JAMBERITA.COM - Ruang Balairung Pinang Masak, Kampus Universitas Jambi (UNJA) Mendalo, Senin pagi (25/05/2026) waktu itu mendadak hening. Di atas podium, seorang pria dengan toga kebesaran berdiri tegak. Namun, di balik wibawa akademik yang memancar dari pakaiannya, matanya berkaca-kaca.
Hari itu, Prof. Dr. Ir. Mairizal, M.Si. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Mikrobiologi dan Enzimatik dalam Teknologi Pakan Unggas dan Non Ruminansia pada Fakultas Peternakan (FAPET) UNJA. Jabatan akademik tertinggi telah rengkuh. Namun, alih-alih larut dalam kesombongan intelektual, ingatan Mairizal justru terbang jauh ke masa lalu, ke sebuah rumah sederhana di Sungai Penuh.
Ke telinganya, tiba-kira berdesir bunyi minyak panas di wajan. Ke hidungnya, tercium aroma gurih adonan yang digoreng. Dan di pelupuk matanya, terbayang punggung legam seorang ayah yang terbakar matahari di ladang, serta tangan kasar seorang ibu yang tak lelah membalik gorengan demi kepingan koin sekolah anak-anaknya.
“Secara pribadi, gelar Guru Besar ini adalah sebuah sujud syukur dan pembuktian atas doa serta keringat orang tua saya,” ucap Prof. Mairizal dengan suara bergetar. “Berangkat dari keluarga sederhana, di mana ayah dan ibu saya berjuang keras sebagai petani dan penjual gorengan, gelar ini adalah restu nyata dari setiap rapalan doa mereka.”
Prof. Mairizal adalah bukti hidup bahwa kemiskinan materi bukanlah takdir yang mutlak. Lahir dan besar di Sungai Penuh, ia tumbuh dari cinta sepasang kekasih hidup: Samuddin Sutan Mangkudun (Alm.) dan Nurbaya (Almh.). Mereka tidak mewariskan tanah yang luas atau deposito yang penuh, melainkan sesuatu yang jauh lebih abadi: nilai kerja keras dan kesucian pendidikan.
Langkah kecil Mairizal dimulai dari SD Negeri XIII Sungai Penuh, berlanjut ke SMP Negeri 2, dan SMA Negeri 2 di kota yang sama. Setiap hari, ia menyaksikan bagaimana ayah dan ibunya memeras keringat tanpa mengeluh. Pelajaran hidup dari rumah itulah yang menjadi modal utamanya saat memutuskan merantau ke Sumatera Barat pada tahun 1987 untuk menempuh kuliah S1 di Fakultas Peternakan Universitas Andalas.
Ketika lulus pada tahun 1991, Mairizal tahu perjalanannya masih panjang. Haus akan ilmu membawanya terbang ke Pulau Jawa, menempuh program Magister (S2) Ilmu Ternak di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada kurun waktu 1996–1998. Puncaknya, pada tahun 2018, ia berhasil merengkuh gelar Doktor (S3) di Universitas Andalas dengan riset brilian: mengoptimalkan bakteri saluran cerna rayap untuk meningkatkan nilai guna Bungkil Inti Sawit pada ransum broiler.
Namun, jalan menuju puncak tidak pernah bertabur bunga. ?Menjinakkan Keterbatasan dengan Kreativitas dan menjadi seorang akademisi di daerah dengan fasilitas terbatas adalah ujian mental yang sesungguhnya. Prof. Mairizal mengenang bagaimana di awal kariernya, ia harus memutar otak karena ketiadaan alat-alat riset yang canggih. Belum lagi tekanan untuk menembus jurnal publikasi internasional dan tuntutan menjaga keseimbangan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Namun, setiap kali ia merasa lelah dan ingin menyerah, bayangan masa kecilnya kembali datang mengetuk nurani..?“Pada fase awal karier akademik, keterbatasan akses terhadap fasilitas riset yang canggih menuntut kreativitas tinggi. Namun, latar belakang saya sebagai anak petani mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah,” kenangnya.
Baginya, jika sang ayah bisa bertahan di bawah terik ladang dari pagi hingga petang, dan sang ibu bisa bertahan di depan wajan panas setiap hari, maka menghadapi penolakan jurnal ilmiah atau minimnya alat laboratorium barulah seujung kuku dari perjuangan hidup yang sebenarnya.
Di balik keanggunan gelar Prof. Mairizal, ada pilar-pilar kokoh yang menopangnya. Ia menyebut sang istri, Indri Anastasia, S.S., M.A., M.Ed., bukan sekadar pendamping, melainkan teman diskusi yang setara dan penyemangat di setiap malam-malam panjang yang melelahkan. Dukungan anak-anak, keluarga besar, serta atmosfer akademik di Universitas Jambi adalah bahan bakar yang membuatnya terus melangkah.
Menariknya, saat ditanya momen apa yang paling membekas dan membahagiakan dalam hidupnya, jawabannya justru bukan saat ia memakai toga bertoga besar ini, atau saat menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama FAPET UNJA saat ini.
Kebahagiaan tertingginya justru berada di ruang-ruang sidang skripsi, saat menatap mata mahasiswa bimbingannya. “Ketika saya melihat mahasiswa yang berasal dari keluarga sederhana berhasil lulus dan mengubah nasib keluarganya, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan materi,” ungkapnya, lirih namun penuh penekanan.
Prof. Mairizal melihat dirinya yang dulu pada diri mahasiswa-mahasiswa miskin itu. Dan melihat mereka berhasil adalah caranya membayar utang budi pada masa lalu. ?Sebagai Guru Besar, Prof. Mairizal tidak ingin ilmunya menguap di menara gading. Berbekal kepakarannya di bidang Mikrobiologi dan Enzimatis, ia kini fokus mengembangkan bioteknologi mikroba untuk mengolah Bungkil Inti Sawit agar bisa menjadi pakan berkualitas.
Targetnya jelas, kemandirian pakan nasional dan kesejahteraan para peternak kecil. Ia ingin hasil risetnya dihilirisasi—diturunkan ke lapangan agar membumi dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di akhir prosesi pengukuhannya, Prof. Mairizal menitipkan sebuah pesan mendalam bagi para akademisi muda dan anak-anak bangsa yang saat ini sedang berjuang di tengah keterbatasan ekonomi. Sebuah pesan yang lahir dari rahim pengalaman, bukan sekadar teori:
“Jadikan keterbatasan sebagai katalisator inovasi. Latar belakang yang sederhana bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Teruslah berproses dengan sabar, tetap rendah hati dalam belajar, dan jadikan setiap capaian sebagai jembatan untuk membantu orang lain naik ke level yang lebih tinggi.”
Kisah Prof. Mairizal adalah sebuah refleksi tajam bagi nurani kita semua. Keberhasilan yang sejati tidak selalu lahir dari fasilitas yang mewah atau jalan tol kemudahan. Kadang-kadang, ia tumbuh subur dari tetesan peluh seorang ayah di ladang, dari ketabahan tangan seorang ibu yang membalik gorengan jualan, dan dari jutaan rapalan doa yang melesat ke langit di sepertiga malam.
Pendidikan adalah jalan terhormat itu. Dan Prof. Mairizal telah membuktikannya: dari anak penjual gorengan, kini menjadi sang pencerah di altar ilmu pengetahuan.
Selengkapnya : www.unja.ac.id
Prof Marizal, Dari Anak Petani dan Penjual Gorengan yang Kini Jadi Guru Besar UNJA
SAH Tinjau Kebun Tembakau Helvetia, Perkuat Komitmen PTPN I dalam Pengembangan Komoditas Bersejarah
Guru di Nias : Dulu Kelas Bocor dan Panas, Kini Murid Belajar Lebih Nyaman
UNJA Bedah Isu Ekosistem Ekonomi Digital: Masyarakat Harus Paham Regulasi dan Risiko Pinjol
3 Kampus Besar di Jambi Berkolaborasi : Sulap Pekarangan Rumah Jadi Senjata Pemukul Stunting
Empat dari 3.560 Calon Mahasiswa UNJA Turut Menembus Gerbang Perguruan Tinggi Jalur SMM PTN-Barat
Gubernur Al Haris Apresiasi Job Fair dan Bazaar UMKM, Dorong Pengurangan Pengangguran

