Tahun Baru Disambut dengan Lonjakan Harga Kadelai



Minggu, 03 Januari 2021 - 18:45:33 WIB



Ilustrasi
Ilustrasi

JAMBERITA.COM - Awal tahun 2021 disambut dengan lonjakan harga kedelai yang juga terjadi di sejumlah pasar tradisional di Kota Jambi. Guna mensiasati hal ini, para perajin tahu dan tempe akhirnya memperkecil ukuran produksinya.

Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jambi Rosnifa mengatakan, harga kedelai biasanya perkilogram Rp 7.500, namun sekarang menjadi sekitar Rp 9.200. "Ini 76 persen kedelai impor yang dipakai untuk membuat tahu dan tempe, sedangkan 25 persennya kedelai lokal," ujarnya, Minggu (03/01/2021).

Untuk menghadapi harga kedelai yang mahal tersebut, wanita yang akrab disapa Ani ini menyebutkan jika perajin memperkecil ukuran tempe nya dan mengurangin keuntungan bagi perajin tempe tersebut.

"Perajin tetap memproduksi seperti biasa dan stok tahu tempe di pasar juga masih ada (tersedia,red)," katanya.

Selain itu, menurutnya produksi kedelai lokal tidak kontinue sedangkan kedelai impor kontinue. "Kalau kedelai lokal cocok untuk tahu karena banyak santan nya, tapi ukuran tidak bisa diperkecil untuk tahu karena sudah ada ukuran/cetakan," jelasnya.

Sedangkan untuk tempe, Ani mengatakan bisa diperkecil. "Harga tempe perbatang nya Rp 6.000 sampai Rp 7.000. Sekarang perbatangnya diperkecil ukurannya dengan harga yang sama," tuturnya.

Jika hal ini berlangsung lama, kata Ani tentu sangat berpengaruh terhadap industri keripik tempe. Terlebih saat ini permintaan keripik tempe sangat tinggi, baik untuk pasar lokal juga luar Provinsi seperti Batam dan Riau. "Yang paling banyak permintaan (keripik tempe) dari Lampung, Palembang, Bengkulu, dan Pekanbaru," sampainya.

Sementara upaya yang dilakukannya, Ani menyebut pihaknya akan terus memantau agar ketersediaan kedelai di Jambi terjaga. "Pasokan yang masuk terus kita monitor," ujarnya.(afm)





Artikel Rekomendasi