Mangrove Ubah Persepsi Masyarakat Baros menjadi Peduli Alam



Senin, 23 April 2018 - 09:41:57 WIB



JAMBERITA.COM - Memasuki kawasan konservasi Mangrove yang berada di Desa Baros, Kabupaten Bantul, kita seperti memasuki destinasi wisata yang dikelola secara profesional sebuah korporasi. Tapi ternyata pengelolaannya sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat secara sukarela.

Mereka adalah Keluarga Pemuda Pemudi Baros (KP2B) sebagai kelompok penggiat konservasi.

Terlihat ada sehamparan hutan mangrove dengan tinggi sekitar 7- 8 meter. Disisi lain ada sehamparan mangrove yang masih kecil. Tingginya masih diantara 1-2 meter. Dipagari oleh pohon bambu. Di sebrangnya ada lahan pertanian milik masyarakat.

Ini seakan-akan menandakan jika hutan mangrove menjadi pelindung bagi masyarakat Baros dari hempasan angin pantai yang berada di depan hutan Mangrove ini. Hanya ada pembatas Muara Sungai Opak. Dari lokasi mangrove, hempasan ombak pantai terlihat jelas.

Dwi, Ratmanto, Anggota Divisi konservasi Keluarga Pemuda Pemudi Baros (KP2B) mengaku upaya penanaman pohon mangrove dimulai sejak tahun 2003 silam.

"Waktu itu yang melakukannya LSM. Saya baru belajar dan melihat-lihat," katanya saat memberikan penjelasan kepada peserta workshop media dalam The Third Rain Forest Summit bersama peneliti dari Cifor Minggu (22/4/2018).

Barulah setelah tahun 2006, pengelolaan mangrove diserahkan sepenuhnya ke masyarakat melalui KP2B. "KP2B ini mirip dengan karang taruna, tapi ada divisi konservasinya," jelasnya.

Ia mengatakan penanaman pohon mangrove di kawasan pinggiran pantai dan muara sungai itu dinilai sangat penting, sebagai upaya menjaga ekosistem kawasan sekaligus mitigasi bencana.

"Makanya daerah ini masuk menjadi kawasan pencadangan taman pesisir. Payung hukumnya pergub 284. Dibagi menjadi Zona inti, zona pemanfaatan dan zona lainnya," jelas Dwi.

Selain itu, ada kebijakan Bappeda Bantul yang mengenbangkan kawasan ini menjadi kawasan berbasis masyarakat.

Keberhasilan Mangrove membawa perubahan besar. Apalagi pasca gempa Yogya 2006 lalu. Setidaknya masyarakat makin sadar pentingnya menjaga mangrove.

Ini pula yang membawa banyak orang yang datang. Tidak hanya peneliti tapi juga masyarakat umun.

"Kami sadar, kawasan ini bukan kawsan umum yang bisa dimanfaatkan secara massal. Kami mencoba memanfaatkan kawasan ini sebagai jasa lingkungan Pariwisata minat khusus, pengelolaan berbasis perranian,perikanan," katanya.

"Karena itu, setiap tamu akan diberikan sajikan atraksi kebiasaan masyarakat disini. Dimulai dari bertani, mengenal ekosistem ikan, menjala ikan, tamu menikmati kegiatan konservasi, nanam mangrove," ucapnya. Disini juga ada pondok pengamatan burung. Ini karena semenjak ada mangrove ada ribuan burung yang menjadikan mangrove jadi sangkar. Ada sekutar 48 jenis burung.

Pagi hari burung keluar dari hutan dan sore harinya pulang. "Burung sudah menjadi mangrove disini sebagai rumah mereka," kata Dwi semangat.

Itu pula yang membuat mereka membangun pondok pengamatan burung. Masyarakat bisa melihat mereka di sore hari. "Kami tidak tahu jumlahnya, tapi ada lebih dari seribuan," lanjut Dwi.

Saat ini pihaknya sudah memperluas penanaman mangrove. Dimana, untuk melindungi mangrove kecil yang baru ditanam pihaknya memagari dengan bambu.

"Ini menciptakan kondisi kondisi bagi mangrove kecil. Perlindungan dari sampah.Pagar agar ombak juga ombak tereliminasi," ucap pria yang mengenyam pendidikan terakhir SMA ini.

Luasan mangrove yang tingginya 7 sampai 8 meter ada 3 ha dan  sudah menjadi habitat burung. Luasan yang sudah ditanami baru Mangrove baru sepanjang 1, 5 km ada  7 sampai 8 hektar.

Menurutnya, pihaknya berusaha menjaga mangrove. Karena mangrove sudah merubah desa mereka. Dahulu tanah disini dipenuhi pasir dan kerikil sehingga sangat sulit untuk memanfaatkannya untuk kegiatan bertani. Namun adanya mangrove sudah merubah. Pertanian sudah lebih baik.

"Kami percaya ilmu dan tehnologi bisa membantu menjaga hutan ini," katanya.

Lalu apa manfaatnya baginya secara pribadi? Secara pribadi tidak ada karena hanya relawan. Namun bisa ikut menjaga dalah kepuasan.

Bagi kelompok, tentu dengan keberhasilan banyak orang datang. Termasuk bantuan dari pemerintah. Ada pelatihan yang diberikan mulai dari merawat mangrove, pertanian dan perikanan. "Saya sendiri sehari hari bertani," pungkasnya.(sm)



Artikel Rekomendasi