Masa Depan Media Massa di Era Digital



Kamis, 03 Februari 2022 - 10:12:33 WIB



Ilustrasi
Ilustrasi

JAMBERITA.COM, JAKARTA – Di era digital seperti saat ini, media massa perlu membayangkan kembali memahami. Banjir informasi dari media sosial membuat media massa tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi seperti di masa lalu. Hal itulah yang kemudian menjadi tema utama dalam rangkaian pertama seri Webinar Independent Media Accelerator, yang diadakan Tempo Institute, pada Senin, 31 Januari 2022.

Hadir sebagai narasumber diskusi ini Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Usman Kansong; anggota Dewan Pers dan Direktur Utama Tempo Arif Zulkifli; pendiri Narasi Najwa Shihab; Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim. Sebagai penanggap Ignatius Haryanto, akademisi Universitas Multimedia Nusantara.

Arif mengatakan, kita menyadari saat ini media tidak hanya perlu menyajikan informasi dalam bentuk tulisan. Produk jurnalistik berupa berita tertulis harus dikembangkan dan disajikan dalam format yang lebih menarik dengan berbagai platform multimedia.

Masalahnya, tidak semua media memiliki kemampuan dan kefasihan berbicara dalam bahasa multimedia. “Karenanya, kita perlu berkolaborasi dengan pihak lain yang lebih fasih dalam bahasa digital. Kita berikan ekspertisenya pada pihak lain, tetapi value tetap menjaga yang telah kita miliki,” kata Arif Zulkifli.

Pendiri Narasi, Najwa Shihab, sepakat dengan Arif. Menurutnya, kolaborasi serta menciptakan ekosistem pembaca yang fanatik, bisa menjadi salah satu solusi untuk keberlangsungan media. Ia mencontohkan kasus serial #PercumaLaporPolisi, yang diterbitkan Project Multatuli. Laporan itu kemudian dicap hoaks dan situs websitenya kena serangan. Peristiwa itu akhirnya menciptakan solidaritas dari berbagai media, untuk mereplikasi dan mempublikasikan kembali laporan tersebut, di media masing masing.

“Kolaborasi telah menciptakan solidaritas, dan terbukti mampu mengungkap persoalan publik secara luas, karena masing masing media punya pembaca. Kolaborasi bukan hanya terbatas media, tetapi bisa jurnalis, influencer, dan sebagainya,” kata Najwa.

Selain itu, media harus terus berinovasi dan kreatif. Sajian berita Narasi akan berbeda di YouTube dan Instagram. Untuk menyajikan laporan investigasi pembakaran halte Transjakarta, misalnya, redaksi Narasi mengumpulkan rekaman video dari semua media sosial, kemudian ditambah dengan wawancara dan investigasi. “Kemampuan wartawan menyajikan informasi menarik dalam waktu singkat, itu penting diasah. Karena teknologi mengubah segalanya untuk menyampaikan informasi secara kreatif dan menarik,” jelas Najwa.

Usman Kansong melihat kolaborasi yang dilakukan harus dalam bentuk ekosistem yang baik, bukan hanya aksi dadakan dan sukarela. Diharapan, revisi Undang-undang Penyiaran akan mengatur ekosistem penyiaran berbagai konten di media sosial. Misalnya semua harus berbadan hukum. UU Pers telah mengatur media massa harus berbadan hukum, dan perlu verifikasi Dewan Pers. “Sehingga ekosistemnya perlu disiapkan. Implikasinya, misalnya masyarakat tidak mau membaca media yang belum terverifikasi,” jelas Usman.

Sasmito Madrim berpendapat, untuk bisa membuat ekosistem yang rapi seperti itu, kita harus memiliki data valid jumlah media di Indonesia. Meskipun Dewan Pers mencatat ada sekitar 40 ribu media, namun saat ini hanya sekitar 10 ribu media yang baru terverifikasi. “Dengan adanya data valid, maka persoalan mendasarnya bisa diketahui, kemudian data itu bisa menjadi dasar diskusi soal inovasi model bisnis media saat ini,” kata dia.

Menanggapi diskusi tersebut, Ignatius Haryanto meyakini jika media lokal mampu memanfaatkan kondisi daerah dalam menyajikan informasi. Mereka akan menjadi spesialis yang sangat paham kondisi daerahnya. Informasi dengan data kuat seperti ini sangat diubutuhkan dan karenanya akan banyak yang bersedia berlangganan (berbayar) untuk mendapatkannya. . “Kembali ke potensi lokal di daerah, misalnya potensi wisata dan dan potensi kuliner, semua itu bisa dimanfaatkan,” kata dia.

Andini Effendi selaku moderator sempat bertanya kepada sekitar 270 peserta diskusi, apakah akan berkontribusi untuk jurnalisme berkualitas? Ada sekitar 70 peserta yang bersedia dan siap untuk menjadi pelanggan berbayar media untuk informasi berkualitas.

---

Tentang Independent Media Accelerator

Independent Media Accelerator merupakan upaya sejumlah lembaga untuk mengakselerasi media massa agar mampu bersaing di era tengah disrupsi digital saat ini. Ada tiga hal yang ingin diakselerasikan yaitu, kualitas jurnalisme, transformasi digital, dan mencari model bisnis baru media.

Kolaborator kegiatan ini adalah Tempo Institute, Kominfo, Google, AJI Indonesia, AMSI dan Visi Integritas. Kegiatan yang dilakukan di antaranya webinar serial, media pelatihan dan fellowship.

Dalam pelatihan nanti akan ada 10 media yang akan berkesempatan mengikutinya. Mereka diharapkan mengirimkan tiga wakil yang akan mendalami bidang konten, transformasi digital, dan bisnis. Lima dari 10 media yang terpilih akan berkesempatan mengembangkan proyek kecil akselerasi di media masing-masing, dengan didampingi oleh mentor yang kapabel di bidangnya.(*)



Artikel Rekomendasi