JAMBERITA.COM– Anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi Kesehatan Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM mengungkapkan, salah satu fokus bidang kesehatan yang perlu menjadi perhatian adalah penanganan stunting.
Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.
Pernyataan ini disampaikan Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI saat menyerahkan Surat Keputusan (SK) Badan Kesehatan Indonesia Raya (KESIRA) Provinsi Jambi, Kamis (15/9) kemarin di Ruang Rapat DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi.
Dalam arahanya, Bapak Beasiswa Jambi ini menjelaskan penurunan stunting perlu menjadi program prioritas KESIRA di Provinsi Jambi, dimana KESIRA Pusat di Jakarta, dibawah pimpinan dr. Beny Octavianus juga telah menjadikan penurunan stunting sebagai konsen utama sebagai program kerja.
"Masalah stunting ini juga menjadi konsen KESIRA Pusat dibawah pimpinan dr. Beny Octavianus sebagai program yang prioritas untuk dilakukan KESIRA dan Gerindra di daerah," ungkapnya.
Apalagi menurut SAH soal stunting menjadi perhatian utama Bapak Prabowo Subianto dalam mewujudkan Indonesia Adil Makmur.
"Soal stunting terus terang menjadi perhatian Bapak Prabowo Subianto dalam mewujudkan visi adil dan makmur untuk Indonesia raya. KESIRA saya minta menjadikan penurunan stunting sebagai prioritas, melalui dua intervensi, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif, dan program umum lainnya," ungkapnya.
Dalam arahahanya, SAH mengatakan stunting adalah masalah mendasar kesehatan Indonesia saat ini. Bila persoalan stunting terselesaikan maka persoalan kesehatan lainnya akan ikut terselesaikan.
Oleh karena itu SAH mengatakan perlu intervensi spesifik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (nakes). Sedangkan intervensi sensitif yang memegang peran, dijelaskan dia, ialah sektor-sektor lain di luar kesehatan.
“Intervensi sensitif perannya 70 persen bahkan dalam upaya penurunan angka stunting. Ini yang perlu kami optimalkan, bagaimana sektor-sektor di luar kesehatan juga berperan dalam penurunan stunting secara terencana dan sistematis bersama-sama,” ungkapnya.
Sedangkan intervensi spesifik, berkaitan dengan upaya ke arah medis. Dimisalkan dia seperti asupan gizi pada anak dan lain sebagainya.
“Tapi intervensi sensitif itu punya dampak yang (lebih) besar terhadap gizi masyarakat seperti ketersediaan air bersih, sanitasi, ketersediaan pangan. Itu punya andil besar dalam peningkatan gizi masyarakat,” terangnya.
Oleh karena itu, SAH mengatakan upaya menurunkan stunting memang menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama. Di sektor kesehatan, KESIRA harus terus berupaya. Seperti dalam hal peningkatkan gizi anak, bagaimana mereka menjamin bahwa setiap anak atau bayi di bawah usia lima tahun (balita) selalu ditimbang.
Selanjutnya SAH mengatakan, pemerintah mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota sudah berupaya menyediakan makanan dan tambahan gizi untuk intervensi gizi. Terutama, dia menambahkan, bagi masyarakat yang kurang mampu.
Terakhir, dalam SK terbaru Badan KESIRA Provinsi Jambi di Ketuai oleh Ahli Kecantikan dr. Lidya Apriliana Lubis, M.K.M., Dipl. CIBTAC, lalu Sekretaris Endah Dewi Sugi Lestari, ST dan
Bendahara Jehan Imelda, SE(*/sm)
SAH Serukan Gerakan Sadaqah Tani Jadi Solusi Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan di Jambi
SAH Apresiasi Kunjungan Presiden Prabowo ke Luar Negeri, Buka Peluang Ekonomi, Investasi dan Ekspor
Sutan Adil Hendra Tegaskan Tekad Jadikan HKTI Motor Penggerak Ekonomi Petani Jambi
Menerima Anugerah Anggota Kehormatan LAM Jambi, Begini Tanggapan Pangdam II/Swj
Gubernur Al Haris Turun Berikan Solusi Buka Akes Jalan ke Talang Duku
Walikota Jambi, Syarif Fasha Menjadi Inspektur Upacara Memperingati HUT RI Ke-77


Sekda Sudirman Buka Rakerda Pramuka 2026: Fokus Evaluasi Strategi, Kaderisasi Pemimpin Muda



