WWF Indonesia Wujudkan Konservasi Inklusif Lewat Restorasi Berbasis Masyarakat di Lanskap TNBT



Kamis, 01 Januari 2026 - 16:27:49 WIB



Foto : ist/jmb.
Foto : ist/jmb.

JAMBERITA.COM - Degradasi lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang masif menjadi perhatian serius WWF Indonesia, sebagai bentuk langkah konkrit dan upaya mitigasi, WWF Indonesia meluncurkan program Restorasi Berbasis Masyarakat di Landscape Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).

Kick off program tersebut secara resmi dilakukan di Aula Kantor Bappeda dan Litbang Kabupaten Tebo. Selasa, 30 Desember 2025, dengan mengusung tema Kesejahteraan Masyarakat dan Kelestarian Ekosistem Hutan.

Sekretaris Bappeda dan Litbang Tebo, Septiansyah mengatakan pentingnya menjaga ekosistem hutan sebagai penopang utama lingkungan yang Lestari, sekaligus sebagai sumber mata pencarian masyarakat dengan kearifan lokal secara turun-temurun. 

“Terima kasih kepada WWF Indonesia bersama mitra yang berinisiatif meluncurkan program restorarif ini, partisipasi aktif bapak dan ibu sekalian menjadi kunci utama keberhasilan program ini,” kata Septiansyah.

“Kick off meeting ini momentum awal kesuksesan utama kegiatan ini,” katanya menambahkan.

Dikatakannya, mekanisme komunikasi dan organisasi yang efektif, rencana kerja yang solid dan tahapan restorasi yang berjalan secara optimal akan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, dan yang terpenting bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Rara Yulia Putri, Community Development Officer WWF Indonesia dalam pemaparannya menyebutkan kondisi tutupan hutan di Bukit Tigapuluh saat ini hanya tersisa 40 persen atau setara 191.400 hektare. Padahal kawasan ini merupakan habitat penting tiga satwa kunci yang nyaris punah, antara lain Orangutan Sumatera, Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera.

“Kebakaran hutan, pertanian yang tidak berkelanjutan, tambang ilegal, ilegal loging, interkasi negatif masyarakat lokal dengan Gajah, dan perdagangan satwa merupakan tekanan-tekanan yang terjadi TNBT,” kata Rara.

Belum lagi, ada lima konsesi besar di lanskap Bukit Tigapuluh yang beroperasi. Mulai dari perusahaan pulp paper dengan tanaman akasia, sawit, karet dan juga perusahaan restorasi. “Selain keanekaragaman hayati, suku asli Talang Mamak dan Orang Rimba juga terancam dan kehidupannya makin terpinggirkan,” kata Rara.

Untuk itu, katanya, target awal program ini adalah, memulihkan sekitar 61 ribu hektare lahan kritis dengan tujuan masyarakat sejahtera tapi konflik negatifnya berkurang.

Cara-cara yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas masyarakat dan lembaga terkait, mendukung konservasi inklusif, dan peningkatan partisipasi publik dengan kampanye melalui media tentang adanya program Restorasi Berbasis Masyarakat ini.

"Kita akan memulihkan lahan kritis dan kebun masyarakat yang ditinggalkan. Restorasi akan memberikan nilai ekonomi dengan ditanami pohon buah yang nanti bisa dipanen,” kata Rara.

Dari hasil kesepakatan, bibit tanaman yang akan disediakan oleh WWF Indonesia berupa Durian Musang King, Alpukat Mentega dan Kelengkeng Pingpong. Skema penanamannya akan diserahkan ke petani dengan tujuan agar ada rasa memiliki. Setelah ditanam akan ada perawatan dan pemupukan oleh petani. Akan ada 30 ribu bibit yang ditanam di tahap awal, atau setara 600 hektare.

Sementara, dari pihak petani ada 16 jenis bibit yang bisa disediakan. Di antaranya bibit pulai, meranti, gaharu, sengon, jengkol, petai, kemiri, kopi, rambutan dan mangga. “Kita akan memantau dan melakukan monitoring pertumbuhan pohon setiap tiga bulan sekali. Kita ingin menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pemulihan ekosistem,” kata Rara.

Kemudian, juga dilakukan penamaman pohon kayu yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sosial, seperti untuk keperluan pembangunan sekolah dan rumah ibadah. Dan tak kalah pentingnya adalah mengurangi interaksi negatif dengan Gajah, dengan cara menanam pohon atau pakan yang tidak disukai mamalia besar tersebut.

“Konsep restorasi berbasis masyarakat ini maksud utamanya adalah dari petani dan untuk petani,” kata Rara.

Ia mengatakan ada tiga pilar dalam program restorasi ini yaitu pengembangan komunitas dan peningkatan kapasitas, penanaman dan pemeliharaan pohon, serta dukungan untuk Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) di Muara Ketalo.

Dalam program ini ada lima kelompok tani hutan yang akan didampingi WWF Indonesia, dengan total 84 petani yang tergabung, dengan luasan area restorasi 129 ribu hektare.“Melalui program ini hasil yang diharapkan ekosistem seimbang dan ekonomi berdaya,” kata Rara.

Melalui kesempatan ini, WWF Indonesia juga mengabarkan ke petani mengenai aplikasi Reconnect+, software yang dikembangkan oleh WWF untuk memonitoring pertumbuhan pohon dan progres tutupan hutan melalui gawai. Aplikasinya lainnya yang disampaikan adalah platform pengaduan suaraanda@wwf.id, petani maupun masyarakat bisa melaporkan tindakan-tindakan staf WWF Indonesia di lapangan yang menyimpang. “Jangan khawatir, identitas pelapor tidak akan diketahui,” kata Rara.(ki/afm)





Artikel Rekomendasi