Birunya Laut TAK sebiru ASA



Sabtu, 01 Oktober 2022 - 08:10:32 WIB



Oleh: Safriani Marbun *

 

 

 

 

Birunya laut dan birunya langit berharap berbanding lurus dengan birunya harapan para nelayan agar mendapatkan rizki berupa hasil tangkapan ikan yang banyak, yang segera bisa mereka bawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, senyum anak dan istri ketika menyambut kedatangan pahlawan keluarga yang berhari-hari atau berminggu-minggu bahkan ada juga yang sampai berbulan bertarung dengan derasnya badai dan ombak yang sewaktu - waktu tiba. 

Tidak jarang kita jumpai dan kita dengar cerita nelayan dalam pertarungan hebat ini. Badai dan ombak mampu memecah kapal. Kerugian materi baik berupa barang dan perbekalan melaut dan nyawa awak kapal adalah taruhannya. 

Besarnya resiko sebagai nelayan sudah tidak dihiraukan oleh mereka yang merupakan pahlawan keluarga, pahlawan masyarakat bahkan pahlawan negri ini demi meraup dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi kebutuhan dan pertahanan kehidupan.

Berangkat melaut, bukan berarti tidak bermodal. Bahkan modal untuk melaut sangat besar. Tergantung jumlah ABK dan tergantung perencanaan berapa lama di laut. Dan sepanjang yang saya tahu bisa mencapai puluhan bahkan 50-an juta rupiah dan nilai ini juga bisa melebihi itu. Kebutuhannya berupa bahan dan perlengkapan tangkapan serta sembako. Selain itu kebutuhan akan BBM berupa solar dan tabung gas untuk bahan bakar memasak di kapal adalah hal yang wajib ada. 

Sebelum BBM naik, nelayan banyak yang mengeluh karena hasil tangkapan terkadang tidak sesuai dengan ongkos melaut. Tidak terbayang saat ini BBM naik lagi dan tidak terbayang jika tabung gas ditarik dan digantikan dengan kompor listrik, bertambahlah problem nelayan dan harapan birunya rijki semakin jauh dari birunya laut dan langit yang indah. 

Ini baru bicara nelayan, bagaimana juga dengan kabar puluhan ribu pedagang kaki lima? Pedagang yang sangat tergantung pada si Melon (gas) untuk membersamainya mencari asa, ada yang mangkal dan tidak sedikit pula yang berpindah-pindah. Jika kebijakan gas elpiji di ganti dengan listrik, lalu bagaimana nasib mereka? Keberadaan mereka justru sangat membantu perputaran ekonomi masyarakat secara nyata.

Duhai negeriku, duhai penguasa negri, janganlah membuat kebijakan yang justru menimbulkan problem baru. Lihatlah derita dan tangis rakyatmu. Bijaklah dalam membuat keputusan dan tidak dengan hawa nafsu dan janganlah sekali-kali menjadi pemimpin yang zalim. Sesungguhnya para pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir...

pemimpin adalah “penjaga” dan “yang diberi amanah” atas bawahannya.

Rasulullah Saw. bersabda: ????????? ????? ??????????? ???? ??????????? “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Pemimpin tidak boleh zalim.

”Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”(QS Asysyura [42]: 42).”Barang siapa yang menipu kami, bukanlah dia dari golongan kami.” (HR Muslim).

Diriwayatkan Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: "Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka neraka tempatnya."

BBM dalam Islam

Dalam Islam, Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan harta milik umum. Karena merupakan harta milik umum yang dibutuhkan oleh rakyat, maka pendapatannya menjadi milik umum. Tanpa membedakan apakah ia kaya atau miskin, perempuan atau laki-laki, anak-anak atau dewasa, dan orang yang bertingkah laku baik atau jahat. Semua warga negara mendapatkan hak yang sama.

Harta milik umum ini, yang tidak bisa secara langsung dimanfaatkan oleh individu manusia. Hal ini karena pengelolaan dan pemanfaatannya membutuhkan usaha dan biaya untuk mengeluarkannya, seperti minyak, barang tambang dan gas. Dalam hal ini, negara lah yang berperan untuk mengelolanya. Hasilnya diperuntukkan untuk kemaslahatan seluruh rakyat dan disimpan di Baitulmal.

Pemimpin bertanggung jawab untuk mendistribusikan hasil dan pendapatannya melalui ijtihad, sesuai hukum syara’. Semua ini dilakukan dalam rangka mewujudkan kemaslahatan seluruh umat.

Adapun hasil dari BBM ini dapat digunakan untuk:

Membiayai kebutuhan yang berhubungan dengan hak milik umum, seperti: Pos hak milik umum, kantor, sistem pengawasan dan pegawai nya, bangunan.

Memfasilitasi para peneliti dan orang-orang demi menemukan eksplorasi minyak bumi, tambang atau gas, teknisi, dan lain-lain.

Membeli berbagai peralatan dan membangun berbagai macam industri.

Oleh karena itu, negara berwenang menggunakan hasil BBM yang juga menjadi harta milik umum tersebut untuk hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan. Khalifah juga berhak membagikan harta milik umum kepada pihak-pihak yang memerlukannya untuk digunakan secara khusus di rumah-rumah seperti: air, listrik, minyak bumi, dan gas. Jika diperlukan, Khalifah bisa menjual harta milik umum kepada rakyat dengan harga yang murah. Keuntungan dari hasil pengelolaan BBM tersebut juga bisa dinikmati rakyat sesuai kebijakan Khalifah.

Dari sini, negara harus secara mandiri mengelola sumber daya alam khususnya BBM tanpa campur tangan pihak asing seperti yang kerap terjadi dalam sistem sekuler liberal.

Jelaslah hukum yang lahir dari hawa nafsu manusia melalui sistem kapitalis tidak akan pernah mampu mengatasi dan mengurai masalah ummat dan juga tidak mampu melahirkan pemimpin yang amanah. Sudah saatnya kita 'bebas' dari penyembahan produk buatan manusia dan kembali pada fitrah hanya padaNya 'Allah SWT'.(*)



Artikel Rekomendasi