JAMBERITA.COM - Universitas Jambi (UNJA) terus memperkuat upaya pencegahan kekerasan di lingkungan kampus melalui Sosialisasi dan Pencegahan Kekerasan Menuju Kampus Aman dan Nyaman bertema “Berani Peduli, Berani Cegah Kekerasan”. Kegiatan yang diselenggarakan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) UNJA ini berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung UNIFAC, Rabu (21/10/2026), dengan melibatkan mahasiswa Program Studi (Prodi) Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) UNJA.
Kegiatan ini dihadiri Ketua Satgas PPKPT UNJA, Prof. Dr. Dra. Heriberta, M.E.; Koordinator Prodi Sendratasik, Ikhsan Satria Irianto, S.Sn., M.Sn.; serta dua narasumber, yakni Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Jambi, Tiria Marina Siregar, dan Freddi Sarman, M.Pd., dosen Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP UNJA sekaligus anggota Satgas PPKPT.
Dalam sambutannya, Prof. Heriberta menegaskan bahwa pencegahan kekerasan merupakan tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika, bukan hanya pimpinan universitas atau Satgas PPKPT. Ia mengajak mahasiswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, tidak mengabaikan tindakan kekerasan, serta berani mengambil langkah yang tepat dengan melaporkan kejadian melalui saluran yang aman.
“Berani peduli berarti tidak menutup mata ketika kita melihat kekerasan. Kita harus berani mengambil tindakan yang tepat dan melaporkan kejadian melalui saluran yang aman,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan dukungan kepada korban tanpa menyalahkan mereka. Menurutnya, keberanian untuk berbicara dan melaporkan tindakan kekerasan merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Materi pertama disampaikan Tiria Marina Siregar yang membahas berbagai bentuk kekerasan serta faktor yang menyebabkan korban enggan melaporkan kejadian yang dialaminya. Ia menjelaskan bahwa stigma sosial, rasa takut disalahkan, dan kekhawatiran terhadap dampak yang mungkin timbul masih menjadi hambatan bagi korban untuk berani berbicara.
Tiria juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menganggap remeh tindakan yang berpotensi menjadi pelecehan. Menurutnya, suatu tindakan tidak dapat dibenarkan hanya dengan alasan bercanda, sebab dampak yang dirasakan oleh orang yang mengalaminya bisa berbeda dari maksud pelaku.
“Karena bercanda, itu kan kata yang melakukan. Dia tidak merasa itu candaan, dia merasa itu pelecehan. Itu yang perlu kita perhatikan bersama hari ini,” ungkapnya.
Selanjutnya, Freddi Sarman menjelaskan peran Satgas PPKPT sebagai tempat pengaduan bagi sivitas akademika yang mengalami maupun menyaksikan berbagai bentuk kekerasan. Ia mengingatkan mahasiswa untuk mengenali saluran pengaduan yang tersedia dan tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang membuat mereka merasa tidak aman.
Freddi juga menyoroti kesulitan yang dihadapi korban untuk mengungkapkan pengalaman mereka akibat rasa takut disalahkan atau dikucilkan. Oleh karena itu, lingkungan kampus perlu memberikan ruang yang aman bagi korban untuk berbicara serta memastikan mereka memperoleh perhatian dan dukungan yang dibutuhkan.
“Ada tempat mengadu. Saya sangat senang ketika ada yang sudah berani untuk bicara, karena bicara itu sulit. Ada yang takut disalahkan dan takut dikucilkan,” ujarnya.
Melalui sosialisasi ini, UNJA mendorong mahasiswa Sendratasik agar mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan, memahami pentingnya pelaporan, serta berani mengambil sikap ketika mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UNJA dalam membangun budaya peduli, memperkuat perlindungan bagi korban, dan mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.(Silvi)
Selengkapnya:www.unja.ac.id
Mahasiswa Demo ke DPRD Jambi Bawa 13 Tuntutan, Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional

