, sejauh mana kekuatan partai dan lobi politiknya, tulisan diatas bukan bertujuan untuk itu, tetapi hanya bertujuan merefleksi tentang turunnya komoditas petani kaitannya dengan para penentu kebijakan yang akan dipilih pada Pilkada Serentak di Provinsi Jambi.
Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dari hasil tani tentu mengetuk pintu hati penulis untuk sedikit berkontribusi buat para petani, minimal tulisan ini bisa jadi gambaran kepada masyarakat luas agar tidak ada lagi korban janji-janji para politisi, tidak ada lagi pembodohan untuk rakyat petani, tidak ada lagi penindasan dalam bentuk kapital oleh kaum borjouis terhadap kaum proletar (baca tentang marxisme dan marhainisme karya karl marx dan bung karno).
Maka dari itu besar harapan kita bersama rakyat Jambi khususnya para petani untuk harga komoditi segera normal. Jangan biarkan ini berlarut-larut tanpa ada kepastian dan arah yang jelas. Bagi penulis, Stop pilih pemimpin yang hanya berani umbar janji tanpa ada solusi kongkrit, mereka dipilih sebagai penyambung lidah masyarakat, yang bisa menolong jika terpuruk seperti ini. Untuk segenap masyarakat luas mari kita bangun politik yang bermartabat, sudahi politik kotor yang dengan bangga menerima “money politik” dari para politikus yang mengandalkan dompet tebal.
Pentingnya Pendidikan Politik
Demi menyonsong Pilkada Serentak di Provinsi Jambi yang lebih baik, jauh-jauh hari ada baiknya kita galakkan pendidikan politik secara massif dan menyeluruh sampai kepada tatananan masyarakat bawah. Agar masyarakat kita lebih bijak lagi dalam memilih wakil mereka, selain itu mereka juga bisa melihat kualitas calon kepala dan wakil kepala daerah yang akan berlaga nanti. Hal ini diharapkan agar masyarakat tidak terjebak pada lobang yang sama dan harusnya lebih bijak dalam memilih pemimpin.
Dari pendidikan politik yang berkualitas tadi, besar harapan para petani untuk lebih diperhatikan, demi kualitas hidup yang lebih baik. Kepada masyarakat agar kiranya kembali berkaca dan selalu jadikan pelajaran tentang politik yang telah lalu, jika tidak harapan lahirnya pemimpin yang berintegritas dari tangan masyarakat hanya sekedar slogan semata, dan harapan harga komoditas petani akan naik seperti dulu tampaknya masih harus bersabar. Untuk itu semoga Pilkada serentak ini ada calon kepala daerah yang bener-bener serius dan bisa memberikan solusi atas masalah yang masyarakat hadapi saat ini khususnya pada bidang pertanian.
*Dosen, dan Pendiri Komunitas Menulis Al-Mujaddid di STIES Al-Mujaddid, Kabupaten, Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Alumni Pascasarjana UIN Yogyakarta.
Pemuda dan Budaya Literasi, Respon Terhadap Revolusi Industri 4.0
Politik Pasca Pemilu, Cinta “Tanah Air” dan Persatuan Indonesia


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


