JAMBERITA.COM - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi dalam waktu dekat ini akan mengajukan pengadaan Cold Storage atau alat penyimpanan yang dingin untuk mengamankan beberapa komoditi ketahanan pangan.
Seperti misalnya, Daging Beku, Daging Ayam, Cabe dan komoditi komoditi lainya. Ketika harganya di bawah standar pasar, maka akan dibeli oleh pemerintah untuk distok, lalu pada saat adanya lonjakan harga itu akan dijual kembali ke pasar.
Sekda Provinsi Jambi M Dianto mengatakan pengadaan tersebut upaya untuk menjaga stabilitas harga komuditi sekaligus pangan strategis yang dibutuhkan oleh masyarakat, terlebih pada saat menjelang hari besar keagamaan.
"Bulog sudah oke, nanti pada saat (lebaran) baru kita lempar ke pasar," katanya waktu lalu ketika melakukan inspeksi mendadak (sidak) Satgas Pangan di Pasar Angso Duo (2/6/2019) waktu lalu.
Dalam rapat pembahasan, kata Dianto, Tim Satgas Pangan bersama TIM Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jambi, yang terdiri dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jambi bersama Bulog sudah sepakat terkait rencana pengusulan cold storage.
"Masalah anggaran pembelian nanti Bulog yang akan turun, karena Bulog itu di Kementerian Keuangan ada anggaran khusus untuk beberapa komoditi atau pangan strategis yang boleh mereka amankan atau diambil (dari pedagang) lalu mereka lepas di pasar, lagi," ungkapnya.
Menurut Dianto, khususnya di Provinsi Jambi yang seringkali menjadi kendala itu ada dua komoditi yakni Daging Ayam dan Cabe, dari itu melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Jambi dapat segera menyiapkan cold storage yang disusulkan pada anggaran perubahan.
"Pada saat harga dibawah harga standar pasar, maka itu (komuditi) kita beli, biasanya cabe kalau panen secara bersamaan harganya pasti menurun bahkan bisa menyentuh di harga Rp.10 ribu/Kilogram," terangnya.
Lebih lanjut, dengan adanya cold storage selain menstabilkan harga komuditi sebut Dianto, ini juga salah satu upaya pemerintah provinsi Jambi agar dapat mensejahterakan para petani yang sudah bersusah payah untuk mendapatkan hasilnya.
"Kalau petani menjual barang di bawah Nilai Tukar Petani (NTP) artinya petani kan rugi, kita kan nggak mau juga, kalau petani kita rugi, kalau dia jera nanti, siapa lagi yang mau jadi petani," pungkasnya.(afm)
Pasca Serangan Bom di Kartasura, Kapolda Jambi hingga Danrem Pinta Personil Siaga dan Waspada
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H, RSUD Raden Mattaher Jambi: Jaga Pola Makan
Kejutan di Malam Lebaran, Fachrori Berikan Bingkisan bagi Perawat dan Pasien di RSUD
Ambil Momentum Lebaran, SAH Lakukan Kunjungan Kerja Sekali Setahun

