Beradab Dulu



Sabtu, 15 Januari 2022 - 11:08:24 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Kalau kita tanya diri: mana yang lebih nyaman bila berbicara dengan orang yang berilmu tapi kurang beradab, atau orang yang beradab tapi ilmunya kurang. Diyakini kita cenderung memilih orang yang beradab yang berilmu kurang, minimal kita akan diperlakukan secara sopan. 

Dirasakan, kita hari hari ini terlalu banyak mengutamakan ilmu ‘keras’ sampai lupa mempelajari adab (soft skill). Coba kita lihat, banyak yang sudah mapan ilmu ilmu umum, agama, sains dan teknologi, tapi banyak kita saksikan adab kita ke orang tua, kerabat, tetangga dan saudara bahkan terhadap guru sendiri jauh dari yang dituntunkan.

Dalam beberapa bulan terakhir, dunia pendidikan diguncang berbagai isu tidak sedap. Terakhir, kekerasan seksual yang dialami murid salah satu pesantren. Ada juga perbuatan tidak terpuji di beberapa perguruan tinggi. Pelaku dan korban relatif sama. Guru-murid, santri, dosen-mahasiswa.

Survei Ditjen Diktiristek (2020) mengungkapkan, 77 persen dosen menyatakan kekerasan seksual pernah terjadi di kampus dan 63 persen dari mereka tidak melaporkan kasus yang diketahuinya kepada pihak kampus. Dari kasus yang diadukan ke Komnas Perempuan (2015-2020), 27 persen terjadi di universitas, 19 persen di pesantren atau pendidikan berbasis Islam, 15 persen di tingkat SMA/SMU, 7 persen di tingkat SMP. Tak kalah memprihatinkan, 12 persen terjadi di TK, SD, SLB dan pendidikan berbasis Kristen (Republika). 

Kelihatannya, dunia pendidikan kita yang idealnya tempat membangun adab justru ternoda aksi tidak terpuji. Guru, siswa, ustaz, dan dosen yang seharusnya menjadi sosok teladan justru menjadi tokoh utama dari perilaku tidak terpuji itu. Lembaga pendidikan justru menjadi tempat subur tidakan tidak terpuji. Ini sangat mengkhawatirkan.

Harus diakui, dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Tindakan tidak terpuji yang terus berulang bukanlah masalah sepele. Ada yang berubah dalam kegiatan pembelajaran yang mengutamakan secara berlebihan pada aspek pendalaman ilmu dan keahlian dalam menjawab pertanyaan. Boleh dikatakan profil siswa hanya dilihat dari kuantitas dan kualitas menjawab soal.

 Jika sekolah/madrasah adalah tempat belajar, lantas kenapa banyak peristiwa tidak terpuji terjadi. Sekolah/madrasah pun harus berani menunjukkan jati diri sebagai tempat bersemai sebuah peradaban yang menjunjung tinggi adab dan perilaku terpuji. Tempat ini harus didisain untuk menjadi tempat gerakan moral dan akhlak terpuji. Warga sekolah/madrasah harus menjadi fasilitator dan disainer terciptanya manusia-manusia yang mengedepankan adab dalam bertindak agar tercipta komunitas yang bermartabat.

Oleh karena itu, menjadi pendidikan yang beradab harus mendapat perhatian utama, tanpa mengabaikan pemerolehan ilmu ilmu lain. Pendekatan pembelajaran masih berorientasi pada ujian, siswa dituntut menjawab pertanyaan dengan benar agar memenuhi skor minimal satuan pendidikan tetap dijalan dan diperkaya dengan penanam nilai nilai adab kepada peserta didik.

Sudah waktunya kita mengurangi format belajar yang lebih berorientasi pada ilmu bukan sebatas pengetahuan. Sudah tidak zamannya pendekatan pembelajaran ditekankan pada penguasaan materi. Nilai akhir bukan akumulasi pengetahuan tetapi seberapa hapal, seberapa banyak yang sudah dipelajari yang dibandingkan dengan nilai KKM. Nilai akhir siswa hanya ‘diteropong’ dari lembaran jawaban siswa, sedikit sekali yang menganalisis rekam jejak perilaku siswa.

Diharapkan, pelajaran agama bukan semata untuk mengenal, mengetahui dan menguasai pengetahuan materi (learning to know). Alquran hanya dihafal secara lisan, dihapal ‘di luar kepala’ tapi harus juga diiringi dengan memahami makna, dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari. Memang tidak salah ayat ayat Al-qur’an dihafal, inshaallah mendapat pahala, tapi yang paling penting bagaimana menjiwai ayat ayat itu untuk kehidupan kita.

Begitu juga, terjadi pergeseran ‘tugas’ keguruan, dengan kemajuan teknologi, guru ‘hebat’ hanya diminta menjadi fasilitator pembelajaran. Guru hanya sebatas memfasilitasi siswa untuk belajar, menggerakkan siswa untuk berperan dalam setiap kegiatan pembelajaran. Guru ‘profesional’ dituntut mampu mendemonstrasikan kemampuan mengajar terkini pendekatan saintifik: inquiry, discovery learning, problem based dan project based learning. 

Dianggap guru ‘kuno’ bila tidak mengintegrasikan teknologi dan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran. Padahal, tugas guru yang kurang mendapat perhatian adalah adab based learning, pembelajaran yang menempatkan adab sebagai tujuan akhir pembelajaran. Adab ini tidak bisa hanya mengnadalkan teknologi tapi ini hanya bisa diberikan dengan mencontohkan dalam pembelajaran.

Kebanyakan guru banyak ‘membuat contoh’, atau memberi contoh, padahal siswa mengingin tindakan langsung dari guru dalam beradab dengan mencontohkan tanpa rekayasa. Peran guru sebagai partner yang tercermin pada kepribadian utama yang digugu dan ditiru. Pada hari hari ini, relasi dengan guru dan siswa ‘dipaksakan’ harus akrab, sehingga membuat wibawa guru cenderung berkurang. Akibatnya, siswa relatif bebas melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan abab dan kebiasaan yang berlaku. 

Oleh karena itu, diharapkan juga ada revitalisasi pengawasan dari pihak berwenang. Selama ini, pengawas pendidikan hanya ‘mau’ memeriksa dokumen administasi terkait kurikulum, khususnya perangkat pembelajaran guru. Pembinaan adab dan kepribadian nampaknya belum menjadi bagian utama dalam supervisi dan monitoring pendidikan.

Kita lupa bahwa hakikat pendidikan adalah proses pembentukan adab. Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20/2003 disebutkan, pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa.

Secara regulasi, pendidikan karakter memiliki landasan hukum kuat, antara lain diatur dalam Inpres 12/2016 tentang gerakan nasional penguatan revolusi mental, Perpres 87/2017 tentang pendidikan karakter, dan Permendikbud Nomor 20/2018 tentang penguatan pendidikan karakter.

Tak kalah penting, mengembalikan posisi guru sebagai agen ilmu dan akhlak. Sudah saatnya, pengawasan guru idealnya ditambah porsi pada kepribadian guru, bukan sebatas kompetensi profesional dan akademik. Pembiasaan sikap terbuka dan keberanian berkata "tidak" terhadap hal yang bertentangan dengan ilmu dan akhlak, perlu perhatian lebih serius. 

Rasanya perlu dicampamkan: Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.” (Yusuf bin Al Husain). “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”( Ibnul Mubarok). Jadi jangan abaikan adab.

Adab akan membuat jiwa kita tenang, bersikap dan bertutur santun, berperilaku akrab dan ramah dalam bergaul dan akan mempermudah segala urusan. Inshaallah!(*)

 

 

Penulis adalah Pendidik di Madrasah*



Artikel Rekomendasi