Impian” Guru di Hari Guru: Berinovasi Mendidik Negeri



Kamis, 24 November 2022 - 12:19:17 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

 

Dalam rangka Hari Guru Nasional (HGN) 2022, bertemakan “Berinovasi Mendidik Negeri”. Tema ini sangat inspiratif dalam memberdayakan, menginspirasi dan menggerakkan guru dalam mendidik anak bangsa.

Semua pihak menyadari bahwa guru merupakan salah satu komponen ‘paling menentukan’ dalam proses pendidikan dan sangat berperan dalam usaha pembentukan karakter anak bangsa. Kualitas guru berpengaruh langsung terhadap keberhasilan siswa dalam belajar dan tentu berdampak pada masa depan siswa.  

Dalam mewujudkan “berinovasi Mendidik Negeri”, guru mengharapkan: pertama, ‘seseorang’ yang datang ke kelas untuk membantu guru dalam proses pembelajaran dan mengajak guru melihat ‘orang’ ini mencontohkan bagaimana proses pembelajaran yang baik. Dengan percaya diri ‘orang’ ini berkata: “Begini cara mengajar yang baik, semua peserta didik semuanya mengerti materi yang saya berikan’.

Kedua, pengelolaan proses pembelajaran meniru gaya ‘mall’. Pintu mall akan dibuka apabila semua personil atau pegawai sudah berada di tempatnya dan sudah siap melayani dan semua peralatan ‘kerja’ semuanya sudah disediakan dan siap digunakan. Idealnya, sekolah juga sebelum proses pembelajaran dimulai, semua peralatan pembelajaran sudah disiapkan termasuk buku yang dipakai, media yang digunakan, bahan yang lain. Bukan sebaliknya, proses pembelajaran dimulai, dimulai pula mencari buku, menyiapkan media dan guru mulai dilatih.

Ketiga jangan terlalu ‘perhitungan’ dalam menghargai profesi guru. Ada aturan yang kelihatannya ‘membuat guru tidak bisa menerima haknya karena urusan ‘sepele’: guru tidak menerima Tunjangan Profesi Guru, jika jam mengajarnya 23,9 jam, padahal energi guru hampir sama bila mengajar 24 jam atau jika jumlah siswa yang diajar 19 siswa, padahal energi guru mengajar 19 siswa hampir sama dengan jumlah siswa 20 (Permendikbud Nomor 17 Tahun 2016).

Itulah guru selalu menjadi ‘subjek’ kebijakan. Semua pihak selalu ingin ‘membantu’ guru untuk bekerja sebanyak banyaknya. Seolah olah kualitas pendidikan sangat tergantung pada kerja guru sendiri. Dan kelihatanya para stakeholder tidak pernah kehabisan ide untuk ‘memperkaya’ beban kerja guru. Selalu ada sesuatu yang baru untuk menambah beban kerja guru.

Sering ditemukan sebagian kebijakan yang tidak bersahabat: 1) ‘terlalu’ terfokus dan peduli pada ‘kehadiran fisik guru’ di lingkungan sekolah, bukan ‘menghadirkan’ kualitas pembelajaran di ruang kelas; 2) kerja dulu baru dilatih, idealnya dilatih dulu baru kerja; 3) urusan kenaikan pangkat yang begitu ‘panjang dan melelahkan’; 

Kemudian, 4) sosialisasi yang tidak selesai, bahkan, suatu kebijakan belum dipahami, sudah muncul kebijakan baru; 5) pelatihan guru yang tidak otentik, terlalu percaya pada ‘the expert theory bukan pada the teacher theory; 6) mementingkan kuantitas jam ‘mengajar’ bukan pada kualitas pembelajaran; 7) penilaian atau pemeriksaan oleh pihak tertentu yang terlalu document oriented, kadang kadang guru sudah melaksanakan aturan itu, tapi tidak ada bukti fisik.

Penelitian yang dilakukan dalam 10 tahun terakhir melalui metode survei membuktikan bahwa setidaknya terdapat 53% dari sampel 2.126 guru di salah provinsi mengalami stres, dari mulai tingkat ringan sampai berat. Hal itu berdampak terhadap mutu pembelajaran yang diampu seperti guru malas dan sering tidak mengajar dengan alasan sakit, sering marah dan mudah tersinggung, mengajar tidak serius dan asal-asalan, serta berbagai efek lain yang ditimbulkan (Dadi dan Daeng: 2013).

Munculnya stres pada guru bukan tanpa alasan. Berbagai tuntutan yang menuntut guru untuk selalu sempurna, tidak boleh salah, siswa yang dididik harus menjadi orang baik, pintar (insan kamil) tapi kadang kadang tidak didukung dengan sarana prasarana yang memadai sedikit banyak memunculkan rasa cemas, gagal, lelah, dan tidak percaya diri terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Secara fisik: kelelahan yang berlebihan dalam mengajar dan menyelesaikan administrasi pembelajaran, dll. 

Stress merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja guru. Stress membuat guru tidak mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan tanggung jawabnya. Karena adanya tekanan dan gangguan yang tidak menyenangkan membuat kinerja tidak optimal (Charles D. Spielberger).

Kalau itu terjadi, stres bisa membuat berbagai pekerjaan guru menjadi terbengkalai, bahkan bisa berdampak pada siswa. Menurut McLean (2015), stres pada guru dapat membuat lingkungan kelas menjadi tidak kondusif. Akibatnya motivasi siswa dalam belajar menjadi turun karena sulit memahami materi yang disampaikan.

Ternyata, guru rupanya tidak lepas dari tekanan. Beban pekerjaan dalam mempersiapkan bahan ajaran sampai beban moral dalam mendidik siswa membuat guru rentan mengalami stres. Sayangnya, kondisi stres ini kerap tidak terdeteksi sampai akhirnya berdampak pada aktivitas mengajar. 

Begitu juga dengan pelatihan yang diikuti guru, sekali lagi guru tidak bebas memilih diklat yang akan diikuti sesuai kebutuhan. Semuanya harus mengikuti apa kata ‘atasan’. Kadang kadang pelatihan itu tidak relevan dengan apa yang dilakukan guru di sekolah, tapi karena ini ‘perintah atasan’, maka wajib diikuti. Masalah materi diklat tidak relevan dengan kebutuhan, itu bukan urusan, yang penting ikut diklat. Akibatnya, pembelajaran sering berbeda dengan materi pelatihan dan tidak berefek positif dengan kebutuhan siswa untuk belajar.

Dalam hal penentuan pimpinan, guru ‘dianggap tidak ada’, Guru tidak perlu ditanya. Guru tidak punya ‘suara’ untuk menyatakan pendapat, apalagi memilih. Guru wajib menerima siapapun Kepala sekolah yang ditunjuk atasan, kalau menolak, langsung ‘dicap’ melawan atasan. Padahal, dalam birokrasi manapun, guru sebagai ‘user’ mestinya ditanya, apakah kepala sekolah yang akan ditetapkan sesuai dengan kondisi sekolah, sesuai dengan kebutuhan sekolah. Minimal berdiagog dengan calon kepala sekolah untuk mengetahui visi misi si calon itu. Setidak berdayakah guru?

Memang tidak mudah menjadi guru, semuanya harus disesuaikan dengan standar tenaga pendidik. Tidak semua orang bisa menjadi guru, guru itu diukur: kualitas ilmu pengetahuannya, kualitas literasinya, kualitas Metodologik, kualitas akhlak dan moral, kualitas emosional dan komunikasi dan kualitas kesadaran kritis

Sudah saatnya guru ‘diajak dan diperkenalkan filosofi “pedagogy of love”, mengundang keingintahuan peserta didiknya, yang dapat melarutkan jiwa siswa pada kesukaan/senang dan akhirnya cinta belajar. Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2022!.(*)

 

 

Penulis adalah: Pendidik di Madrasah*



Artikel Rekomendasi