JAMBERITA.COM– Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A. R. Sutan Adil Hendra, M.M., atau SAH menyatakan kebanggaannya atas langkah Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan kesiapan Indonesia untuk berperan sebagai juru damai dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
SAH pun mengajak seluruh kader Gerindra dan masyarakat Jambi untuk mendukung langkah Presiden Prabowo dalam memperkuat diplomasi Indonesia di panggung internasional, sebagai bukti bahwa Indonesia bukan sekadar pengamat, tetapi aktor aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.
Menurutnya, inisiatif tersebut bukan sekadar simbol diplomasi, tetapi penegasan bahwa Indonesia hadir sebagai kekuatan moral dan politik di tengah krisis global.
Konflik AS–Iran sendiri memiliki akar sejarah panjang yang kompleks.
Ketegangan bermula sejak 1953 ketika intervensi politik Barat menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh pasca nasionalisasi industri minyak. Luka historis itu diperparah oleh Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah pro-Barat dan memicu krisis sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran selama 444 hari. Sejak saat itu, hubungan diplomatik terputus dan permusuhan mengeras menjadi rivalitas strategis.
Dalam perkembangannya, konflik tidak hanya berhenti pada ketegangan ideologis. Dukungan AS terhadap Irak dalam perang Iran–Irak, sanksi ekonomi berkepanjangan, serta polemik program nuklir Iran memperdalam jurang ketidakpercayaan. Dalam dekade terakhir, eskalasi semakin meningkat melalui serangan militer terbatas, operasi intelijen, hingga aksi balasan melalui kelompok proksi di kawasan Timur Tengah. Situasi ini berulang kali menempatkan dunia di ambang krisis energi, terutama karena kawasan Teluk menjadi jalur vital pasokan minyak global.
Sutan Adil Hendra menilai, dalam konteks tersebut, langkah Presiden Prabowo menawarkan diri sebagai mediator adalah keputusan strategis sekaligus konstitusional. “Amanat Undang-Undang Dasar jelas menyebutkan bahwa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Apa yang dilakukan Presiden Prabowo adalah implementasi nyata dari mandat itu,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa konflik AS–Iran bukan sekadar urusan dua negara, tetapi berdampak sistemik terhadap stabilitas ekonomi dunia. Gangguan di Selat Hormuz misalnya, dapat mendorong lonjakan harga minyak, memicu inflasi global, serta menekan fiskal negara berkembang, termasuk Indonesia. Karena itu, diplomasi damai bukan hanya pilihan idealis, melainkan kepentingan nasional yang rasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki posisi unik, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, namun tetap menjaga hubungan baik dengan Barat. Kombinasi ini memberi kredibilitas untuk menjembatani dialog.
“Indonesia relatif netral, tidak memiliki beban historis dalam konflik tersebut, dan memiliki reputasi sebagai bangsa yang konsisten mengedepankan dialog,” ujarnya.
Sutan Adil Hendra menambahkan bahwa di tengah tatanan dunia yang semakin multipolar, negara yang mampu memainkan peran penyeimbang akan memiliki daya tawar geopolitik yang lebih kuat. “Ini bukan hanya soal perdamaian global, tetapi juga soal posisi strategis Indonesia di masa depan. Stabilitas dunia berarti stabilitas ekonomi kita. Dan stabilitas ekonomi berarti kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.(*)
Rutin Tiap Tahun, SAH Salurkan Zakat, Infaq dan Sedekah untuk Pejuang Kebersihan Telanaipura
Sisi Lain Ivan Wirata : Duduk Dilesehan Bareng Jurnalis, Siap 'Ditegur' Demi Jambi Lebih Baik
Kajati Jambi Terima Audiensi Danrem 042/Gapu, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum dan Stabilitas Daerah
Keluh Kesah ASN Jambi: 'Sudah Jatuh Tertimpo Tanggo,' Antre Gaji Manual di Tengah Puasa







