Efektivitas Penanganan Bullying (perundungan) Pada Lingkungan Sekolah



Kamis, 24 November 2022 - 17:04:01 WIB



Zayyan Luna
Zayyan Luna

Oleh : Zayyan Luna*

 

 

Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang yang dianggap lebih lemah, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus, adapula semata-mata hanya untuk kepuasan pribadi pelaku bully. Dalam arti sempit bullying ini dapat diartikan sebagai pengusik / pengganggu / perundung.

Bentuk bullying ini banyak macamnya, yang pertama bullying secara kontak fisik langsung (mendorong, menendang, menampar, dan lain lain) , bullying secara verbal ini dilakukan dengan perkataan yang tidak mengenakkan (mengejek, mengolok-olok, memaki, dan lain lain), bullying secara non-verbal yaitu melakukan bullying, tetapi tidak mengenai fisik ataupun melalui perkataan, melainkan dengan sengaja membuat korban merasa terintimidasi (sengaja mengucilkan, sengaja mengabaikan, memasang ekspresi yang merendahkan, menatap dengan sinis). Penyebab dari pelaku pembullyan ini sendiri banyak faktor yang mempengaruhinya mulai dari keluarga, circle pertemanan, dan apa yang di lihat melalui media massa seperti televisi maupun smartphone.

Bullying bagi korban bukan hanya berdampak pada kehidupan sosial melainkan juga berdampak pada psikologis korban. Setelah mengalami pembullyan korban akan mengalami syok karena harus menyesuaikan diri dengan kehidupan yang lebih menekan dirinya. Korban akan mengalami rasa cemas yang berkepanjangan, tidak percaya diri, takut terhadap orang lain, menutup diri dari lingkungan sosial, kehilangan nafsu makan, pola tidur yang tidak beraturan, depresi, bahkan muncul rasa ingin bunuh diri.

Seperti hal nya kasus pembullyan yang baru saja terjadi di Indonesia yang menimpa anak kelas 5 SD berusia 11 tahun di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Kasus pembullyan ini menyebabkan korban meninggal dunia, dikarenakan mengalami kekerasan secara fisik, seksual, maupun psikologis. Dari sini kita mengetahui bahwa kasus pembullyan / perundungan ini banyak terjadi di usia sekolah.

Kasus bullying / perundungan ini adalah contoh pelanggaran sila ke-2 Pancasila "kemanusiaan yang adil dan beradab", karena prilaku nya sudah tidak berprikemanusiaan, hak dan martabat seseorang tidak dihargai, dimana seorang individu diperlakukan tidak setara karena individu lain menganggap dirinya lebih baik dalam segi tertentu. Kemudian bullying juga merupakan pelanggaran sila ke-5 Pancasila "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", karena bullying ini membuat korban diperlakukan tak adil dan diperlakukan seolah-olah dirinya tak berharga, yang membuat lingkungan sekitar pun juga enggan untuk membela atau membantu, bahkan ada pula yang ikut-ikutan merundung korban.

Untuk mengatasi bullying / perundungan di sekolah yaitu dengan mendeteksi tindakan bullying dari awal, memberikan sosialisasi terkait bullying, memberikan dukungan pada korban bully, membuat peraturan yang tegas tentang bullying, memberikan teladan atau contoh yang baik, mengajarkan siswa untuk melawan bullying, membantu pelaku menghentikan perilaku buruknya, dan memberikan sanksi pada pelaku bully agar tidak mengulangi perbuatannya serta membuat efek jera bagi pelaku. Dari keterangan diatas maka diperlukan adanya kolaborasi / kerjasama antar siswa dan pihak sekolah untuk bisa mengatasi perundungan tersebut.

Maka berbagai hal terus dilakukan, seperti halnya Pemerintah Indonesia juga terus melakukan upaya-upaya penanggulangan tindak perundungan di sekolah. Salah satunya adalah dengan menggandeng UNICEF Indonesia untuk bersama-sama membentuk program “Roots”. Roots adalah sebuah program pencegahan perundungan berbasis sekolah yang telah telah dikembangkan oleh UNICEF Indonesia sejak 2017 bersama Pemerintah Indonesia, akademisi, serta praktisi pendidikan dan perlindungan anak.

Program ini di laksanakan disetiap sekolah penggerak, masing-masing sekolah membina 30 siswa / siswi terpilih untuk dilatih menjadi agen anti perundungan. Yang dimana agen (siswa) tersebut dilatih untuk menghadapi pelaku pembullyan, dilatih untuk cara mencegah / mengurangi bullying, dan bahkan dilatih bagaimana cara mengatasi perundungan disekolah.

Jadi penanganan bullying / perundungan di sekolah sangatlah efektif. Apalagi sekarang penanganannya sudah dilakukan melalui siswanya langsung serta berkoordinasi dengan pihak sekolah, yang diharapkan prilaku pembullyan / perundungan akan menjadi berkurang bahkan mungkin perundungan tidak terjadi lagi. Untuk kedepannya semoga kejadian pembullyan ini tidak terjadi lagi karena sebab dan akibat dari kejadian ini sangatlah berdampak pada korban bukan hanya dampak fisik tetapi juga psikologis.(*)

 

 

Penulis adalah : Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Keperawatan*



Artikel Rekomendasi