">




Kepemimpinan’ Guru dan Mentalitas Seperti Singa



Selasa, 24 Januari 2023 - 09:38:14 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Guru itu seorang pemimpin, minimal pemimpin pembelajaran di ruang kelas. Memang menjadi pemimpin itu tidak mudah. Guru sebagai pemimpin tidak sama dengan pemimpin publik lainnya. Pemimpin ‘publik’ biasanya memimpin banyak orang dalam wilayah tertentu yang relatif luas dan hasil kepemimpinannya akan terasa dalam jangka waktu yang relatif lebih lama.

Pemimpin publik memiliki banyak pilihan pembangunan tapi ‘kelihatannya’ lebih terfokus pada pembangunan fisik, membangun jalan, gedung, pasar, dll. Dan ‘sedikit’ porsi untuk pembangunan ‘karakter dan perilaku’ masyarakat (Radarmedan). Dan pembangunan ini langsung dinikmati masyarakat setelah pembangunan itu selesai.

Berbeda dengan kepemimpinan guru, yang dilakukan di ‘ruang kecil’ dan ‘masyarakatnya’ dibatasi oleh pemerintah maksimal 36 orang. Walaupun dilakukan di ruang kecil dan jumlah ‘pengikut’ yang sedikit, tapi efeknya sangat besar, bisa mempengaruhi masa depan bangsa. Salah dan keliru dalam memimpin akan menghancurkan sebuah bangsa.

Kepemimpinan guru dalam ruang kelas itu sangat unik. Kepemimpinan guru lebih banyak didominasi menggunakan ‘pikiran’. Guru mestinya membedakan diri dalam memimpin pembelajaran. Guru tidak boleh berpikir seperti pengikut (baca- siswa). Yang harus dibedakan dalam kepemimpinan guru adalah attitude (sikap, perilaku) dan mentalitas (keyakinan) yang bisa mempengaruhi.  

Keberhasilan atau kegagalan guru dalam memimpin akan cepat ‘terlihat’. Apapun ‘perilaku’ siswanya, dmanapun, sebesar apapun, menurut pandangan masyarakat, pasti hasil ‘didikan’ guru. Gurulah yang bertanggung jawab atas hal tersebut. Gurulah yang layak untuk dimita pertanggung jawabanya.

Oleh karena itu, guru harus mencari ‘sesuatu’ yang bisa membuat kepemimpinannya di ruang kelas menjadi ‘kuat’. Dr. Myle mengatakan salah satu instrumen untuk membuat kepemimpinan menjadi berpengaruh adalah dengan mengubah attitude (perilaku, sikap) dan mentalitas berpikir.

Yang namanya attitude itu bisa mempengaruhi seseorang. Kalau guru ingin menjadi pribadi yang berpengaruh dalam pembelajaran, dia harus mengembangkan cara tertentu dalam pikiran dan persepsi yang mengubah cara guru melihat dirinya dan melihat dunia. Dan ini namanya spirit kepemimpinan (Ray Lewis).

Guru harus belajar mentalitas dan attitude kepemimpinan dalam diri seekor singa. Singa adalah raja hutan. Singa itu memiliki spirit kepemimpinan (Dr. Myle Manroe). Sebenarnya singa itu merupakan sumber inspirasi bagi kita semua termasuk pemimpin. 

Seperti diketahui, singa bukanlah binatang yang paling tinggi, singa bukan binatang yang paling besar, singa bukanlah binatang yang paling berat. Singa juga bukan binatang yang paling pintar atau cerdas di hutan. Tapi singa itu raja, ditakuti oleh semua binatang.

Ketika singa melihat seekor gajah, satu hal yang ada dipikiran singa adalah ‘ini mangsa saya’. Padahal gajah itu mungkin 10 kali lebih besar dari singa, mungkin 50 kali lebih berat. Gajah itu jauh lebuh kuat, bisa jadi satu hentakan kakinya bisa menghancurkan singa.

Tapi sewaktu singa melihat seekor gajah, dia tidak melihat ukuran, besar, berat, kekuatan, tapi singa melihat seekor gajah hanyalah santapan makanan: “Saya bisa makan binatang ini”. Ukuran bukan masalah, beratnya gajah bukan perhatiannya. Dan karena singa berpikir dia bisa makan gajah, dia serang gajah (Dr. Myle Manroe).

Sekarang kenapa singa bisa jadi raja di hutan, padahal singa memiliki banyak kekurangan, singa bukan yang tertinggi, terbesar, terberat, tercerdas, tapi semua lari bila bertemu singa. Ini karena menurut Dr. Myle, singa memiliki attitude. Singa memiliki attitude yang berbeda yang membuat semua binatang takut dengannya.

Semua orang tahu, gajah itu lebih lebih lebar, lebih besar, lebih kuat, lebih berat, lebih cerdas, namun bila gajah melihat singa, gajah akan lari karena pemangsanya sudah mendekat’. Dengan kata lain, gajah itu lari, takut, karena dia dikontrol oleh cara dia berpikir. Dia berpikir dia adalah ‘santapan’ bagi singa. 

Bagi gajah, ukuran, tinggi, kekuatan, besar, kekuasaan yang dimiliki tidak ada artinya. Kesemua keunggulan itu menjadi ‘korban’ dari cara gajah berpikir. Bagi guru, seberapa lengkap sarana pembelajaran, seberapa kuat sinyal internet, sebarapa banyak buku yang tersedia, seberapa sering ikut pelatihan, seberapa lancar TPG ‘cair’, sebarapa rajin ke sekolah, seberapa tinggi pendidikan, seberapa tinggi pangkat dan golongan, seberapa gelar yang dimiliki tidak akan berpengaruh bila pikiran guru ‘kecil’.

Bila keyakinan dan sikap guru masih mengangap siswa itu pemalas, siswa tidak mau belajar, siswa tidak akan mengerti, siswa itu nakal, siswa tidak beretika, siswa tidak ada motivasi, siswa yang tidak buat tugas harus tinggal kelas, siswa tidak belajar kalau bawa HP, maka keyakinan inilah yang membuat kepemimpinan guru di dalam kelas menjadi ‘kerdil’

Sebaliknya, tidak masalah, apakah guru ‘negeri’ atau honorer, berpangkat rendah, belum S1, belum sertifikasi, bergaji rendah, kadang digaji kadang tidak, tidak pernah ikut pelatihan, tidak punya seragam, tidak banyak menguasai teknologi, ber-HP ‘cepek’ dan banyaknya tidak bisa, namun guru ini bisa menjadi pemimpin, pikiran ‘positif’ nya terhadap siswa yang membuat dia jadi pemimpin.

Attitude dan pikiran itu begitu kuat. Ini bisa membuat sesekor gajah bertingkah seperti domba saat kehadiran singa (Dr. Myle Manroe). Begitu juga, gelar yang banyak, gaji yang tinggi, pelatihan ‘kesana kemari’, menguasai teknologi tidak akan berguna bila guru itu masih miliki sikap dan keyakinan yang ‘meremehkan’ kemampuan siswa.

Siswa ‘bodoh dan pemalas’ akan bisa belajar maksimal bila dipimpin oleh guru yang bermental ‘singa’. Sebaliknya, siswa yang pintar dan rajin’ akan menurun prestasinya bila diruang kelas dipimpim oleh guru yang bermental ‘gajah’.

Spirit kepemimpinan guru dalam pembelajaran harus menjadi perhatian semua pihak. Kalau tidak, siswa yang jadi ‘korban’. Wallahu a'lam bish-shawab!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah



Artikel Rekomendasi