Kesbangpol Hadirkan Eks Napiter Beri Materi Bahaya Radikalisme dan Terorisme ke Mahasiswa/i di Tebo



Kamis, 25 Mei 2023 - 19:20:11 WIB



Suasana Sosialisasi Bahaya Radikalisme dan Terorisme di Tebo.
Suasana Sosialisasi Bahaya Radikalisme dan Terorisme di Tebo.

JAMBERITA.COM- Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jambi melaksankan sosialisasi Bahaya Radikalisme Terorisme di Kalangan Siswa/i, Mahasiswa/i, Tenaga Pendidik dan Tokoh Masyarakat di Kab. Tebo, Kamis (25/5/2023).

Kaban Kesbangpol Arpani Saharudin melalui Kabid Kabid Penanganan Konflik Badan Kesbangpol Prov. Jambi Qamaruzzaman dalam paparannya menyampaikan, beberapa poin dalam hal bahaya radikalisme dan terorisme. 

Untuk itu, Ia meminta stakeholder dapat meningkatkan peran serta dalam pencegahan, baik itu tenaga pendidik, toga, tomas dan elemen masyarakat dalam melakukan pencegahan dan penanganan penyebaran paham radikal dan teror.

"Kita mendorong pemkab dan stake holder terkait dalam pembinaan dan penguatan ekonomi mitra Eks napiter. Agar para eks napiter dapat di terima tengah masyarakat terutama melalui peran aktif seluruh elemen masyarakat," harapnya. 

Selanjutnya, Kakan Kesbangpol Tebo Sugiyarto menyampaikan sejarah Radikalisme di Indonesia menguat pada Tahun 1950-an dengan mengatasnamakan Agama dibawah bendera Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo, yang berhasil digagalkan oleh BAKIN yang saat itu dipimpin Ali Moertopo.

"Peran Pemerintah dalam mencegah Radikalisme dan Terorisme melalui pendidikan, dengan memperkuat Pendidikan Kewearganegaraan, Pemerataan pendidikan, peningkatan relevansi pendidikandengan kebutuhan pembangunan, Peningkatan kualitas Pendidikan Nasionali dan Peningkatan efisiensi pendidikan," katanya. 

Menurtnya, peran Pemerintah dalam mencegah Radikalisme dan Terorisme melalui eksternal pendidikan juga perlu dilakukan dengan cara sosialisasi tentang paham radikalisme dan terorisme, kemudian besinergi dengan pihak TNI dan POLRI dalam upaya pemantauan paham - paham radikal. Selain itu, meminimalisir kesenjangan sosial dalam bermasyarakat

"Berikan pemahaman agama yang damai dan toleran, sehingga pemuda tidak mudah terjebak pada arus ajaan radikalisme dan mendukung aksi perdamaian," tegasnya.

Pemerintah juga wajib melakukan pencegahan Tindak Pidana Terorisme melalui Kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi dan deradikalisasi. "Dalam upaya pencegahan Tindak Pidana Terorisme, Pemerintah melakukan langkah antisipasi secara terus menerus yang dilandasi dengan prinsip pelindungan hak asasi manusia dan prinsip kehati-hatian," tuturnya. 

Sementara itu, Katim Idensos Satgas Wil. Jambi Iptu Sudiro juga menambahkan, terkait dengan sebaran eks Napiter di Provinsi Jambi, pertama di Kab. Tebo sebanyak 2 Orang, Bungo 4 Orang dan 1 Orang Deportan, Batanghari 2 Orang, Muara Jambi 1 Orang, Kota Jambi 4 orang dan 2 Orang Deportan.

"Kemudian, Jaringan Pom Radikal di Provinsi Jambi, yaitu Kelompok AD (Anshorud Daulah) terafiliasi dengan kelompok yang telah dilakukan penegakan hukum pada Tahun 2017 yang merencanakan aksi Amaliyah dan pembuatan Bom serta pembakaran Polres Dharmasraya. Anshor Daulah (AD) sendiri diketahui merupakan organisasi yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)," ungkapnya. 

Selanjutnya, Kelompok JI (Jamaah Islamiyah) di Jambi terafiliasi dengan jaringan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumsel dan Riau yang telah dilakukan penegakan hukum pada tahun 2021 lalu dan Kelompok KM (Khilafatul Muslimin) di Jambi ini berbasis di Lampung, sebuah daerah dengan transmigran Jawa. Khilafah KM adalah Abdul Qadir Baraja (Kap). 

"Pada Juni 2014 KM mengakui deklarasi IS tentang kekhilafaan sebagai sah. Meskipun kelompok itu tidak menjanjikan kesetian kepada Abu Bakar Al Baghdadi, beberapa anggotanya berjanji setia dan melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak dan bergabung dengan IS," jelasnya. 

Selain itu, ada juga kelompok Medsos di Jambi merupakan kelompok yang aktif melakukan provokasi dan propaganda di media social serta tergabung kedalam Grup-grup medsos radikal dan Kelompok NII (Negara Islam Indonesia) di Jambi terafiliasi dengan jaringan di Sumatera Barat yang telah dilakukan penegakan hukum beberapa waktu lalu.

"Pencegahan Satgaswil Jambi Densus 88 AT Polri membantu pencegahan penyebaran pemahaman radikal di wilayah Jambi dengan melakukan identifikasi dan sosialisasi terhadap Eks. Napiter, keluarga Napiter, koordinasi dengan stake holder terkait dan melakukan kontra naratif di media sosial dengan menyebarkan konten-konten bernarasi bahaya dan dampak radikalisme," ujarnya.

Pihaknya juga melakukan penyelidikan terhadap setiap target dari kelompok radikal yang berpotensi melakukan ancaman dan aksi terorisme akan dilakukan penyelidikan menggunakan metode Teknologi Intelijen dan Human Intelijen oleh Satgaswil Jambi Densus 88 AT Polri.

"Hasil penyelidikan setiap target dari kelompok radikal apabila telah terbukti secarah sah melawan hukum akan dilakukan penegakan hukum oleh Satgaswil Jambi Densus 88 AT Polri," tegasnya.

Unguk Peran Satgaswil Jambi Densus 88 AT Polri sendiri terhadap Eks. Napiter yaitu terus melakukan Handling dan Assesment terhadap para Eks Napiter secara berkelanjutan guna mengetahui tingkat pemahaman Radikalnya dan memberikan bantuan Sembako kepada Eks Napiter dan keluarganya yang memiliki Ekonomi lemah.

"Memberikan santunan Kitanan gratis bagi yang memiliki anak laki laki, memfasilitasi dalam pembuatan SIM dan administrasi kependudukan lainnya, memberikan bantuan pelatihan melalui BLK dan membantu mencarikan Pekerjaan dan melakukan koordinasi dengan Stake holder untuk dapat ikut melakukan pembinaan guna mengetahui perkembangan aktivitas sosial masyarakat di lingkungannya maupun pemberian bantuan yang dibutuhkan oleh Eks Napiter dan keluarganya," jelasnya.

Lebih lanjut,Fadillah Muslim (Eks. Napiter/Pemateri) juga menyampaikan, bahwa dirinya mulai terpapar ketika mulai hijrah, namun dirinya lebih banyak mengaji di Medsos/Browsing, yang mana saat ini disajikan video pembantaian Muslim di luar negeri, sehingga membuat semakin penasaran, tertarik dengan media propaganda yang berisi tentang kesalahan-kesalahan Pemerintah, Kesalahan umat muslim yang diam ketika melihat terjadi kedzaliman, sehingga akhirnya simpatik dan bergabung digrup-grup yang berisi orang-orang berpaham radikal.

Dirinya juga mengungkapkan sudah hampir lepas, namun pada tahun 2019, karena dirinya membantu teman (Wahyu Firmansyah eks Napiter yang Tewas di Riau), ketika pelarian yang saat itu temannya menikam Anggota Densus 88 di Kab. Tebo, sehingga dirinya menjadi tersangka Terorisme.

"Saran kepada peserta sosialisasi harus bijak dalam menggunakan Medsos, tidak mudah terpengaruh dengan pemahaman -pemahahan yang mengarah kepada radikalisme," harapnya.

Dalam agenda tersebut, peserta cukup antusias terhadap Materi yang disampaikan khususnya dari pihak Idensos dan Pemateri dari Eks Napiter yang berbagi pengalaman dan saran agar peserta terhindar dari bahaya Radikalisme di Indonesia. Mereka yang juga hadir, Muzal Helmi (Ketua FKDM Kab. Tebo), Ritaudin Anazami, (Sekretaris PC NU Kab. Tebo), Edi Hartono (Ketua Pokdar Kab. Tebo), peserta sosialisasi yang terdiri dari Kalangan Siswa/i, Mahasiswa/i, Tenaga Pendidik dan Tokoh Masyarakat di Kab. Tebo sekitar 50 orang.(*afm)





Artikel Rekomendasi