JAMBERITA.COM - Tanama umbian ini di Desa Serdang Sari awalnya tumbuh liar tanpa memiliki nikai ekonomis. Masyarakat juga tidak memudidayakannya karena harganya yang rendah.
Namun di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Tri Manunggal Desa Serdang Sari, Bantul, umbi umbian yang terdiri dari Gadung, Garut, Telo, Talas dan lainnya ini diubah menjadi berbagai snack seperti kerupuk dengan berbagai variasi.
"Tanaman umbi yang biasanya tidak memiliki harga ini. Dulu gadung ini hanya Rp 600 per kg," kata Sumiati, Ketua KWT, Tri Manunggal Desa Serdang Sari saat disambangi peserta media workshop dan peneliti Cifor dalam rangka Rain Forest Asia Pacific III pada Minggu (22/4/2018).
Kini setelah mencoba mengelolanya menjadi berbagai makanan, harganya bisa naik drastis. Tidak hanya umbi umbian, jagung juga diolah menjadi snack yang gurih.
Alhasil masyarakat makin semangat untuk membudidayakannya. Apalagi umbi umbian bisa menjadi tanaman dibawah tegakan dari pohon yang ditanami masyarakat.
"Pohon yang ditanam baru panen dalam 10-20 tahunan. Tapi dengan adanya tanaman dibawah tegakan ini, bisa menjadi penghasilan bulanan. Walaupun panennya juga butuh 6 bulan. Tapi untuk hari hari bisa dari ternak ayam, bebek, entok dan lainnya," katanya. Ia mengatakan jagung misalnya 1 kg jagung bisa menghasilkan 7 ons. Dengan harga jika sudah jadi bisa sampai 80 ribu per kg. Kemudian untuk 5 kg garut itu menjadi 1 kg.
Biasanya anggota kelompoknya punya keahlian yang berbeda. Ada yang memilih mengolah jagung karena bahan baku yang lebih mudah, ada juga yang lebih tertarik pada Gadung dan Garut. "Jadi terserah mana sukanya," ucap Sumiati.
Ia sendiri memulai mempelajari pengolahan jagung dan umbi umbian ini pada tahun 2001. Waktu ada pelatihan dari instansi terkaitm setelah itu, Ia mulai mengembangkan apa yang sudah dipelajari kemudian diajarkan kembali ke ibu ibu disini.
Untuk pemasaran, Sumiati mengaku jika kelompok langsung memasarkan. Sehingga anggotanya yang berjumlah 20 orang ini jika mengantar kerupuk selalu akan dibeli kelompok. ''Pokoknya kalau bawa barang kesini pulang bawa uang," ucapnya sambil tersenyum.
Biasanya, dirinya selaku ketua kelompok memasarkannya ke berbagai daerah. Baik lokal tapi ada juga permintaan dari Medan dan Kalimantan. "Ini penjualannya online. Tinggal COD," katanya.
Lalu apa perubahan yang dirasakan anggotanya?"Jelas banyak. Sudah bisa kredit motor sendiri. Bisa 2 sampai 3 motor di rumah sekarang," katanya.
Manfaat lainnya, usaha menjaga hutan rakyat di desa ini juga terus bisa dilakukan. Karena sambil menunggu waktu panen yang pas, ada penghasilan lain yang ditunggu masyarakat. Bapak-bapak merawat tanaman pohonnya, ibu-ibu memanfaatkan lahan dibawah tegakannya.
Kini kesukseskannya memberdayakan desanya membawa Sumiati menjadi narasumber di berbagai even. Bahkan, Ia juga diajukan untuk mengikuti seleksi Adikarya Pangan Nusantara. Tidak hanya itu, berbagai bantuan juga berdatangan baik bantuan dari pemerintah maupun pihak lain. Khususnya terkait peralatan.(*/sm)
Asia Pacific Rainforest Summit Di Yogyakarta Dimulai, Ini Berbagai Isu yang Dibahas
Mentri Lingkungan Hidup dan Energi Australia Hadir di KTT Asia-Pacifik Hutan Hujan III di Yogyakarta
Wakapolri Sebut Pengusutan Kasus Novel Sudah ada Langkah Maju
Progres Pemeliharaan Jalan Ranah Pemetik Capai 45 Persen, UPTD WDP Tinjau Lapangan

