">




Masalah Stunting, SAH Tekankan Pentingnya Layanan Kesehatan dan Bahan Pangan Bergizi



Selasa, 24 Januari 2023 - 09:45:48 WIB



JAMBERITA.COM -  Pehatian Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM pada masalah stunting, tergambar dari pemahamannya yang sangat komprehensif pada masalah stunting dari hulu hingga hilir.

Berbicara dalam proyeksi awal tahun 2023, Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI itu mengatakan Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus stunting tertinggi di dunia. Stunting adalah kondisi anak yang memiliki tinggi badan tidak sesuai dengan usianya.

Dalam hal ini SAH yang dijuluki Bapak Keluarga Berkualitas ini mengatakan Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-4 di dunia dan ke-2 di Asia Tenggara sebagai negara dengan angka stunting yang tinggi.

Menurutnya hal ini bukanlah pencapaian yang patut dibanggakan dan dapat menjadi ancaman bagi masa depan Indonesia beberapa tahun ke depan.

"Dampak jangka panjang dari stunting adalah risiko terkena penyakit degeneratif sampai dengan gangguan perkembangan kognitif sehingga dapat berimbas pada penurunan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang," ungkap legislator yang melekat dengan julukan Bapak Beasiswa Jambi tersebut.

Oleh karenanya, pemerintah menjadikan penurunan angka stunting menjadi program prioritas nasional dengan target penurunan sampai dengan 14 persen pada 2024.

Stunting menjadi momok dalam pembangunan masyarakat Indonesia, khususnya bagi keluarga prasejahtera sebagai kelompok masyarakat rentan.

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), keluarga prasejahtera merupakan kelompok yang tidak dapat memenuhi salah satu dari enam kebutuhan dasar keluarga, seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan.

Memang, tidak semua anak dari keluarga prasejahtera mengalami kekurangan gizi, namun keterbatasan akses terhadap informasi yang berkualitas dan lemahnya pengetahuan terkait pencegahan stunting menempatkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera berpotensi mengalami stunting.

Penyebab stunting bukan hanya permasalahan kemiskinan yang berdampak pada kekurangan gizi pada ibu dan anak. Bahkan, Stunting juga disebabkan konstruksi sosial budaya yang ada di masyarakat.

Kebiasaan turun temurun di masyarakat memengaruhi pola asuh maupun cara hidup manusia. Beberapa kebiasaan tersebut diketahui kurang sesuai dalam praktik pencegahan stunting.

Selain menghadapi persoalan sosial budaya, keluarga prasejahtera juga banyak mengalami masalah lainnya, seperti lemahnya pemahaman masyarakat terkait pola asuh dan pemberian gizi yang baik kepada anak.

Kasus stunting telah menjadi agenda pembangunan pemerintah yang dirumuskan dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting Tahun 2018 – 2024.

Agenda tersebut menekankan konvergensi antara pemerintah pusat dan daerah serta mendorong peran dan program multisektor. Salah satunya adalah penyediaan layanan kesehatan dan ketersediaan bahan pangan bergizi.

Mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang beragam dan memiliki konteks budaya yang berbeda-beda, pemerintah perlu menyertai penyediaan layanan dengan perubahan perilaku praktik pencegahan stunting di masyarakat.(*/sm)





Artikel Rekomendasi