Sebuah Refleksi Tentang Guru, ‘digugu dan ditiru’



Jumat, 26 Agustus 2022 - 14:24:58 WIB



Oleh: Rizky Takriyanti, M.Pd*



Tidak asing lagi rasanya jika kita mendengar istilah bahwa guru adalah seorang yang digugu dan ditiru. Itu menandakan bahwa guru merupakan tauladan bagi siswanya baik itu yang bersifat ucapan maupun berupa tindakan yang akan menjadi perhatian dan menjadi contoh bagi siswa-siswinya untuk ditiru. Terlebih lagi dengan tuntutan orang tua yang mempercayai penuh dengan falsafah tersebut yang dihembankan kepada guru yang merupakan tauladan bagi siswanya.

Sebagai orang tua, tentu sekolah merupakan jembatan untuk membuat anak-anaknya menjadi lebih baik. Sekolah juga merupakan wadah yang dianggap penting oleh orang tua dalam memberikan pembelajaran bagi anak-anaknya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Daryanto, (1994), sekoah merupakan sebuah bangunan atau lembaga sebagai tempat untuk belajar, dan menerima sekaligus memberi pelajaran. Oleh sebab itu, karena sekolah merupakan sebuah lembaga yang dijadikan tempat untuk belajar dan memberi pelajaran tentu ini menjadi tugas seorang guru sebagai tenaga pendidik di sekolah untuk memberi pelajaran dan mendidik siswanya.

Menjadi seorang guru merupakan profesi yang paling mulia dan berkewajiban dalam mendidik anak bangsa dengan cara menyalurkan ilmu dan pengalaman dengan siswanya. Tak heran jika guru juga dikatakan sebagai orang tua kedua yang dipercayai oleh orang tua siswa untuk mendidik anak-anaknya.

Berbicara tentang guru dan orang tua, tentu tidak ada guru dan orang tua yang ingin anak-anaknya gagal, sebaik mungkin akan terus ada upaya yang dilakukan dalam mendidik anak agar mendapatkan prestasi yang membanggakan. Karena tujuan guru dan orang tua itu sama, yaitu anak mendapatkan haknya dalam dunia pendidikan.

Memahami peranan seorang guru tentu kita menyadari bahwa berstatuskan sebagai guru itu merupakan garda terdepan di dunia pendidikan dalam rangka memberikan pembelajaran yang bertujuan mencerdaskan generasi anak bangsa. Nawawi, (2015) berpendapat bahwa guru merupakan orang dewasa yang memiliki perannan berkewajiban memberikan pendidikan kepada siswanya.

Kembali kita bernostalgia dengan pernyataan seorang tokoh pendidikan sebagaimana Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa peranan seorang guru adalah jika di depan menjadi contoh, jika di tengah membangkitkan hasrat untuk belajar, dan jika di belakang memberi dorongan. Dalam bahasa lainya yang sangat fenomenal yaitu Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Kendaati demikian, kalimat ini tak asing lagi bagi guru, tetapi perlu diingatkan kembali agar roh semangat seorang guru kembali kepada khitohnya yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai tenaga pendidik yang diakui atas keprofesionalannya.

Jika menyoalkan tentang tugas dan tanggung jawab seorang guru kepada siswa, tentu guru memiliki tugas seperti memberikan pengawasan, memberi nasehat dan memberikan pendidikan yang sifatnya mencerdaskan generasi anak bangsa. Namun tugas dan tanggung jawab itu rentan terabaikan karena falsafah guru adalah seorang yang digugu dan ditiru memiliki makna yang mendalam. Oleh sebab itu guru memiliki kewajiban penuh dalam menghemban tugasnya serta bertanggungjawab atas keprofesiannya.

Falsafah yang tertanam dalam profesi seorang guru bukanlah merupakan kalimat yang dianggap formalitas, ini menjadi kesaksian bahwa apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa yang dirasakan oleh murid dari gurunya itu merupakan asupan yang akan diserap oleh muridnya untuk ditiru. Dengan demikian sebagai seorang guru bukan hanya mampu menjaga profesionalitas, melainkan diiringi dengan proporsionalitasnya agar lebih terjaga dihadapan siswa karena ini merupakan tuntututan yang diamanahkan bagi seorang guru.

Berstatuskan sebagai seorang guru yang diakui atas keprofesianya memiliki tuntutan yang dijadikan persyaratan seperti memahami materi yang akan diajarkan kepada siswa, memiliki kemampuan dalam bidang mengajar, dapat membuat perencanaan yang baik sekaligus melakukan evaluasi atas apa yang telah diprogramkan yang sesuai dengan bidang keilmuannya.

Melihat dari apa yang menjadi tuntutan sebagai seorang guru, tentu ini memerlukan persiapan yang lebih matang agar semua yang menjadi tuntutanya dapat diaplikasikan dengan baik. Namun, masih ada ditemukan guru yang mengabaikan atas status keprofesianya sebagai guru, tentu banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi seperti ketidak siapan guru dalam memahami materi, terjadinya konflik antara sesama, kecemburuan sosial dan bahkan kesejahteraan yang tidak sesuai dengah apa yang semestinya.

Tentu itu bukanlah menjadi suatu alasan yang menyebabkan terabaikannya tugas dan tanggung jawab seorang guru sehingga terhimbas kepada siswanya yang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan.

Dengan demikian, berstatuskan sebagai guru merupakan tugas yang paling mulia. Mengedepankan keikhlasan dalam mendidik, bertujuan mencerdaskan generasi anak bangsa dan menjadi tauladan bagi siswanya. Karena kiprah seorang guru diakui sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

 

 

Penulis adalah: Alumni PBI Pascasarjana Universitas Jambi



Artikel Rekomendasi