Mahasiswa, Karya Ilmiah Dengan Segala Pembaharuanya



Kamis, 23 Juni 2022 - 17:57:09 WIB



Oleh: Fransisko Chaniago, M.Pd*

 

 

Menjadi seorang pelajar dengan sebutan mahasiswa, karya ilmiah merupakan teman sejati dalam kehidupan seharianya. Baik itu berupa tugas makalah, mereview  jurnal dan bahkan dihadapkan dengan membuat proposal skripsi/skripsi ketika menduduki bangku perkuliahan di akhir semester untuk memperoleh gelar strata satu (1) atau menyandang gelar kesarjananya.

Tidak heran lagi jika hal tersebut menjadi suatu kecemasan yang menakutkan bagi mahasiswa ketika dihadapkan dengan pembuatan karya ilmiah tersebut. Hal ini dapat dilihat dari tingkat keperdulian mahasiswa yang selalu menyia-nyiakan perkuliahan, tidak memperhatikan materi yang telah disampaikan oleh dosen dan tidak mengindahkan apa yang telah disarankan oleh dosenya.

Berstatuskan sebagai mahasiswa, semakin maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi seolah-olah melahirkan ghuyonan dikalangan mahasiswa bahwa buku bukan lagi dikatakan sebagai jendelanya dunia, melainkan google lah merupakan pintunya dunia yang selalu memberikan kemudahan untuk mencari informasi-informasi terkait apa yang dibutuhkan.

Namun faktanya, google disalahgunakan untuk menciptakan sesuatu yang instan sehingga ditemukanya kecurangan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam pembuatan karya ilmiahnya. Dalam hal ini seperti mengkopas atau melakukan tindakan plagiasi. Tentu ini merupakan penyakit menahun yang mendarah daging selalu terulang dikalangan mahasiswa dari generasi ke generasi selanjutnya.

Kendati demikian, hal itu dapat diketahui dengan malakukan pengecekan melalui aplikasi turnitin. Melansir laman WITT, Turnitin merupakan sebuah tool pencocokan teks yang dijadikan sebagai pembanding orisinalitas karya tulis dengan berbagai sumber baik itu terdapat di Internet, seperti artikel, jurnal, buku, dan lain-lain.

Dalam beberapa tahun ini, lembaga pendidikan perguruan tinggi telah menerapkan penggunaan turnitin untuk mengoreksi karya ilmiah yang telah dibuat oleh mahasiswa. Tentunya kebijakan ini merupakan langkah yang tepat demi terciptanya publikasi-publikasi Ilmiah mahasiswa yang terjamin kualitasnya.

Beberapa contoh kasus yang pernah terjadi dimana kampus belum menerapkan publikasi karya ilmiah mahasiswa dalam hal ini skripsi sebagai salah satu syarat utama dalam menyandang gelar kesarjanaanya ditemukan masih ada yang  melakukan penelitian yang sama, memindah lokasi penelitian atau skripsi yang sudah di sidangkan di bahas kembali di tahun yang akan dating. Ini merupakan kesalahan fatal yang terjadi dalam dunia akademis.

Namun dengan perkembanganya, tentu saat ini kampus telah menerapkan publikasi di internet untuk skripsi mahasiswa di perguruan tinggi masing-masing yang mana dapat di akases dan dibaca oleh khalayak ramai sebagai salah satu langkah untuk menghindari terjadinya plagiasi yang dilakukan oleh mahasiswa melalui pengecekan menggunakan turnitin.

Dengan demikian, ini menjadi PR terbesar bagi mahasiswa untuk memainkan nalarnya agar karya ilmiah yang telah dibuat melahirkan sumbangsih pemikiran yang dituangkan pada karya ilmiah yang telah dibuat.

 Turnitin juga akhir-akhir ini menjadi momokan dan kecemasan dikalangan mahasiswa, sehingga melahirkan ketidak percayaanya terhadap karya ilmiah yang ia buat, bisa saja mareka menyadari bahwa karya ilmiah yang mareka buat lebih banyak plagiasinya dibanduingkan dengan orisinalitas dari diri mareka sendiri. Bahkan mahasiswa banyak yang mencari jalan pintas dengan membayar orang lain untuk mengurangi hasil plagiasinya.

Membuat karya ilmiah bukan hanya sekedar menyalin apa yang ada di dalam buku, melainkan memberikan sumbangsih pemikiran atau ide pemikiran. Begitu juga ketika mencantumkan pendapat orang lain atau mancantumkan rujukan-rujukan yang kita gunakan tentu dalam rangka menghindari plagiasi tersebut hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa adalah mengambil intisari dari rujukan tersebut dengan mengulang narasi dengan bahasa dan pemikirian sendiri tanpa keluar dari inti sari rujukan tersebut. Bahasa lainya yaitu melakukan paraphrase. Paraphrase dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary diartikan sebagai mengekspresikan karya atau tulisan yang ditulis oleh orang lain.

Dalam melakukan paraphrase tidak semudah membalikan telapak tangan bagi mahasiswa yang malas membaca. Tetapi tidaklah sulit bagi mahasiswa yang rajin membaca, karena membaca bukan saja menambah ilmu pengetahuan melainkan melahairkan kosa kata-kosa kata baru dalam mengekspresikan tulisan orang lain atau menarasikan pendapat orang lain sesuai dengan kosa kata yang dimiliki.

Terlebih lagi dalam pembuatanya, pembuatan karya ilmiah akhir-akhir ini sudah menjadi keharusan untuk menggunakan manajemen referensi dalam rangka mengikuti perkembangan. Adapun contoh manajemen referensi ini seperti aplikasi Mendeley, Zotero, EndNote, RefWorks, Reference Manager, dan CiteULike.

Wabilkhususnya perguruan tinggi yang ada di Indonesia lebih dominan menggunakan aplikasi mendeley. Menurut Salija (2017) Mendeley merupakan perangkat gratis berbasis desktop, web dan mobile digunakan untuk mengatur sitasi penelitian dari annotating paper format PDF. Mengadaptasi web 2.0. Mendeley mampu mengintegrasikan manajemen artikel penelitian dengan fitur media sosial untuk berkolaborasi dengan peneliti lain di seluruh dunia. Tentu aplikasi ini merupakan sesuatu yang baru di telinga mahasiswa sehingga harus membiasakan diri untuk mengikuti sesuai dengan perkembangan dalam menunjang pembuatan karya ilmiahnya yang akan dibuat oleh mahasiswa.

Dengan demikian, berstatuskan sebagai mahasiswa tentu harus siap menerima perubahan yang terjadi dalam pembuatan atau penulisan karya ilmiahnya dengan memahami beberapa pembeharuan yang terjadi dalam aturan yang telah dibaut oleh perguruan tinggi masing-masing.(*)




Penulis adalah: Dosen Manajemen Pendidikan Islam UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi*



Artikel Rekomendasi