JAMBERITA.COM - Ketegangan di ruang real count Universitas Jambi (UNJA) terus memuncak siang ini. Jarum jam bergerak cepat mendekati pukul 14.00 WIB, batas akhir penutupan sistem e-voting Pemilihan Umum Raya (Pemira) Mahasiswa UNJA.
Suasana di pusat data terpantau senyap namun mendebarkan; setiap pergerakan grafik suara di layar digital disambut tatapan tegang dari para saksi dan tim sukses kandidat yang saling kejar-kejaran angka suara.
Menjamim ketersediaan konsumsi bagi seluruh panitia penyelenggara di lapangan dan keamanan ketat, dengan menyiagakan personel security di berbagai titik strategis untuk menjaga kondusivitas.
"Alhamdulillah, hasil pemantauan kami menunjukkan semua berjalan lancar. Security siaga, dan pihak fakultas juga aktif mengimbau mahasiswa untuk menggunakan hak pilihnya," tambah Warek III Prof Fauzi Syam yang melakukan pemantauan langsung kesetiap fakultas universitas, Sabtu (27/6/2026).
Hingga siang ini, arus data masuk menunjukkan lonjakan partisipasi yang luar biasa. Dari target yang ditetapkan pihak universitas sebesar 8.000 pemilih, sistem mencatat sudah ada 7.500 suara yang masuk ke peladen (server). Angka ini terus merangkak naik di menit-menit kritis terakhir, memicu andrenalin semua pihak yang terlibat dalam pesta demokrasi ini.
Pemira kali ini bukan sekadar pemilihan biasa. Ini adalah ajang pembuktian kematangan politik mahasiswa UNJA yang digelar layaknya Pemilu Nasional. Menariknya, dalam kontestasi super ketat ini, pihak universitas secara resmi menggandeng Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memastikan sistem berjalan kredibel, jujur, dan adil.
Sinergi penuh yang difasilitasi oleh pihak universitas melahirkan komposisi kelembagaan yang sangat lengkap dan belum pernah ada di kampus lain, meliputi:
Tiga Lapis Penyelenggara Resmi: Mulai dari panitia pelaksana teknis, jajaran Panitia Pengawas (Panwas), hingga Penyelenggara Pemilihan sebagaimana institusi KPU.
Kemudian, UNJA juga menyiapkan Mahkamah Penyelesaian Sengketa atau Lembaga yudikatif khusus kampus yang siap menyidangkan perkara jika ada kandidat yang keberatan dengan hasil akhir dari Fakultas Hukum.
Regulasi Ketat: Aturan main yang rigid dari rektorat untuk memastikan atmosfer kompetisi tetap sehat dan jauh dari konflik fisik.
Peralihan dari metode konvensional ke sistem digital (e-voting) terbukti sukses memotong potensi konflik horizontal di lapangan yang biasanya mencekam. Kendati demikian, ketegangan justru berpindah ke ruang siber dan layar real count. Sisa 500 suara dari target penutup menjadi penentu hidup dan mati bagi nasib para kandidat yang sedang bertarung memperebutkan kursi puncak organisasi kemahasiswaan tertinggi di UNJA.
"Semua sistem terjaga ketat, regulasi sudah dijalankan, dan semua pihak kini menahan napas melihat detik-detik penutupan," ungkap atmosfer disektar. Tepat pukul 14.00 WIB ini, sistem akan otomatis terkunci. Kandidat manakah yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang sejarah baru demokrasi digital di UNJA? Semua mata kini tertuju pada layar real count.(afm)
Pertama di Indonesia! UNJA Gelar Pemira E-Voting Serentak dengan Sistem Sengketa Resmi
Tingkatkan Dampak dan Kualitas Layanan Publik, Kementerian PANRB Evaluasi Kinerja Pemerintah Digital
Detik-Detik Menegangkan Menjelang Pukul 14.00 WIB: Siapa Pemimpin Baru Mahasiswa UNJA?
Perkuat Jaringan Global, UNJA Gandeng Konsulat Jenderal Tiongkok untuk Kemajuan Pendidikan
Rektor UNJA Lantik Pejabat Baru Periode 2026–2030, Tekankan Mutu dan Akreditasi Internasional
Rektor dan Dekan FH UNJA Sambut Hangat Wamenko Hukum dalam Seminar Nasional KUHP-KUHAP Baru
Progres Pemeliharaan Jalan Ranah Pemetik Capai 45 Persen, UPTD WDP Tinjau Lapangan

