Asia Pacific Rainforest Summit Di Yogyakarta Dimulai, Ini Berbagai Isu yang Dibahas    



Senin, 23 April 2018 - 14:32:37 WIB



JAMBERITA.COM - Indonesia menjadi tuan rumah untuk forum pertemuan negara pemilik hutan tropis di kawasan Asia-Pasifik, The Third Asia-Pacific Rainforest Summit (APRS III).

Acara pembukaan digelar pagi ini di Hotel Alana, Yogyakarta. Acara ini sendiri  diselenggarakan pada 23-25 April 2018 di Alana Hotel and Convention Center Yogyakarta. Ajang itu mengangkat tema “Protecting Forest and People, Supporting Economic Growth”.

Ada 1200 peserta yang berasal dari lebih dari 40 negara. Hadir sejumlah utusan Mentri Kehutanan dari berbagai negara Asia-Pasifik termasuk Mentri lingkungan hidup dan energi Australia The Hon Josh Frydenberg, utusan dari Filipina, Brunei Darusaalam, Fiji, Singapura, Norwegia dan negara lainnya.

Tujuan pertemuan APRS ini adalah untuk memperluas jaringan, kolaborasi, memperkuat kemitraan dan mengembangkan sinergi antarnegara pemilik hutan tropis Asia-Pasifik.

Mentri Lingkungan Hidup dan Energi Australia,  The Hon Josh Frydenberg mengatakan ada beberapa isu menarik untuk dibahas dalam pertemuan ini.

Diantaranya terkait dengan membangun dialog antaran pemimpin dalam pemerintahan, riset komunitas dan sektor swasta untuk memajukan aksi melawan deforestasi dan degradasi hutaj si Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik.

Ia juga menyampaikan sebagai bagian dari KTT, Australia sudah melakukan aksi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 hingga 28 persen dibawah level 2005 pada tahun 2030. Konsisten dengan tema KTT melindungi hutan, dan orang, mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Australia telah menetapkan tujuan tidak hanya untuk memenuhi komitmen internasional untuk mengurangi emisi namun juga memastikan daya saing internasional kita, pertmubuhan lapangan kerja dan keamanan energi serta keterjangkauannya," jelasnya.

Australia juga telah bekerja secara kemitraan dengan Indonesia untuk menyelenggarakan KTT tahun ini dan hubungan menjadi lebih kuat.

Mentri lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya mengatakan sesuai dengan Nationally determined contribution (NDC) Indonesia berkomitmen utuk mengurangi emisi sebesar 29 persen dan 17, 2 persen daiantaranya dari sektor kehutanan. "Melalui 5 sektor primer yakni sektor kehutanan, energi, pertanian, limbah dan transportasi," katanya.

Kawasan pesisir juga tak luput dari perhatian. Indonesia memiliki 2,9 juta hektar kawasan hutan mangrove. Eksositem mangrove memiliki peranan yang pentingvpada proses adaptasi perubahan iklim. Kosnervasi mangrove juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat selain juga berkontribusi bagi target penurunan gas rumah kaca.

Aspek perlindungan masyarajar, Indones8a telah melaksanakan program perhutanan sosial yang memberikan akses legal kepada masyarakat.

Sampai dengan tahun 2019, indonesia menargetkan 4,2 juta hektar dari total 12 ha kawasan  hutan melalui skema hutan adat, hutan desa, huta kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat dan kemitraan kehutanan.

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, hutan menyediakan jasa lingkungan berupa ekowisatabdan konservasi keanekaragaman hayati. Selain itu, penerapan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK). Dengan sertifikasi diharapkan kayu yang masuk pasar benar kayu yang sudah memenuhi standar.(*/sm)



Artikel Rekomendasi