Jakarta - Beberapa penelitian menghubungkan diabetes dan Covid-19. Benarkah anak-anak lebih rentan mengalami diabetes setelah terkena Covid-19?
Laporan “ Risk for Newly Diagnosed Diabetes >30 Days After SARS-CoV-2 Infection Among Persons Aged ” ??yang diterbitkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengemukakan risiko diabetes pada orang kurang dari 18 tahun setelah mereka terkena Covid-19 .
“Orang berusia kurang dari 18 tahun dengan Covid-19 lebih mungkin menerima diagnosis diabetes baru lebih dari 30 hari setelah infeksi, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengidap Covid-19 dan mereka yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut prapandemi. Infeksi pernapasan non-SARS-CoV-2 tidak menyebabkan peningkatan risiko diabetes,” tulis peneliti dalam laporan penelitian itu.
Menurut studi CDC tersebut, melansir dari WebMD , Senin, 10 Januari 2022, anak-anak yang sembuh dari Covid-19 berisiko lebih tinggi terkena diabetes Tipe 1 atau 2. Dalam kumpulan data pertama, ditemukan peningkatan 2,6 kali lipat kasus diabetes baru di antara anak-anak. Sedangkan dalam kumpulan data kedua ditemukan peningkatan risiko diabetes sebanyak 30 persen.
Direktur NYU Langone's Pediatric Diabetes Center Mary Pat Gallagher mengatakan infeksi tertentu bisa menciptakan 'badai sempurna' yang berkontribusi terhadap perkembangan diabetes.
“Jika Anda sedang dalam proses mengembangkan diabetes, akankah infeksi benar-benar mendorong Anda untuk mendiagnosis lebih cepat? mungkin kita sekarang mengetahui bahwa Covid adalah salah satu virus yang mungkin bisa melakukan itu sedikit lebih banyak daripada virus lain,” kata Gallagher dalam laman CBS News , Jumat, 14 Januari 2022.
Direktur Divisi Endokrinologi di John Hopkins Sheela Natesh Magge juga melihat peningkatan diagnosis diabetes pada anak-anak selama pandemi. “Dan mereka lebih sakit,” ujar Magge.
Studi CDC, lanjut dia, membantu menegaskan informasi tersebut. Namun, studi ini tidak menjelaskan pemicu diabetes itu apakah karena Covid-19 atau faktor lain.
Selain itu, studi ini berdasarkan data dari klaim asuransi dan tidak mencakup informasi terkait faktor risiko demografis yang bisa berkontribusi pada diagnosis diabetes, termasuk status kesehatan, berat badan, dan lingkungan.
Magge secara khusus menjelaskan pandemi Covid-19 telah meningkatkan kerawanan pangan bersama dengan meningkatnya stres dan obesitas sekana dua tahun terakhir. Faktor-faktor ini secara signifikan bisa mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
“Ada beberapa bukti infeksi Covid-19 dapat mempengaruhi sekresi insulin. Jadi, kami tidak tahu apakah berbagai efek pandemi yang menjadi penyebabnya, apakah itu benar-benar (karena) infeksi, atau apakah hanya pandemi itu sendiri dan semua faktor sosial yang terkait dengannya?” ujar Magge.
Para peneliti mencatat, ada kemungkinan beberapa pasien dalam penelitian CDC itu yang sudah memiliki pradiabetes ketika mereka tertular Covod-19. Pradiabetes ini mempengaruhi 20 persen remaja di Amerika Serikat mendapatkan diagnosis diabetes.
Magge mengatakan, jika seseorang sudah berisiko, pandemi mungkin risikonya. Stres dari infeksi apa pun dapat meningkatkan gula darah dan membuat Anda berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi diabetes karena gula darah Anda bisa meningkat.(sumber.tempo.co)
Mengenal Vaksin mRNA, Vaksin Covid-19 yang Disebut-sebut Paling Kuat
Pemerintah Diingatkan Indonesia Akan Hadapi Jurang Fiskal dan Ekonomi yang Berat Pada 2023
Nurhayati Ditetapkan Tersangka, PB HMI: Salah Kaprah Pemberantasan Korupsi di Tingkat Desa
Cegah Korupsi di Lingkungan Perguruan Tinggi, KPK Luncurkan Menu JAGA Kampus
Berikan Solusi Atasi Krisis, Rokhmin: Jokowi dan Anggota Kabinet Perlu Baca Buku Karya Anis Matta


Menambal Asa di Jalur Penyangga : Komitmen PUTR Jambi Benahi Infrastruktur Jalan Padang Lamo



