JAMBERITA.COM - Kondisi kesehatan finansial dan sistem keamanan Bank Jambi kini masih menuai sorotan. Setelah dipaksa bergabung ke Kelompok Usaha Bank (KUB) Bank BJB akibat kekurangan modal, bank daerah ini kini dihantam isu pembobolan dana waktu lalu, sehingga memicu kepanikan massal.
Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Prof. Rizal Djalil Makmur, mengungkapkan bahwa keterlibatan Bank Jabar Banten (BJB) yang menyuntikkan modal sebesar Rp 221,4 miliar pada Desember 2024 adalah sinyal nyata adanya masalah kecukupan modal.
"Tanpa tambahan modal dari Pemda selaku pemegang saham, status Bank Jambi berisiko turun menjadi BPR. Keterbatasan 'pulus' (anggaran) membuat penggabungan ini tak terelakkan," ujar Rizal melalui akun Facebook resminya, Rabu (1/4/2026).
Belum usai persoalan struktur permodalan, Bank Jambi diguncang insiden hilangnya saldo ratusan nasabah pada 22 Februari 2026, tepat menjelang Ramadan. Sebanyak 600 nasabah dilaporkan terdampak dengan potensi kerugian mencapai Rp 143 miliar.
Kondisi ini memicu rush money atau penarikan dana besar-besaran. Antrean panjang terlihat di berbagai kantor cabang dan ATM. Kelompok paling terdampak adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang hingga kini masih harus mengantre sejak pukul 02.00 pagi demi menarik gaji mereka.
Mantan anggota Komisi Perbankan DPR RI sekaligus mantan Bupati Jabung Barat, Usman Ermulan, menilai manajemen Bank Jambi gagap dalam mengantisipasi serangan siber. Menurutnya, hilangnya kepercayaan masyarakat adalah alarm bahaya bagi eksistensi bank.
"Saya memahami bahwa hilangnya kepercayaan berarti sebuah bank sudah berada di ambang kebangkrutan. Tidak mudah mengembalikan kepercayaan itu, bahkan jika diserak Rp 1.000 triliun di depan kantor sekalipun," tegas Usman, Senin (30/3/2026).
Usman juga menyoroti lambannya respons manajemen dalam melayani nasabah yang panik. Ia menyarankan penambahan jumlah kasir secara signifikan agar pelayanan kepada ASN tidak mengganggu kinerja aparatur daerah.
Menanggapi krisis ini, Prof. Rizal Djalil mengusulkan empat langkah strategis untuk menyelamatkan Bank Jambi, pertama adalah restrukturisasi aset non-produktif, seperti gedung megah demi memperkuat modal.
Kedua efisiensi SDM, yakni melakukan rasionalisasi pegawai untuk meningkatkan kinerja dan Agresivitas Dana Pihak Ketiga (DPK). Menurutnya, menarik dana dari perusahaan besar sektor sawit, batu bara, dan migas di Jambi secara profesional serta melakukan peninjauan total terhadap keamanan digital untuk menjamin perlindungan dana nasabah.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan ASN di Jambi masih menunggu langkah konkret dari Pemerintah Daerah selaku pemegang saham untuk memulihkan stabilitas bank plat merah tersebut.(afm)
Hati-hati, Kanwil Kemenkum Jambi Perkuat Peran PPNS Garap Pelanggaran Kekayaan Intelektual
Kanwil Kemenkum Jambi Serahkan Sertifikat Merek Kolektif kepada UMKM Binaan PTPN IV
Ikan Nila Pemicu Inflasi Maret 2026, TPID Dinilai Sukses Jaga Stabilitas Harga
Makin Mewah, Honda PCX160 Meluncur dengan Pilihan Warna Terbaru
Kenali Jenis–Jenis Bahaya di Jalan Bersama Safety Riding Sinsen, Wujudkan #Cari_aman Sejak Dini


Hesti Haris Ajak Generasi Muda Melek Finansial: Investasi Cerdas, Tolak Keuangan Ilegal


