KRKP Nilai Capres Tak Punya Rencana Aksi yang Jelas Wujudkan Kedaulatan Pangan



Selasa, 19 Februari 2019 - 20:07:17 WIB



JAMBERITA.COM-  Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan menyatakan kekecewaannya terhadap hasil Debat Calon Presiden Jilid II Minggu (17/2/2019). Ini karena kedua calon presiden tidak menunjukkan seberapa jauh visi dan komitmen calon presiden dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan.

Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan mengatakan debat calon presiden jilid II seharusnya tidak hanya menyuguhkan drama debat tetapi juga seberapa jauh visi dan komitmen calon presiden dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan.

BACA: KRKP Nilai Kebijakan Kedaulatan Pangan Jokowi-JK Pinggirkan Petani, Ini Alasannya

Namun dari hasil pencermatan mereka tidak melihat rencana aksi yang jelas. Pertama, dalam dokumen visi dan misi yang diserahkan ke KPU dan debat tadi malam, tak satupun dari kedua calon presiden tersebut dengan eksplisit menggunakan atau menyatakan kedaulatan pangan sebagai bagian dari visi serta rencana aksinya.

“Hal ini tentu saja sangat disayangkan karena kedua capres seolah tidak lagi memandang penting kedaulatan petani dan rakyat atas pangan. Padahal undang-undang pangan telah dengan tegas memandatkan untuk mencapainya,” katanya dalam siaran persnya yang diterima jamberita.com Selasa (19/2/2019).
 
Kedua, kedua kandidat presiden terjebak pada paradigma pembangunan basisnya komoditas yang ujungnya hanya soal peningkatan produksi semata. Sementara fokus pada upaya peningkatan kualitas hidup petani nyaris tidak diperhatikan. Kalaupun muncul dalam visi misi seolah jargon karena tak disertai bagaimana cara mencapainya.

Ketiga, melihat dokumen visi misi dan debat capres terlihat bahwa yang ditawarkan sesungguhnya tidak ada yang baru. Calon nomor dua seperti mengulang apa yang dipikirkan dan disampaikan calon nomor satu pada periode sebelumnya. Nyaris tak ada terobosan yang mampu menjawab persoalan mendasar yang dihadapi petani.

Keempat, persoalan mendasar yang tidak secara tegas dijawab oleh capres baik dalam dokumen visi misi maupun debat tadi malam adalah skses terhadap sumber sumber produksi (lahan, benih, pupuk, pembiayaan, alsintan, dan lain-lain). Betul kedua capres menyatakan dalam dokumen visi misinya tapi tak banyak terobosan karena sejatinya calon nomor satu telah mencoba menjawab persoalan tersebut tetapi persoalan tersebut masih juga ada sampai hari ini. 

“Ambil contoh reforma agraria, belum sepenuhnya juga tercapai targetnya, akses terhadap sumber pembiayaan, sampai sekarang serapan oleh petani sangat kecil dan banyaknya diakses oleh petani kaya,” katanya.
 
selanjutnya, model pertanian berkelanjutan. Kedua capres tak menampakkan komitmen dan rencananya mengubah model pertanian yang sarat kimiawi menjadi model pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan atau ekologis. Capres nomor dua bahkan berencana memperbesar produksi pupuk NPK walaupun mengatakan akan memberikan insentif bagi produsen pupuk organik. Situasi agroekologi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan, rusak. Oleh karenanya untuk menjamin produksi berkelanjutan harus berubah paradigmanya dari konvensional sarat kimiawi menjadi ekologis, ramah lingkungan.
 
Berikutnya,  Pasar yang berkeadilan. Sampai saat ini petani menjadi pihak yang paling kecil menerima manfaat dalam rantai nilai pertanian. Sayangnya kedua capres tidak cukup jelas menyampaikan apa dan bagaimana starteginya. Semestinya ada rencana kebijakan dan program yang memungkinkan petani mendapat keuntungan lebih besar.

“Misalnya dengan meningkatkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) atau bahkan instrumen harga dasar misalnya, atau merevisi harga pembelian tertinggi. Memang keduanya menyinggung soal efisiensi rantai nilai salah satunya dengan menggunakan teknologi dan market place,” katanya.

Menurutnya, tawaran ini bisa jadi menjadi solusi tetapi perlu diingat ada kajian yang menunjukkan bahwa upaya memperpendek rantai nilai, salah satunya dengan penggunaan teknologi, tidak serta merta membuat petani mendapat keuntungan yang lebih baik karena justru dinikmati oleh pedagang dan penyedia jasa angkut produk pertanian.
 
terakhir,  satu pun dari keduanya menyatakan bahwa persoalan yang hari ini makin seragamnya pola konsumsinya dan itu mendorong makin tingginya impor. Padahal Indonesia memiliki sumberdaya pangan lokal yang luar biasa dan sampai saat ini belum termanfaatkan. Kedua capres lupa akan hal ini. Dengan melupakan hal ini maka situasi pangan Indonesia tidak akan benar-benar aman.(*/sm)

 



Artikel Rekomendasi